MALANG POST – Pusat Studi Islam Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Malang menggelar kajian multidisipliner bertema jurnalisme profetik dan ekosistem media emansipatif di Ruang Sidang Senat UMM, Malang, Jumat (9/10/2026), guna menegaskan pentingnya pemberitaan media yang berbasis humanisasi, liberasi, transendensi, serta berdampak nyata.
Derasnya arus informasi digital menuntut media massa tidak lagi sekadar beradu cepat menyampaikan berita. Media dituntut hadir membantu masyarakat mengurai persoalan, memilah fakta sah di tengah disinformasi, serta menyajikan isu publik dari sudut pandang yang mencerahkan.
Gagasan strategis tersebut mengemuka dalam kajian Islam multidisipliner yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Forum bertema “Jurnalisme Profetik dan Ekosistem Media Emansipatif” ini dipusatkan di Ruang Sidang Senat Kampus III UMM, Jumat (9/10/2026).
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Roni Tobroni, M.Si., menjelaskan bahwa jurnalisme profetik berakar kuat pada pilar kenabian, yakni humanisasi (mewanita/memanusiakan manusia), liberasi (pembebasan), dan transendensi (keimanan).
Ketiga pilar filosofis tersebut menjadi fondasi agar produk pemberitaan tidak berhenti sebatas penyampaian fakta mentah, melainkan sanggup mendorong derajat kemanusiaan, membebaskan warga dari persoalan sosial, serta memperkokoh nilai ketauhidan.
“Jadi, kalau kita bicara jurnalisme profetik, sejatinya prinsip ini telah diinternalisasi dan diamalkan oleh Muhammadiyah sejak awal berdiri,” terang Roni, Jumat (9/10/2026).

Menurut Roni, akar tradisi literasi tersebut dapat dirunut dari perhatian besar pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, terhadap media massa. Pada 1915, Muhammadiyah menerbitkan majalah Suara Muhammadiyah sebagai sarana dakwah dan syiar pengetahuan.
Rekam sejarah tersebut membuktikan bahwa media sejak awal telah menjadi pilar gerakan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus menyampaikan gagasan kritis secara tertib dan mencerahkan.
Tantangan media saat ini, lanjutnya, adalah beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat tanpa terjerat pada sensasionalisme (clickbait). Isu hangat tetap perlu diangkat, tetapi wajib dibingkai melalui analisis komprehensif yang selaras dengan nilai Islam Berkemajuan.
Dengan demikian, media pers dapat hadir di tengah ruang publik tanpa kehilangan arah etik maupun memicu peruncingan polarisasi. Roni juga menekankan urgensi penguatan kelembagaan media afiliasi Muhammadiyah, mulai dari kepastian legalitas hukum, kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga mutu konten teruji.
Sistem jejaring yang terbangun menjadi modal berharga untuk saling berbagi pengalaman dan meningkatkan profesionalisme wartawan. Namun, media pers juga dituntut peka terhadap dinamika isu publik di luar ranah internal organisasi agar berita yang disajikan tetap relevan dengan persoalan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Humas UMM sekaligus Ketua Departemen Kerja Sama dan Kehumasan PP Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menyoroti pentingnya mengemas praktik baik (good practices) persyarikatan agar mudah dipahami khalayak luas.
Menurutnya, publikasi mengenai kerja-kerja sosial seperti layanan pendidikan, rumah sakit, dan aksi kemanusiaan wajib disampaikan melalui narasi komunikatif yang menjawab kebutuhan publik, bukan sekadar dokumentasi formal kegiatan internal.
“Muhammadiyah memiliki begitu banyak amalan baik yang perlu dikemas secara profesional dan disebarluaskan agar manfaatnya dirasakan dan dikenal masyarakat luas,” tegas Maharina.
Ia menjelaskan bahwa dampak positif dari narasi tersebut akan meluas secara eksponensial sewaktu masyarakat ikut membagikan pengalaman baik secara organik. Oleh karena itu, strategi komunikasi publik harus mencermati karakter unik tiap platform digital agar informasi disajikan secara menarik tanpa mereduksi akurasi fakta dan prinsip persyarikatan.
Terakhir, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) harus bertindak sebagai episentrum pemikiran sekaligus gerakan nyata yang menerjemahkan nilai Islam Berkemajuan. Dakwah Islam harus diwujudkan melalui kerja-kerja konkret yang menyejahterakan masyarakat.
“Islam itu harus didakwahkan dan wajib menghasilkan praktik nyata yang menyejahterakan umat manusia,” tandas Nazaruddin.
Melalui PSIB, UMM terus membuka ruang dialog lintas disiplin untuk membedah tantangan komunikasi, dakwah, dan kehidupan bermasyarakat kontemporer. Penguatan jurnalisme profetik dan konsolidasi media afiliasi diharapkan melahirkan ekosistem pers yang tanggap isu, menjunjung tinggi kode etik, serta mencerahkan kehidupan berbangsa. (M. Abd. Rachman Rozzi)




