Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Dosen FILKOM. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Akademisi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Yuita Arum Sari, Ph.D., meluncurkan aplikasi FILKOM-HEART dalam Forum Nasional Unit Layanan Disabilitas di Malang, Senin (12/10/2026), guna mengonversi ucapan lisan perkuliahan menjadi teks secara real-time bagi mahasiswa disabilitas Tuli.
Universitas Brawijaya (UB) terus memacu pengembangan inovasi sains dan teknologi untuk merawat ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, saat bertindak sebagai narasumber dalam Forum Nasional dan Pelatihan Penguatan Unit Layanan Disabilitas di Malang, Senin (12/10/2026).
Dalam paparannya, Yuita memperkenalkan aplikasi terobosan bertajuk FILKOM-HEART. Inovasi ini menyajikan fitur konversi audio otomatis (speech-to-text) yang mampu mengolah paparan ucapan lisan yang ditangkap mikrofon menjadi teks (caption) langsung secara real-time. Aplikasi ini dapat diakses secara fleksibel melalui peramban (browser) di komputer jinjing (laptop) maupun telepon seluler tanpa wajib mengunduh instalasi tambahan.
“Melalui fitur live caption, setiap materi ucapan lisan yang disampaikan dosen selama proses KBM langsung dikonversi menjadi teks visual. Dengan begitu, mahasiswa Tuli yang memiliki keterbatasan aksesibilitas audio mengantongi alternatif instrumen untuk menyerap materi perkuliahan secara utuh,” ujar Yuita, Senin (12/10/2026).
Yuita menjelaskan bahwa konstruksi pembelajaran inklusif wajib diawali dari kepekaan terhadap kebutuhan riil mahasiswa di lapangan. Intervensi teknologi menjadi salah satu pendekatan paling rasional untuk mengeliminasi hambatan komunikasi akademis.
“Pendidikan inklusif bukan sebatas memberikan kuota penerimaan bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk berkuliah di perguruan tinggi. Namun yang jauh lebih krusial adalah menjamin mereka dapat mengakses transfer ilmu pengetahuan dan berpartisipasi aktif dalam proses perkuliahan,” tuturnya.
Berdasarkan data histori FILKOM UB rentang 2021–2025, tercatat 22 mahasiswa aktif penyandang disabilitas pada jenjang sarjana (S-1). Sebanyak 14 mahasiswa atau 63,6 persen di antaranya merupakan mahasiswa Tuli—yang merupakan kelompok disabilitas mayoritas—sehingga efektivitas aksesibilitas penjelasan lisan menjadi prioritas utama.
Hasil survei internal terhadap 11 responden memperkuat urgensi teknologi tersebut. Sebanyak 72,7 persen responden mengaku kesulitan mencerna penjelasan lisan dosen yang bertempo cepat, 63,6 persen kesulitan mengikuti dinamika diskusi interaktif, dan 81,8 persen mengharapkan ketersediaan instrumen pembantu komunikasi akademis.
Operasionalisasi FILKOM-HEART dirancang sangat praktis. Pengguna cukup membuka peramban, menghubungkan mikrofon, memberikan izin akses audio, lalu mengaktifkan modul caption. Begitu gelombang suara terdeteksi, transkrip teks langsung muncul di layar.
Hasil transkripsi lisan tersebut dapat diunduh dan disimpan dalam format berkas .txt maupun .docx, atau disalin langsung sebagai bahan cataan belajar. Untuk mengoptimalkan penerapannya di dalam ruang kelas, manajemen FILKOM UB telah mensiagakan 20 unit mikrofon nirkabel khusus yang terintegrasi dengan sistem aplikasi.
Selain mengandalkan teknologi pengetikan otomatis, Yuita menggarisbawahi pentingnya penguatan pendampingan akademis melalui konsepsi Academic Buddy berbasis substansi. Konsep ini menekankan hadirnya rekan pendamping yang tidak sekadar mengawal aktivitas fisik mahasiswa, melainkan ikut memahami bobot substansi materi keilmuan yang dipelajari.
Hasil pemetaan survei menunjukkan bahwa 63,6 persen responden menilai pendamping sebaya saat ini masih kurang menguasai materi perkuliahan. Seluruh responden (100 persen) menginginkan pendamping yang memahami konteks kurikulum FILKOM, dan 54,5 persen membutuhkan pendampingan khusus saat berhadapan dengan materi yang rumit.
“Pendampingan akademis tidak boleh berhenti sebatas bantuan teknis formalitas. Pendamping wajib memahami substansi materi sehingga dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang solutif saat mahasiswa mengalami kendala akademis,” paparnya.
Menurut Yuita, kombinasi antara fleksibilitas teknologi FILKOM-HEART dan pendampingan Academic Buddy berorientasi substansi akan membentuk lingkungan belajar inklusif yang saling melengkapi di lingkungan Universitas Brawijaya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




