MALANG POST – Dinding rapuh dan atap bocor tidak menghalangi siswa SDN 2 Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, untuk berprestasi. Selama dua tahun berturut-turut, mereka berhasil meraih Juara 3 lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB) tingkat kecamatan.
Prestasi itu menjadi kebanggaan bagi sekolah yang berada di Dusun Prangas, Desa Klepu tersebut. Namun, di balik capaian para siswa, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendesak: kondisi bangunan sekolah yang dilaporkan memprihatinkan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sekolah.
Sertifikat penghargaan yang terpajang di salah satu sudut ruang kelas menjadi simbol perjuangan para siswa dan guru. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka tetap berusaha menunjukkan kemampuan terbaik dalam kegiatan di luar pembelajaran sehari-hari.
Bagi para guru, capaian tersebut membuktikan bahwa kondisi fisik sekolah tidak memadamkan semangat anak-anak untuk belajar dan mengukir prestasi. Meski demikian, semangat itu semestinya berjalan beriringan dengan tersedianya lingkungan pendidikan yang aman dan layak.
“Kami sangat bangga dengan anak-anak kami. Mereka menunjukkan semangat yang luar biasa meskipun harus belajar dalam kondisi seperti ini,” ujar Holland Silaen, salah seorang guru SDN 2 Klepu.
Kekhawatiran di Ruang Kelas
Di balik kebanggaan atas prestasi siswa, kondisi bangunan menjadi persoalan yang terus membayangi kegiatan belajar mengajar. Sejumlah ruang kelas dilaporkan mengalami kerusakan parah, antara lain atap bocor dan dinding yang rapuh.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan guru maupun siswa. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar dengan nyaman justru menyisakan kecemasan terhadap keamanan bangunan.

BERBAHAYA: Kondisi plafon ruang kelas SDN 2 Klepu Desa Klepu Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang, yang jebol dan harus ditopang bambu, Selasa (21/10/2026). (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
Kepala SDN 2 Klepu Edi Iswanto tidak menampik kekhawatiran tersebut. Menurutnya, kondisi bangunan sekolah semakin memprihatinkan dan membutuhkan perhatian.
“Kondisi bangunan ini semakin mengkhawatirkan setiap harinya,” jelas Edi.
Bagi pihak sekolah, persoalan ini bukan semata-mata tentang kenyamanan belajar. Kelayakan bangunan juga berkaitan dengan keselamatan siswa dan tenaga pendidik yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah.
Karena itu, Edi berharap pihak terkait memberikan perhatian serius terhadap kondisi sekolah yang dipimpinnya. Perbaikan bangunan dinilai mendesak agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih aman dan tenang.
Prestasi yang Menyuarakan Harapan
Bagi Edi, keberhasilan meraih Juara 3 lomba PBB selama dua tahun berturut-turut bukan sekadar pencapaian yang layak dirayakan. Prestasi itu juga menjadi pengingat bahwa siswa di sekolah dengan fasilitas terbatas tetap memiliki potensi untuk berkembang.
Ia berharap capaian tersebut turut membuka perhatian terhadap kebutuhan dasar sekolah, terutama perbaikan bangunan yang menjadi tempat para siswa menimba ilmu.
“Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Mereka berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak agar dapat berkembang secara optimal,” tegasnya.
Perjuangan siswa SDN 2 Klepu memperlihatkan bahwa keterbatasan tidak selalu mematikan semangat berprestasi. Namun, keberhasilan anak-anak menjaga motivasi belajar tidak seharusnya membuat persoalan fasilitas pendidikan luput dari perhatian.
Prestasi mereka patut diapresiasi. Pada saat yang sama, kondisi bangunan sekolah perlu mendapat pemeriksaan dan tindak lanjut dari instansi berwenang agar risiko keselamatan dapat dinilai dan ditangani secara tepat.
Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya tentang keberhasilan meraih piala atau sertifikat. Anak-anak juga berhak belajar di ruang kelas yang aman, layak, dan mendukung tumbuh kembang mereka. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




