MALANG POST – Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa terjun langsung menembus lereng terjal Gunung Arjuno di Desa Sumberbrantas, Batu, Kamis (22/10/2026), memimpin pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar seluas 10,5 hektare guna melokalisasi karhutla yang masih membara.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo di lereng Gunung Arjuno-Welirang belum sepenuhnya terkendali. Sejumlah titik kobaran api yang merembet ke wilayah administratif Kota Batu masih diintervensi oleh tim gabungan hingga Kamis (22/10/2026). Di tengah perbukitan terjal yang sulit dijangkau, Kapolres Batu, AKBP Panji Gedhe Prabawa, S.I.K., S.H., ikut mendaki gunung untuk memimpin pemadaman bersama petugas dan relawan.
Panji terjun langsung menyisir sejumlah titik krusial di kawasan Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Salah satu langkah taktis yang dieksekusi adalah pembuatan sekat bakar (firebreak) seluas 10,5 hektare demi melokalisasi kobaran api agar tidak merambat lebih luas.
Sejak material kebakaran mulai menjalar ke wilayah Kota Batu pada Senin (19/10/2026), operasi penanggulangan terus digencarkan secara kolaboratif. Kendati demikian, pemadaman tidak berjalan mudah. Topografi medan yang curam, celah lembah yang terisolasi, hembusan angin kencang, serta pekatnya asap tebal menjadi tantangan fisik utama bagi personel di lapangan.
Panji menjelaskan bahwa salah satu teknik manual untuk mengendalikan lidah api adalah metode gepyok, yakni memukul titik api menggunakan ranting basah atau alat pemukul sederhana. Setelah kobaran api meredup, petugas segera menggali sekat bakar untuk memutus kontinuitas bahan bakar organik di permukaan tanah.

PEMADAMAN: Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa bersama PJU Polres Batu saat turun langsung memadamkan api kebakaran Gunung Arjuno. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Tantangan terberat berada di lereng-lereng curam dan tebing lembah. Medannya sangat ekstrem, dan untuk menjangkau kepala api, seluruh tim wajib menempuh perjalanan dengan berjalan kaki,” ungkap Panji, Kamis (22/10/2026).
Selain kendala geografis, dinamika arah dan kecepatan angin yang berubah mendadak turut memicu kerawanan. Situasi tersebut berisiko memicu resurgensi api (re-ignition) sekaligus mengancam keselamatan para petugas pemadam.
Oleh karena itu, penanganan karhutla membutuhkan sinergi lintas sektoral. Kepolisian bersama UPT Tahura Raden Soerjo, TNI, BPBD, dan relawan masyarakat terus berjibaku mengisolasi titik panas.
Polres Batu juga mendirikan Posko Polisi Bersama Masyarakat di titik tumpu operasi. Posko ini difungsikan sebagai pusat komando taktis, pemantauan hotspot, koordinasi lapangan, serta penyalur logistik bagi personel pemadam.
Di tengah operasi yang masih berlangsung, Panji mengimbau warga masyarakat agar mematuhi larangan pembukaan lahan dengan cara dibakar, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi membakar semak di area rawan karhutla. Hentikan praktik pembersihan lahan dengan membakar karena dampaknya sangat destruktif dan membahayakan keselamatan umum,” tegasnya. (Ananto Wibowo)




