MALANG POST — Bukan hanya soal lantai yang bersih atau halaman yang hijau. Standar kesehatan lingkungan Puskesmas Wonokerto, Kabupaten Malang, diuji langsung melalui verifikasi lapangan Environmental Health Competition (EHC) Kesling Plus tingkat Jawa Timur, Selasa (29/9/2026).
Tim verifikasi menelusuri berbagai aspek pengelolaan lingkungan, di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Mulai pengelolaan sampah, air, limbah medis, bahan berbahaya dan beracun (B3), penggunaan energi, penghijauan, hingga fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Verifikasi lapangan menjadi salah satu tahapan penting EHC Kesling Plus. Sebab, penerapan standar tidak cukup dilihat dari dokumen, tetapi juga harus dibuktikan melalui kondisi dan praktik yang berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dari Kesling Biasa ke Kesling Plus
Koordinator Tim Verifikasi Lapangan EHC Kesling Plus, Anik Madyawati, ST., M.AP., mengatakan, konsep Kesling Plus merupakan pengembangan dari penerapan kesehatan lingkungan di puskesmas.
“Kalau Puskesmas Kesling Plus itu adalah puskesmas yang melakukan perubahan dari Kesling yang biasa, menjadi Kesling yang lebih bersih, lebih sehat dari segi perilaku, sarana-prasarana yang ada di puskesmas,” terang Anik, seusai mendampingi tim verifikasi lapangan EHC Kesling Plus Jawa Timur di Puskesmas Wonokerto.

KETERANGAN PERS: Anggota verifikasi dari Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HALKI) Jawa Timur, Winarko didampingi Kepala Puskesmas Wonokerto dan tim verifikasi lapangan EHC saat memberikan keterangan pada awak media. (Foto: Suseno/Malang Post)
Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan. Perilaku, tata kelola, serta kesiapan sarana dan prasarana juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam verifikasi.
Tim melihat penerapan efisiensi energi, pemanfaatan cahaya alami, penghijauan, efisiensi penggunaan air, hingga pengelolaan limbah. Pemanfaatan kembali limbah juga menjadi salah satu indikator untuk mendorong penerapan konsep zero waste di fasilitas pelayanan kesehatan.
Fasilitas Difabel Ikut Diuji
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion). Puskesmas tidak hanya dituntut bersih dan sehat, tetapi juga menyediakan fasilitas yang dapat diakses kelompok dengan kebutuhan berbeda.
Penyediaan fasilitas sanitasi bagi penyandang disabilitas, menjadi salah satu indikator yang diperiksa. Tim juga melihat standar aksesibilitas untuk memastikan fasilitas dapat digunakan secara aman dan sesuai kebutuhan.
“Memang beberapa sarana yang kita fokuskan salah satunya untuk difabel yaitu GEDSI. Jadi itu salah satu yang ingin kami lihat, di mana yang awalnya puskesmas dulu hanya menyediakan kamar mandi biasa, sekarang sudah menyediakan kamar mandi yang GEDSI,” jelas Anik.
Dalam proses verifikasi, tim juga memberikan masukan terhadap sejumlah sarana dan prasarana. Di antaranya terkait ukuran pintu serta akses masuk bagi penyandang disabilitas.
“Kalau terkait sarana-prasarana mungkin pelan-pelan untuk selanjutnya perbaikannya,” kata Anik.
Bukan Sekadar Mengejar Penghargaan
Anggota tim verifikasi dari HAKLI Jawa Timur, Winarko, SKM., M.Kes., menegaskan EHC Kesling Plus tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh penghargaan.
Lebih jauh, kompetisi tersebut diharapkan mampu mendorong penerapan kesehatan lingkungan menjadi bagian dari budaya mutu di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
“Sesungguhnya yang kita harapkan ini menjadi budaya mutu, sebenarnya bukan prestasi atau penghargaan yang diharapkan. Kita mengharapkan menjadi budaya mutu semua fasyankes,” ujar Winarko.
Ia menjelaskan, sejumlah indikator dasar Kesling tetap menjadi perhatian. Pengelolaan sampah, air, limbah, limbah medis, dan B3 merupakan bagian utama yang harus diterapkan.

VERLAP: Tim verifikasi lapangan saat mengecek fasilitas yang ada di Puskesmas Wonokerto. (Foto: Suseno/Malang Post)
Namun, Kesling Plus memperluas indikator tersebut dengan aspek efisiensi energi, pemanfaatan cahaya alami, penghijauan, serta efisiensi penggunaan air dan limbah.
Penghijauan juga memiliki kaitan dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Tanaman dapat menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis sehingga keberadaan ruang hijau menjadi salah satu aspek yang diperhatikan.
Libatkan Lintas Instansi
Verifikasi di Puskesmas Wonokerto juga melibatkan sejumlah pihak untuk memberikan perspektif yang lebih luas. Dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur hadir Arief Firman W., SKM. Sementara M. Afrianto Kurniawan, ST., M.Sc., hadir dari UNICEF.
Keterlibatan lintas pihak tersebut dimaksudkan agar penerapan kesehatan lingkungan tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang.
“Ini kami melibatkan mitra dari kesehatan supaya kesehatan tidak hanya punya perspektif sendiri,” kata Winarko.
Verifikasi lapangan turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang beserta jajaran, Danramil, Kapolsek, Camat, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Melalui verifikasi tersebut, penerapan Kesling Plus di Puskesmas Wonokerto, diuji secara langsung. Bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga bagaimana fasilitas kesehatan mengelola sampah dan limbah, menghemat energi dan air, menyediakan ruang hijau, hingga memastikan fasilitas dapat diakses secara aman dan inklusif.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Kesling Plus bukan sekadar hasil kompetisi. Yang lebih penting adalah apakah standar kesehatan lingkungan tersebut dapat terus diterapkan dan menjadi bagian dari budaya pelayanan sehari-hari di fasilitas kesehatan. (Suseno/Ra Indrata)




