MALANG POST – Destinasi Agrowisata Durian Fantasi Kota Batu meluncurkan wahana edukasi “Safari Drien” menggunakan modifikasi traktor perkebunan di Batu, Jumat (2/10/2026), memanjakan wisatawan menyusuri kebun durian sekaligus mengenalkan sistem pertanian ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular (zero waste).
Naik traktor biasanya identik dengan aktivitas olah tanah di lahan pertanian konvensional.
Namun, di kawasan Agrowisata Durian Fantasi (Dufan) Kota Batu, traktor justru dimodifikasi menjadi wahana rekreasi unik. Kendaraan petualangan tersebut dinamai Safari Drien.
Wisatawan diajak keliling menyusuri hamparan kebun durian, menikmati panorama lanskap pegunungan, sekaligus mengamati dari dekat ragam varietas tanaman yang menjadi ikon destinasi tersebut.
Perjalanan rekreasi tidak berhenti pada berkeliling kebun. Pada musim berbunga, pengunjung disuguhi wangi semerbak bunga durian yang bermekaran di sepanjang rute perjalanan.
Dari satu titik ke titik lain, pengalaman eksplorasi dirancang dengan nuansa perkebunan edukatif yang menjadi pembeda utama dari destinasi Kota Batu yang selama ini didominasi oleh wahana buatan modern.
Safari Drien merupakan bagian dari zona play adventure di Dufan. Pengelola juga menyediakan wahana kendaraan segala medan (all-terrain vehicle/ATV) dan Ferris Durio—bianglala bertema bentuk buah durian.

DURIAN FANTASI: Dufan salah satu wahana wisata di Kota Batu yang mengusung konsep utama pertanian buah durian. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Wahana interaktif ini dapat dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa. Taman bermain anak (playground), ruang imersif (infinity room), serta pelbagai swafoto instagramabel melengkapi pilihan aktivitas liburan keluarga.
Kendati demikian, keberadaan wahana permainan hanyalah pelengkap. Konsep utama Dufan berpijak pada konservasi dan pengembangan perkebunan.
Destinasi tersebut dikembangkan sebagai agrowisata edukatif yang mengintegrasikan sektor pertanian, industri kuliner, serta rekreasi alam. Komoditas unggulan durian dan alpukat dijadikan atraksi utama yang diperkenalkan kepada wisatawan.
Konseptor Dufan, Sujono Djonet, mengutarakan bahwa kawasan tersebut sejak awal tidak didesain sebagai lokasi wisata petik buah semata.
Pengunjung diarahkan untuk memahami rantai budidaya durian secara komprehensif, mulai dari tahap pembibitan hingga pengolahan pascapanen.
“Bagaimana pohon durian ditanam, dirawat, dipanen, hingga diolah menjadi sajian kuliner kami kemas menjadi satu paket pengalaman wisata yang utuh dan bernilai edukasi,” ujar Djonet, Jumat (2/10/2026).
Di area pembibitan (nursery), wisatawan dapat mengenali keunikan varietas durian unggulan, seperti Musang King, Bawor, Montong, hingga Black Thorn (Duri Hitam).
Masing-masing jenis memiliki karakteristik cita rasa dan teknik perawatan yang spesifik. Edukasi ini disajikan agar pengunjung tidak sekadar menikmati manisnya buah, melainkan juga mengapresiasi proses panjang budidayanya.
Tanaman alpukat unggulan juga ditanam berseling di area perkebunan. Kehadiran keanekaragaman komoditas buah ini memperlihatkan ekosistem pertanian terpadu yang hidup, bukan sebatas latar belakang foto.

Dari kebun, petualangan dilanjutkan ke meja hidangan. Durian diolah menjadi pelbagai varian kuliner kreatif untuk meningkatkan nilai tambah (value-added) hasil panen lokal.
Satu keunggulan yang membuat konsep Dufan menonjol adalah tata kelola lingkungan pascakonsumsi. Kulit dan biji durian yang umumnya menjadi sampah organik diolah kembali dalam rantai daur ulang. Prinsip ini menjadi pilar utama penerapan sistem nirsampah (zero waste) dan ekonomi sirkular di kawasan wisata.
“Kami menerapkan prinsip ekonomi sirkular guna mewujudkan zero waste. Limbah organik kulit dan biji durian diolah menjadi pupuk kompos serta bahan daur ulang bermanfaat, sehingga tidak ada sampah yang terbuang sia-sia,” tegas Djonet.
Melalui pendekatan ini, Dufan menyampaikan pesan bahwa industri pariwisata dapat berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan dan pertanian berkelanjutan.
Kebun tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan juga wahana edukasi produksi pangan berwawasan lingkungan.
Djonet menegaskan bahwa Dufan diproyeksikan menjadi pusat wisata edukasi agro alpukat dan durian terbesar sekaligus surga bagi para pencinta raja buah.
Oleh karena itu, inovasi olahan buah terus diperkaya agar memberikan jaminan kualitas terbaik bagi pengunjung.
“Kami membidik ceruk pasar wisata edukasi agro alpukat dan durian. Kami memperkaya variasi olahan durian dan memberikan jaminan kualitas (no-zonk policy) agar wisatawan selalu mendapatkan durian dengan kualitas prima,” urainya.
Konsep terintegrasi tersebut menjadikan kunjungan ke Dufan sebagai pengalaman yang utuh. Wisatawan dapat menjelajahi kebun, mengenali varietas, menikmati olahan kuliner, mencoba wahana petualangan, hingga mempelajari pengelolaan limbah ramah lingkungan.
”Di Dufan, durian tidak sekadar dijual sebagai komoditas buah harian. Durian diangkat menjadi atraksi budaya, media edukasi, serta cerita sukses tentang bagaimana potensi pertanian lokal dielevasi menjadi destinasi wisata berkelas,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




