
MALANG POST – Musim tanam kali ini bukan musim yang ramah bagi para petani tomat di Kota Batu. Cuaca yang tak menentu membuat sebagian besar tanaman rusak sebelum sempat dipetik. Namun di balik itu semua, ada satu kabar baik, harga tomat melonjak tinggi, bahkan tembus Rp23 ribu per kilogram di tingkat petani.
Petani tomat asal Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Rudi, adalah satu dari sekian banyak petani yang menghela napas lega, meski panennya tak maksimal.
“Tanamannya banyak yang rusak karena cuaca tak menentu. Tapi kami tetap bersyukur, harga tomat sekarang tinggi. Jadi tetap ada untungnya,” ujarnya, Selasa (8/7/2025).
Harga tomat biasanya hanya berkisar antara Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. Namun dalam beberapa hari terakhir, lonjakan harga terjadi secara tiba-tiba. Ini bukan tanpa sebab. Menurut Rudi, faktor cuaca jadi penyebab utamanya. Banyak petani yang gagal panen, sehingga pasokan di pasar merosot.
“Kalau pasokan turun, otomatis harga naik. Ya, hukum pasar biasa lah,” ujarnya.

MELAMBUNG: Harga tomat di Kota Batu melambung tinggi, dipengaruhi karena kondisi cuaca yang tak menentu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Namun bukan berarti semua petani bisa menikmati berkah harga tinggi ini. Sebab, tantangan cuaca tak menentu bukan cuma soal gagal panen. Biaya perawatan juga ikut membengkak.
“Cuaca tak menentu rawan penyakit. Kami harus lebih sering semprot pupuk daun dan insektisida. Kalau biasanya cukup seminggu sekali, ini bisa sampai tiga kali. Kalau telat semprot, daunnya kuning terus busuk,” katanya.
Selain itu, intensitas hujan yang tinggi belakangan ini juga membuat lahan jadi becek dan sulit dijangkau. Para petani harus ekstra hati-hati saat memanen, agar tomat tidak jatuh dan pecah. Sebab begitu rusak sedikit saja, harganya bisa jatuh drastis. Bahkan tidak laku.
Lebih lanjut, dengan harga jual Rp23 ribu per kilogram, petani seperti Rudi mengaku bisa mengembalikan biaya produksi, bahkan meraup sedikit keuntungan.
Jika hasil panen bagus dan harga stabil, petani masih bisa tersenyum sampai musim tanam berikutnya. Namun musim ini jelas bukan musim yang nyaman. Tanaman tomat lebih banyak berjuang melawan cuaca, dibanding tumbuh dengan tenang. Beberapa petani bahkan sudah mulai berpikir ulang untuk menanam tomat di musim berikutnya, jika pola cuaca masih tidak bersahabat.
Di tengah naik turunnya harga, cuaca, dan hasil panen, satu hal yang tak berubah dari petani seperti Rudi adalah semangat. Meski hujan terus, meski ladang becek, meski harus tiga kali semprot dalam seminggu, mereka tetap berangkat ke ladang sejak pagi. Menjaga tanaman tomat yang tinggal sedikit, berharap panen berikutnya lebih ramah.
“Yang penting tetap semangat. Soal cuaca, itu urusan Tuhan,” tutupnya. (Ananto Wibowo)