MALANG POST – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan FEB Universitas Negeri Malang merancang WHISH, inovasi tisu basah pembersih sepatu putih berbahan ampas tebu dan ekstrak kulit lemon di Malang, Senin (12/10/2026), guna mengimplementasikan ekonomi sirkular ramah lingkungan serta mendorong hilirisasi produk riset komersial.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) meluncurkan produk inovasi WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes). Produk ini merupakan tisu ramah lingkungan khusus perawatan sepatu putih berbasis limbah organik yang dikembangkan untuk membersihkan debu dan noda ringan secara praktis.
Inovasi komersial ini memanfaatkan ampas tebu dan ekstrak kulit lemon sebagai formula utama, mengusung prinsip ekonomi sirkular (circular economy) guna mengerek nilai guna limbah yang belum terolah secara optimal. Produk riset yang dimatangkan sepanjang rentang waktu 17 Februari–30 April 2026 ini menjadi langkah nyata mahasiswa UM dalam melahirkan karya komersial berdaya saing pasar.
Di tengah makin menguatnya isu kepedulian lingkungan global, pendekatan ekonomi sirkular menjadi salah satu konsep utama yang didorong di pelbagai sektor industri. Berbeda dengan sistem ekonomi linier yang mengadopsi pola take–make–dispose (mengambil, memproduksi, lalu membuang), ekonomi sirkular mengedepankan pemanfaatan ulang sumber daya (re-use) agar terus berputar di ranah siklus produksi.
Melalui pendekatan ini, sisa limbah organik tidak lagi dikategorikan sebagai sampah tak berguna, melainkan sebagai bahan baku bernilai tambah (added value) yang diolah menjadi barang konsumsi baru dengan manfaat ekologis dan ekonomis bagi masyarakat.
Prinsip itulah yang menjadi fondasi utama lahirnya pembersih WHISH. Tim PKM-K FEB UM memanfaatkan serat ampas tebu sebagai bahan dasar lembaran tisu yang mudah terurai secara hayati (biodegradable). Dengan demikian, limbah hasil pemrosesan tebu yang melimpah dapat dikonversi menjadi produk tepat guna.

Sementara itu, larutan pembersih aktif pada tisu WHISH memanfaatkan ekstrak kulit lemon yang diserap dari limbah industri olahan minuman. Ekstrak tersebut diproses menggunakan teknologi enkapsulasi nano (nanoencapsulation) guna menjaga stabilitas kandungan senyawa aktif, sehingga efektif mengangkat noda tipis serta memitigasi perubahan warna kuning (yellowing) pada sepatu kulit putih.
Sebagai penyempurna formula, tim meracik agen surfaktan hayati (biosurfactant) berbasis ekstrak tanaman lidah buaya (Aloe vera) yang berfungsi mengikis noda minyak, debu, dan kotoran dari permukaan sepatu. Pemanfaatan kombinasi bahan alami ini menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada zat kimia sintetis berbahaya.
Inovasi WHISH digawangi oleh tim lintas disiplin yang diketuai oleh Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S-1 Pendidikan Bisnis. Tim ini beranggotakan Ervina Mei Ananda Putri (S-1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S-1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S-1 Pendidikan Kimia), serta Kharisma Putri Ambarwati (S-1 Pendidikan Bisnis).
Sinergi Lintas disiplin ilmu tersebut berhasil memadukan analisis kewirausahaan, analisis biologis, dan riset kimia untuk melahirkan produk yang prospektif secara komersial. Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, menegaskan bahwa WHISH dirancang untuk membuktikan bahwa sumber daya lokal sanggup menghasilkan produk bernilai tinggi jika dikelola secara berkelanjutan.
“Melalui WHISH, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari suatu proses, melainkan titik awal lahirnya produk inovatif yang memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini menjadi bukti bahwa prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan secara nyata pada produk harian,” terang Sekar, Senin (12/10/2026).
Selain mengusung konsep kelestarian lingkungan, WHISH didesain sebagai perlengkapan perawatan harian (daily aftercare) yang praktis diaplikasikan usai beraktivitas. Produk ini membantu menyapu debu dan bercak kotoran sebelum mengeras dan memicu noda membandel.
Pengguna dapat merawat kebersihan sepatu putih secara berkala tanpa perlu selalu mencucinya dengan basuhan air (waterless cleaner). Tisu WHISH aman diaplikasikan pada pelbagai jenis material sepatu putih, seperti kulit sintetis (synthetic leather), PU leather, dan PVC leather, serta bagian sol tengah (midsole) berbahan EVA, PU, dan TPU.
Guna mendukung program hilirisasi produk riset, tim PKM-K FEB UM merancang tata kelola bisnis berkelanjutan melalui kanal pemasaran digital (digital marketing), promosi langsung (direct selling), serta kemitraan strategis bersama jaringan penyedia jasa pencucian sepatu (shoe laundry).
WHISH dipasarkan dalam kemasan kotak (box) eksklusif berisi delapan saset, dengan tiap saset memuat dua lembar tisu basah pembersih. Produk ini dilepas ke pasar dengan harga terjangkau Rp30.000 per kotak, sehingga ramah di kantong mahasiswa maupun masyarakat umum.
Inisiatif riset ini selaras dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-12 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta mendukung SDGs poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui komersialisasi produk inovatif berbasis riset kampus.
Melalui sokongan penuh dari FEB dan universitas, tim optimistis WHISH dapat terus diproduksi secara massal sebagai produk inovasi mahasiswa unggulan yang berdaya saing tinggi sekaligus menginspirasi gerakan pelestarian lingkungan di Indonesia. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




