MALANG POST – Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang Raya, bersama tim medis Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB), memperluas jangkauan edukasi kesehatan jantung hingga ke tingkat komunitas dan desa, guna menekan lonjakan kasus serangan jantung di usia muda, Senin (28/9/2026).
Anggapan klasik bahwa penyakit jantung, hanya mengintai kelompok lanjut usia (lansia) kini resmi gugur di lapangan. Di tengah tingginya tekanan pekerjaan, pola makan tidak sehat, hingga jam tidur yang makin berantakan, serangan jantung justru menjelma menjadi hantu mematikan yang mengintai anak-anak muda di usia produktif.
Ancaman gaya hidup itulah yang dikupas tuntas dalam dialog peringatan Hari Jantung di Malang.
Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Malang Raya, Hanik Didik Gatot Subroto, membeberkan bahwa peserta yang aktif dalam klub-klub kesehatan jantung saat ini masih didominasi kelompok lansia.
Partisipasi kelompok usia pekerja muda terpantau masih sangat minim.
Padahal, temuan lapangan YJI menunjukkan fenomena mengkhawatirkan: penyakit jantung kini kian marak menyerang kalangan usia muda.
“Banyak yang berasumsi senam jantung itu monoton dan membosankan. Karena itu, YJI mengupayakan modifikasi gerakan yang lebih energik agar masuk di akal anak muda,” ujar Hanik Didik Gatot Subroto dalam talkshow di Idjen Talk Radio City Guide FM, Senin (28/9/2026).
Hanik mengungkapkan, YJI Malang Raya saat ini mengelola sekitar 600 klub jantung yang tersebar dari wilayah perkotaan hingga pelosok desa.
Melalui klub ini, warga diajarkan untuk mengenali gejala awal penyakit jantung serta penanganan darurat yang benar.
Dari sudut pandang medis, Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB), Dr. Astrid Pramudya, Sp.JP., menegaskan bahwa penurunan kualitas kerja jantung sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang buruk.
Kurang tidur, konsumsi makanan tinggi lemak tanpa nutrisi seimbang, kebiasaan merokok, hingga stres yang tidak terkelola menjadi pemicu utama.
Dokter Astrid menyoroti secara khusus fenomena burnout atau kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan berlebihan di kalangan pekerja muda.
Burnout memicu lonjakan hormon kortisol yang membuat tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus.
“Tekanan mental pekerjaan membuat hormon kortisol dan tekanan darah naik drastis, lalu merusak sistem saraf dan metabolisme tubuh. Jika dibiarkan berlarut-larut, kinerja jantung akan terganggu dan produktivitas merosot,” terang Dokter Astrid.
Ia mengingatkan warga yang mengidap riwayat hipertensi dan Diabetes Melitus untuk disiplin mengonsumsi obat secara rutin sesuai petunjuk dokter.
Dokter Astrid turut mengurai gejala spesifik serangan jantung yang wajib diwaspadai masyarakat agar tidak terkecoh dengan gangguan psikosomatis atau asam lambung.
Gejala khas serangan jantung antara lain sesak napas, jantung berdebar keras, kaki membengkak, batuk kering, badan lemas berlebihan, serta nyeri dada di sebelah kiri.
“Nyeri dada akibat sumbatan jantung terasa khas: seperti ditekan benda tumpul yang berat, lalu rasa nyerinya menjalar ke leher, punggung, hingga ulu hati. Biasanya disertai keringat dingin, mual, dan pusing,” urai Dokter Astrid secara terperinci.
Jika merasakan gejala khas tersebut, warga diimbau untuk tidak menunda dan segera mendatangi faskes terdekat untuk melakoni rekam jantung (EKG).
Dokter Astrid berpesan agar warga—terutama kelompok lansia—tetap aktif dan produktif menjalankan hobi yang membahagiakan agar terhindar dari stres dan menjaga kesehatan jantung tetap optimal. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




