
MALANG POST – Hari ini, pagi yang cerah terasa begitu berbeda. Seragam baru, sepatu baru, tas baru, dan semangat yang juga baru.
Ya, inilah hari pertama masuk sekolah, sekaligus pembukaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) atau masa taaruf siswa madrasah (Matsama).
Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi momen yang penuh makna.
Masa pengenalan lingkungan sekolah atau masa taaruf untuk siswa madrasah menjadi awal perjalanan penting dalam hidup anak-anak.
Di gerbang sekolah, orang tua menatap penuh harap saat melepas langkah kecil anak-anak mereka. Dalam diam, banyak hati yang berdoa,
“Semoga kelak menjadi anak yang sukses, berilmu, dan berakhlak mulia.”
Tak jarang, ada pula air mata yang menetes pelan, bukan karena sedih, melainkan karena haru melihat buah hati tumbuh dan memulai fase baru dalam hidupnya.
Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya.
Mereka rela berkorban waktu, tenaga, dan biaya demi memastikan anak-anak mereka mendapatkan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung perkembangan mereka.
Bagi anak-anak, terutama yang baru lulus taman kanak-kanak, masa sekolah dasar adalah masa yang sangat dinanti sekaligus menegangkan.
Emosi mereka campur aduk antara senang memiliki teman baru, penasaran dengan suasana kelas, hingga takut berpisah dari orang tua. Mereka sedang belajar mengenal lingkungan baru yang akan menjadi rumah kedua mereka.
Namun, orang tua perlu mengingat bahwa sekolah bukanlah satu-satunya faktor penentu masa depan. Keberhasilan anak tidak semata ditentukan oleh sekolah, melainkan oleh bakat dan minat yang diasah dengan kasih sayang keluarga.
Sekolah adalah tempat menumbuhkan pengetahuan dan karakter, sedangkan keluarga adalah tempat menumbuhkan cinta dan rasa aman yang akan menjadi fondasi kokoh bagi masa depan mereka.
Bagi seorang siswa, terutama mereka yang baru saja lulus taman kanak-kanak, masa sekolah dasar adalah momen yang dinanti sekaligus mendebarkan.
Ada emosi bercampur aduk; senang, penasaran, tapi juga takut. Mereka akan bertemu teman-teman baru, menghadapi guru-guru baru, dan beradaptasi dengan lingkungan yang jauh lebih besar dari sekolah sebelumnya.
Bahkan, tidak sedikit anak yang masih homesick, menginginkan ayah dan ibu membersamainya.
Di sinilah pentingnya mengingat bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi anak, sedangkan rumah utama adalah keluarga.
Pendidikan di sekolah akan berjalan optimal jika didukung oleh kasih sayang, komunikasi hangat, dan pendampingan orang tua di rumah.
Namun, satu hal yang perlu disadari bersama, keinginan orang tua harus tetap relevan dengan kemampuan dan bakat anak.
Sekolah bukan pabrik yang mencetak anak-anak menjadi pribadi yang sama atau superior di segala bidang.
Setiap anak memiliki keistimewaan dan bakatnya sendiri. Sekolah hanya berperan sebagai tempat untuk mengasah bakat dan menumbuhkan karakter mereka, bukan menentukan masa depan mereka secara sepihak.
Hari ini, ribuan siswa di seluruh Indonesia memulai langkah baru. Ada banyak doa dan harapan yang menyertai perjuangan penerus generasi bbangsa ini.
Mari kita ingat, yang terpenting bukan hanya nilai akademik yang tinggi, melainkan keberhasilan mereka menjadi manusia yang utuh, berilmu, berakhlak, dan bahagia menjalani kehidupannya di kemudian hari.
Selamat datang di dunia sekolah, anak-anak hebat Indonesia. Masa depan ada di tangan kalian, dan tugas kami, para orang tua dan guru, adalah menemani serta menuntun kalian dengan penuh cinta. (*)
Penulis: Suhardi, S.Pd.,M.Pd.
Staf Seksi Humas UM (Peraih Bronze Winner Anugerah Diktisaintek 2024 Kategori PTNBH Subkategori Insan Humas)