NARA SUMBER: Sejarawan Dwi Cahyono dan Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB), Ary Budiyanto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Batu memetakan identitas kuliner daerah melalui FGD Studi Kelayakan Batu Kota Kreatif Gastronomi di Rumah Kemasan PLUT KUMKM, Sabtu (10/10/2026), guna mengintegrasikan potensi pertanian lokal dengan industri pariwisata secara berkelanjutan.
Kota Batu memiliki modal sosial dan ekologis yang besar untuk mengintegrasikan potensi daerah menuju kota kreatif gastronomi. Di satu sisi, kawasan ini ditopang oleh sektor pertanian hortikultura yang menjadi pilar kehidupan warga. Di sisi lain, industri pariwisata tumbuh pesat sebagai penggerak utama perekonomian daerah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertemukan kedua sektor tersebut melalui narasi kekayaan kuliner yang memiliki cerita sejarah, karakter khas, dan nilai jual tinggi.
Bukan sebatas menjual ragam olahan makanan khas, pengembangan gastronomi menuntut penggalian akar sejarah, dinamika kebudayaan, hingga kebiasaan masyarakat yang membentuk identitas kulinari suatu daerah. Potensi komprehensif itulah yang mulai dipetakan dalam penyusunan Dokumen Kajian Kelayakan Batu Kota Kreatif Gastronomi.
Perspektif strategis tersebut mengemuka dalam forum diskusi terarah (Focus Group Discussion/FGD) yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumdag) Pemkot Batu di Rumah Kemasan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Agrokreatif Kota Batu. Mengangkat tajuk “Lintas Masa Gastronomi Daerah Batu”, pembahasan diarahkan untuk menelusuri rekam jejak gastronomi Batu dari peradaban masa lalu hingga dinamika kehidupan perkotaan saat ini.
Sejarawan Dwi Cahyono, yang juga penulis buku Sejarah Daerah Batu, mengajak para peserta membedah gastronomi melalui empat pilar utama: ekologis, sosial, budaya, dan pariwisata. Keempat kerangka berpikir tersebut saling bertautan dalam membentuk karakter dan kekayaan kuliner daerah.
“Faktor ekologis berkaitan erat dengan bentang alam dan ketersediaan bahan pangan lokal. Aspek sosial dan budaya menjelaskan tata cara masyarakat mengolah, mengonsumsi, serta mewariskan tradisi kuliner secara turun-temurun. Sementara itu, sektor pariwisata membuka ruang agar kekayaan warisan tersebut bertransformasi menjadi pengalaman (visitor experience) yang memikat bagi wisatawan,” paparnya, Sabtu (10/10/2026).
Artinya, gastronomi tidak cukup dimaknai sebatas daftar menu makanan dan minuman khas di kedai makan. Terdapat jalinan sejarah, kondisi lingkungan, dan kebiasaan hidup warga yang wajib ditelusuri untuk memahami bagaimana suatu masakan tumbuh, beradaptasi, dan bertahan melintasi zaman.
Di Kota Batu, kaitan erat antara sektor agraris dan industri rekreasi menjadi aset berharga. Produk hasil panen segar berpotensi diolah menjadi racikan sajian berciri khas lokal, lalu dikemas sebagai atraksi pengalaman wisata yang memiliki nilai tambah (added value).
“Peluang tersebut dapat diakselerasi melalui inovasi kemasan produk, penguatan narasi histori kuliner (storytelling), hingga penetapan strategi pemasaran yang lebih terarah,” tambahnya.
Penguatan identitas kuliner juga perlu mencermati alur perjumpaan lintas budaya (cultural encounter). Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB), Ary Budiyanto, menyoroti besarnya pengaruh komunitasi migran atau pendatang dalam memperkaya lanskap kuliner Kota Batu.
“Soto Lamongan dan gado-gado dengan guyuran bumbu kacang gurih hangat menjadi contoh konkret kuliner yang melebur dalam keseharian warga lokal. Keberadaannya membuktikan bahwa identitas gastronomi tidak selalu lahir dari satu tradisi tunggal yang terisolasi. Interaksi sosial, mobilitas penduduk, serta adaptasi pola konsumsi turut membentuk kekayaan kuliner daerah,” tuturnya.
Ary, yang juga bertindak sebagai tim penyusun kajian kelayakan Batu Kota Kreatif Gastronomi, konsisten meneliti dinamika kuliner dari sudut pandang antropologi. Ia merupakan salah satu pendiri Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) UB, lembaga riset yang berfokus pada kolaborasi studi perubahan sosial, inovasi budaya, dan transisi digital.
Pendekatan kacamata sejarah dan antropologi tersebut menjadi krusial dalam merancang peta jalan (roadmap) gastronomi Kota Batu. Sebab, upaya mengangkat kuliner sebagai branding identitas daerah tidak sekadar membutuhkan sajian produk yang lezat, melainkan penelusuran rekam jejak asal-usul, proses adaptasi sosial, serta keberlanjutan tradisi di tengah arus modernisasi.
Proses kajian ini melibatkan pemangku kepentingan lintas sektoral (hexahelix). Kolaborasi meliputi jajaran pemerintah daerah, akademisi perguruan tinggi, pelaku UMKM, kelompok petani, komunitas kreatif, pegiat seni dan budaya, praktisi pariwisata, hingga insan media massa.
Melalui pendataan ilmiah ini, keanekaragaman kuliner yang memiliki keberlanjutan sosial, budaya, dan ekonomi diharapkan teridentifikasi secara presisi. Pemetaan ini juga diarahkan untuk menyambungkan potensi komoditas pertanian, narasi sejarah lokal, praktik budaya masyarakat, serta kebutuhan industri pariwisata modern.
“Dengan demikian, pengembangan gastronomi tidak berhenti pada ajang promosi kuliner sesaat. Rantai nilai (value chain) mulai dari penyediaan bahan baku petani hingga sajian akhir perlu diperkuat agar membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus merawat kearifan lokal,” jelas Ary.
Menurutnya, tema Lintas Masa Gastronomi Daerah Batu menjadi pengingat bahwa keanekaragaman kuliner bukan sebatas urusan pemuas cita rasa. Di dalamnya terkandung nilai sejarah perjalanan bangsa, perjumpaan antarbudaya, serta potensi ekonomi bernilai tinggi.
“Tantangannya hari ini adalah merangkai seluruh potensi terfragmentasi tersebut menjadi identitas gastronomi yang kokoh, relevan dengan perkembangan zaman, serta memberikan dampak kesejahteraan nyata bagi masyarakat Kota Batu,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




