MALANG POST — Universitas Negeri Malang (UM) melalui UPT Laboratorium Pendidikan Agama menyelenggarakan Seminar Moderasi Beragama bertema “Peran Komunitas Lintas Agama dalam Memperkuat Moderasi Beragama Menuju Indonesia Emas 2045” di Lecture Hall GKB A20 Lantai 9 Kampus UM, akhir pekan lalu.
Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi dan komunitas lintas agama serta kepercayaan di Malang Raya sebagai upaya memperkuat dialog, kolaborasi, kerukunan, dan kebinekaan dalam kehidupan masyarakat.
Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. Mufidah Ch., M.Ag. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Dr. Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd., dosen Departemen Bimbingan dan Konseling UM.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM, Dr. Achmad Sultoni, S.Ag., M.Pd.I., serta perwakilan berbagai organisasi dan komunitas lintas agama dan kepercayaan di Malang Raya.
Komunitas dan organisasi yang hadir di antaranya PAC Fatayat NU Kecamatan Dau dan Kota Malang, ISNU Kabupaten Malang, Pemuda Katolik Kota Malang, BKMM-DMI, PWKI, GKJW Tulang Bawang, GASPOL (Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online), MLKI Kota Malang, Masyarakat Baha’i Indonesia, Tamansiswa, Wadani Malang, serta Dharma Wanita Kementerian Agama Kabupaten Malang.
Ketua Pelaksana, Dr. Muhammad Khoirul Fatihin, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kohesi sosial dan kerukunan beragama merupakan fondasi penting yang harus terus dirawat bersama. Menurutnya, keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, terutama komunitas lintas agama, menjadi kunci strategis dalam membangun kebersamaan di tengah keberagaman.
“Peran aktif seluruh elemen masyarakat, khususnya komunitas lintas agama, menjadi kunci strategis dalam merajut tali kebersamaan ini,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa seminar tersebut terselenggara melalui kolaborasi antara UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM dan Perempuan Antarumat Beragama Malang.
Kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu memperkuat sinergi dan kolaborasi antarumat beragama dalam merawat kerukunan dan kebinekaan di Malang Raya, meningkatkan pemahaman kritis sivitas akademika melalui keterlibatan mahasiswa, serta mendorong aktivitas komunitas lintas agama dan perempuan lintas iman.
Sementara itu, Kepala UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM, Dr. Achmad Sultoni, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan wujud kepedulian UM dalam memperkuat moderasi dan kerukunan beragama, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat Malang Raya.
Ia menjelaskan bahwa UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM memfasilitasi kegiatan keagamaan dari berbagai agama, meliputi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta penghayat kepercayaan.
UM juga mengembangkan kegiatan lintas agama yang melibatkan mahasiswa melalui Keluarga Mahasiswa Lintas Agama dan Kepercayaan Universitas Negeri Malang. Komunitas ini terdiri atas anggota unit kegiatan mahasiswa (UKM) keagamaan dan penghayat kepercayaan di lingkungan UM.
“Komitmen kami adalah menguatkan kerukunan beragama dan kepercayaan serta keyakinan di antara mahasiswa UM,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM secara rutin menyelenggarakan observasi kerukunan beragama di sejumlah wilayah Jawa Timur, khususnya desa moderasi beragama atau desa Pancasila. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik kerukunan dan toleransi dalam kehidupan masyarakat yang beragam.
Melalui seminar ini, UM berharap sinergi antara sivitas akademika dan komunitas lintas agama semakin kuat dan berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen UM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Secara khusus, kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan literasi moderasi beragama, SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan melalui penghargaan terhadap keberagaman, serta SDG 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh melalui penguatan toleransi dan kohesi sosial.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat kerukunan di lingkungan kampus, melainkan juga memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kebinekaan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




