MALANG POST – Kota Batu sukses melaju ke seleksi nasional tahap dua UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang gastronomi dengan mengusung keunggulan konsep Batu Agro Kreatif: From Mountain Agriculture to Global Gastronomy, Sabtu (24/10/2026).
Langkah Kota Batu menembus jajaran kota kreatif dunia kian terbuka lebar.
Dalam dialog talkshow Idjen Talk di Radio City Guide FM pada Sabtu (24/10/2026), Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan SDM Pariwisata Disparta Kota Batu, Deny Ardian, membeberkan bahwa penyusunan kajian kelayakan (feasibility study) kini memasuki tahap akhir.
Pemerintah Kota Batu merangkul Komite Ekonomi Kreatif (KEK), akademisi, serta ribuan pelaku usaha untuk bersaing ketat dengan Kota Padang memperebutkan nominasi resmi UCCN 2027.
Potensi modal sosial Kota Batu terbilang sangat melimpah.
Terdapat hampir 2.000 pelaku usaha subsektor kuliner yang telah dikurasi.
Mulai dari kuliner legendaris seperti Ladu, Ketan Legenda sejak 1967, Warung Sidik, Soto Pajari, hingga Depot Flamboyan.
“Pemerintah memfasilitasi kemudahan izin, pelatihan, hingga pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar produk lokal memiliki perlindungan hukum dan daya saing global,” ujar Deny Ardian.
Akar Sejarah dan Pengalaman Wisata
Pengembangan gastronomi Kota Batu ditekankan bukan sekadar urusan jualan makanan populer.
Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dr. M. Dwi Cahyono, menyebut identitas pangan Batu terbentuk dari keharmonisan ekologi pegunungan, sejarah, dan kebudayaan.
Tahapannya mencakup riset kekayaan bahan pangan, konservasi kuliner langka, serta pemanfaatan wisata.
Senada, Ketua KEK Kota Batu, Muhammad Anwar, mengungkapkan bahwa jejak gastronomi Batu telah tercatat sejak era Kerajaan Medang abad ke-10 dalam Prasasti Sangguran.
Catatan sejarah tersebut merekam tradisi jamuan makan dan evolusi komoditas pertanian dari padi pegunungan hingga hortikultura apel dan jeruk.
Di sisi lain, wisata gastronomi dibidik menjadi senjata ampuh untuk mendongkrak rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan yang saat ini masih tertahan di angka 1,04 malam.
“Wisatawan diajak terlibat langsung memetik buah, mengolah tempe, dan menikmati kuliner lokal di Pasar Induk Among Tani. Rantai ekonomi ini harus memberi insentif nyata bagi petani dan UMKM,” pangkas Anwar. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




