MALANG POST – Kantor Perwakilan Bank Indonesia, bersama Pemerintah Daerah Kota Malang dan Kota Probolinggo, sukses mengendalikan tekanan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Oktober 2026, yang bergerak melandai masing-masing sebesar 0,06% (mtm) dan 0,04% (mtm), di bawah rata-rata Jawa Timur dan nasional, Jumat (06/11/2026).
Stabilitas daya beli masyarakat di wilayah Jawa Timur, pada pembuka kuartal keempat tahun 2026 terjaga rapat.
Menginjak awal November 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Oktober 2026.
Dua kota sentra ekonomi utama—Kota Malang dan Kota Probolinggo—mencatatkan performa pengendalian inflasi yang sangat memuaskan.
Secara umum, angka inflasi bulanan (month-to-month/mtm) di kedua kota tersebut, bergerak melandai jika dibandingkan dengan performa bulan September sebelumnya.
Kota Malang membukukan inflasi bulanan sebesar 0,06% (mtm), melambat cukup jauh ketimbang capaian September yang menyentuh angka 0,27% (mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kota Malang berada di level 2,93% (yoy).
Sementara itu, Kota Probolinggo mencetak inflasi bulanan sebesar 0,04% (mtm), melandai dibanding bulan sebelumnya yang berada pada angka 0,20% (mtm).
Laju inflasi tahunan Kota Probolinggo terkunci di angka 2,62% (yoy).
Capaian inflasi tahunan di kedua kota tersebut terbilang sangat prima.
Sebab, posisinya kompak berada di bawah angka inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 3,09% (yoy) maupun rata-rata inflasi nasional sebesar 3,23% (yoy).
Seluruh pergerakan angka ini masih aman di dalam koridor target sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy).
Cabai Merah dan Beras Pemicu Utama
Meskipun laju angka umum melandai, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi motor utama pendorong tekanan harga di kedua wilayah.
Di Kota Malang, kelompok bahan makanan memberikan sumbangan andil inflasi sebesar 0,07% (mtm).
Komoditas utama yang mengerek kenaikan harga adalah cabai merah dengan andil 0,06% (mtm), disusul beras 0,03% (mtm), serta tomat dan cabai rawit masing-masing 0,02% (mtm).
Komoditas pendukung seperti labu siam atau jipang turut memberi andil sebesar 0,01% (mtm).
Lonjakan harga cabai merah di Malang, dipicu oleh berkurangnya pasokan pascapanen raya serta distribusi regional yang belum merata.
Sementara kenaikan harga beras dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan Gabah Kering Panen (GKP) menjelang penutupan musim kemarau.
Adapun ketersediaan air yang terbatas di area sentra produksi menekan hasil panen tomat dan labu siam.
Skenario serupa melanda Kota Probolinggo, di mana kelompok makanan dan minuman memberikan andil inflasi sebesar 0,04% (mtm).
Tekanan utama bersumber dari kenaikan harga cabai merah dengan andil 0,04% (mtm), daun bawang 0,03% (mtm), serta tomat 0,02% (mtm) akibat siklus pasokan kemarau.
Menariknya, Probolinggo juga menghadapi lonjakan tarif rumah sakit sebesar 0,02% (mtm) akibat kenaikan harga bahan medis di tingkat distributor.
Faktor cuaca dan gelombang tinggi air laut juga menekan hasil tangkapan nelayan, sehingga komoditas ikan bayar menyumbang andil inflasi sebesar 0,02% (mtm).
Penahan Deflasi Ayam dan Emas
Tekanan inflasi yang lebih tinggi di kedua daerah berhasil ditahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama (deflasi).
Di Kota Malang, penahan utama laju inflasi disumbang oleh penurunan harga emas perhiasan dan daging ayam ras yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,03% (mtm).
Komoditas semangka turut memberikan andil deflasi 0,02% (mtm), disusul telur ayam ras dan alpukat masing-masing 0,01% (mtm).
Penurunan harga emas perhiasan mengekor tren melemahnya harga emas batangan dunia.
Sedangkan harga daging ayam dan telur terseret turun akibat melimpahnya stok live bird di tingkat peternak yang belum terserap optimal oleh pasar pascanormalisasi permintaan warga.
Kondisi pasokan berlebih ini juga terjadi di Kota Probolinggo.
Penurunan harga daging ayam ras di Probolinggo menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,11% (mtm).
Disusul komoditas ikan tongkol dengan andil 0,06% (mtm), emas perhiasan 0,04% (mtm), serta semangka dan telur ayam ras masing-masing 0,02% (mtm).
Penurunan harga telur di Probolinggo terbantu oleh operasi Pasar Murah yang menggelontorkan 100 kilogram telur ayam seharga Rp 23.000 per kilogram.
Sinergi Strategi 4K dan Gerakan GPIPS
Terjaganya stabilitas IHK di Kota Malang maupun Kota Probolinggo tidak terlepas dari konsistensi sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia.
Kedua Pemda secara aktif mengimplementasikan kerangka kerja strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, serta Komunikasi Efektif.
Di Kota Malang, TPID memfokuskan penguatan stabilitas lewat pemantauan harga berkala serta penggelaran Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk beras, gula, minyak goreng, dan tepung.
Pemantauan pasokan energi juga dirutinkan guna menjaga ekspektasi inflasi di tingkat warga.
Sementara TPID Kota Probolinggo tampil inovatif dengan mengoperasikan toko pengendalinya, Kopi Siaga (Toko Pengendali Inflasi Harga).
TPID Probolinggo juga menyusun infografis neraca pangan mingguan sebagai basis rujukan kebijakan dan aktif mengikuti Rakornas Kemendagri.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemda di Malang Raya dan Probolinggo berjanji terus mengencangkan sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS).
Langkah integratif ini diyakini mampu menjaga ekspektasi harga, melindungi daya beli warga, dan mengawal keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. (Ra Indrata)




