MALANG POST – Strategi bundling antartaman rekreasi antara Taman Rekreasi Selecta dan Mikutopia sukses mendongkrak kunjungan wisatawan hingga tumbuh lebih dari 20 persen (YoY) per Oktober 2026 di Batu, guna memperluas basis pasar menengah ke bawah di tengah penurunan bisnis hotel dan MICE.
Strategi paket bundel (bundling) antartaman rekreasi mulai menunjukkan dampak positif bagi industri pariwisata Kota Batu. Salah satunya, kolaborasi Taman Rekreasi Selecta dengan Mikutopia menjadi terobosan yang mampu mendongkrak kunjungan wisatawan sekaligus memperluas pasar kedua destinasi.
Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan ke Selecta tumbuh lebih dari 20 persen secara year on year (YoY) hingga Oktober 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut tercatat pada sektor taman rekreasi.
Sementara itu, bisnis restoran Selecta juga mengalami pertumbuhan hampir 20 persen. Menurut Sujud, peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Selecta.
“Munculnya sejumlah destinasi wisata baru di Kota Batu turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan sektor pariwisata. Persaingan antardestinasi justru bisa menjadi peluang untuk memperluas pasar wisata,” katanya, kemarin.
Sujud mencontohkan, jika sebelumnya kunjungan wisatawan banyak tersedot ke kawasan Pujon, kini distribusi pasar mulai lebih berimbang. Kehadiran Mikutopia menjadi salah satu faktor yang ikut mengubah peta kunjungan wisata di kawasan tersebut.
“Kalau dulu banyak disedot dari wisata di wilayah Pujon. Sekarang sudah mulai berimbang dengan keberadaan Mikutopia,” ujarnya.
Namun, pertumbuhan taman rekreasi belum sepenuhnya diikuti sektor perhotelan. Sujud yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menyebut, kondisi bisnis hotel masih cenderung stagnan, bahkan menunjukkan gejala penurunan sejak tahun lalu.
Tekanan paling terasa pada hotel berbintang empat dan lima. Segmen tersebut dinilai lebih berat dalam mendatangkan wisatawan dibandingkan dengan hotel bintang tiga ke bawah. Sementara itu, hotel kelas menengah ke bawah masih menunjukkan pertumbuhan, meski belum signifikan.

RAMAI: Wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu menunjukkan tren positif, strategi bundling tiket menjadi salah satu pemicu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah berkurangnya pasar pemerintah (government). Dampaknya terasa pada kegiatan pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (meetings, incentives, conventions, and exhibitions/MICE) yang selama ini turut menopang okupansi hotel.
“Pasar government hampir tidak ada. Sehingga impact langsung ke kami untuk MICE benar-benar hampir tidak ada di Kota Batu,” jelasnya.
Menurutnya, berkurangnya belanja pemerintah juga memunculkan efek domino terhadap sektor swasta. Ketika perputaran uang dari pemerintah berkurang, dampaknya ikut dirasakan oleh pelaku usaha lain. Uang yang beredar di masyarakat menjadi lebih terbatas sehingga daya beli ikut melemah.
Oleh karena itu, Sujud menilai pelaku industri pariwisata perlu mencari strategi baru untuk menjaga pergerakan wisatawan. Salah satunya melalui kolaborasi antardestinasi maupun dengan sektor perhotelan.
Ia menyebut, bundling antara hotel dan taman rekreasi sebenarnya bukan hal baru. Namun, pada 2026 muncul pola kerja sama yang berbeda, yakni bundling antartaman rekreasi. Kolaborasi Selecta dengan Mikutopia menjadi salah satu contoh yang mulai berjalan. Skema ini dinilai menarik karena memungkinkan wisatawan mengunjungi dua destinasi sekaligus dengan harga tiket yang lebih terjangkau.
“Selama ini biasanya bundling antara hotel dengan taman rekreasi. Tahun ini ada gebrakan bundling antara park dengan park,” ungkapnya.
Meski sebagian besar pengunjung masih membeli tiket secara reguler, penjualan tiket bundling sudah menunjukkan hasil. Sujud memperkirakan kontribusinya mencapai sekitar 10 persen terhadap penjualan. Bahkan, kerja sama tersebut juga mulai menjangkau pasar rombongan. Salah satu penjualan berasal dari segmen korporasi dengan jumlah peserta sekitar 1.700 orang.
Lebih dari sekadar penjualan tiket, bundling juga menjadi sarana promosi silang. Wisatawan yang awalnya hanya mengenal salah satu destinasi berkesempatan mengenal objek wisata lainnya. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, kedua taman rekreasi memiliki peluang memperluas basis pengunjung sekaligus menjaga agar wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk berkunjung ke Kota Batu.
Menurutnya, strategi tersebut cukup relevan dengan karakter pasar wisata Kota Batu yang didominasi masyarakat kelas menengah ke bawah. Segmen ini cenderung lebih sensitif terhadap nominal rupiah yang harus dikeluarkan. Berbeda dengan pasar menengah atas yang lebih mempertimbangkan nilai atau pengalaman yang diperoleh, wisatawan kelas menengah ke bawah umumnya lebih dahulu melihat keterjangkauan harga.
“Kalau masyarakat menengah ke bawah, ketika harganya masih terasa tinggi pasti akan mental, apalagi kondisi seperti sekarang. Itu mengapa bundling Selecta dan Mikutopia menarik karena tidak sampai Rp100 ribu sudah bisa mendapatkan dua park,” paparnya.
Ke depan, peluang bundling dinilai masih terbuka lebih luas. Tidak hanya antartaman rekreasi, melainkan juga antara taman rekreasi dengan hotel untuk mendorong kunjungan sekaligus meningkatkan tingkat hunian kamar.
Sujud menyebut, inisiatif bundling antara hotel di Kota Batu dengan destinasi milik Jatim Park Group juga mulai berjalan. Skema tersebut menjadi peluang bagi hotel untuk menawarkan pengalaman wisata yang lebih lengkap kepada tamu. (Ananto Wibowo)




