MALANG POST – Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika mendesak Pemkot Batu membenahi rantai pemasaran pertanian dan menghapus sistem tengkulak, Jumat (6/11/2026), guna menjamin kesejahteraan ekonomi petani muda di samping alokasi anggaran pelatihan dan sertifikasi sebesar Rp500 juta tahun ini.
Upaya menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian di Kota Batu masih menghadapi tantangan. Pembinaan, pelatihan, hingga sertifikasi keterampilan dinilai belum cukup jika profesi petani belum mampu menjanjikan pendapatan yang menarik.
Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika, menilai bahwa pemerintah perlu membenahi akar persoalan regenerasi petani. Salah satunya menyangkut daya tarik ekonomi usaha pertanian yang selama ini masih menjadi pertimbangan utama generasi muda.
Tahun ini, Pemkot Batu mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta untuk pelatihan dan sertifikasi petani muda. Namun, menurut Kartika, program tersebut harus dibarengi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
“Regenerasi bukan hanya persoalan menambah jumlah anak muda yang turun ke sawah,” katanya, kemarin.
Kartika menyebut, salah satu penyebab rendahnya minat anak muda adalah hasil pertanian yang belum memberikan pendapatan menjanjikan. Kondisi tersebut membuat profesi petani kurang menarik dibandingkan dengan sektor pekerjaan lainnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah memperbaiki rantai pemasaran hasil pertanian. Petani perlu mendapat akses pasar yang lebih luas agar tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak. “Mungkin dengan menghilangkan sistem tengkulak yang menyebabkan penjualan hasil pertanian kurang menjanjikan, mereka bisa tertarik,” ujarnya.
Selain pembenahan pemasaran, ia juga mendorong pemberian beasiswa bagi generasi muda yang menempuh pendidikan di bidang pertanian. Pendidikan dinilai penting untuk memperkenalkan teknologi dan metode pertanian yang lebih modern.
Dukungan lain yang perlu dimaksimalkan meliputi subsidi pupuk, obat-obatan, serta sarana dan prasarana pertanian. Dengan begitu, petani muda tidak hanya memiliki keterampilan, melainkan juga dukungan untuk mengembangkan usaha taninya.

MASIH MINIM: Minat anak muda Kota Batu untuk bertanu masih rendah, ketersediaan pasar menjadi kunci. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Di sisi lain, Pemkot Batu telah menjalankan pembinaan petani muda sejak 2024. Program yang awalnya dikemas melalui Abang Tani Kelas tersebut kemudian dikembangkan menjadi Petani Muda Berdaya.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mencatat sekitar 300 petani telah mendapat pembinaan melalui berbagai program tersebut.
Tahun ini, pembinaan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas peserta. Petani muda yang telah mendapat pelatihan juga diharapkan bisa menularkan pengetahuan kepada kelompok tani lain di wilayah masing-masing.
Materi pembinaan mencakup penerapan teknologi pertanian modern, termasuk smart farming berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut telah diuji coba di Desa Sumberbrantas dan Pandanrejo.
Melalui penerapan teknologi itu, sejumlah aktivitas pertanian dapat dilakukan lebih efisien. Petani juga diperkenalkan dengan pemanfaatan perangkat yang bisa dikendalikan dari jarak jauh hingga penggunaan drone untuk mendukung kegiatan pertanian.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membantu petani mengelola lahan, terutama ketika menghadapi keterbatasan tenaga kerja. Dengan demikian, produktivitas bisa ditingkatkan tanpa sepenuhnya mengandalkan cara konvensional.
Tak hanya soal teknologi, pembinaan juga menyasar kemampuan bisnis petani muda. Mereka dibekali pengetahuan menghitung biaya produksi dan keuntungan, membaca tren pasar, menentukan komoditas bernilai ekonomi, hingga memahami standar produk untuk menembus pasar ritel modern.
Upaya tersebut diharapkan membentuk petani muda yang tidak hanya terampil mengolah lahan, melainkan juga mampu mengelola pertanian sebagai usaha produktif.
“Tantangan regenerasi tetap membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih menyeluruh. Sebab, teknologi dan keterampilan baru akan sulit menarik minat generasi muda apabila hasil usaha tani belum memberikan keuntungan yang sepadan,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




