MALANG POST – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya bersama Pemerintah Kelurahan Ketawanggede menyusun Perjanjian Kerja Sama program Kampung Lingkar Kampus di Malang, Minggu (27/9/2026), guna membangun kemitraan sistemik dan tata kelola kelurahan berkelas yang berkelanjutan lintas periode kepemimpinan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat tidak boleh berhenti sebatas kegiatan seremonial yang datang dan pergi. Di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mulai membangun fondasi kerja sama jangka panjang melalui program strategis Kampung Lingkar Kampus (KLK).
Semangat tersebut mengemuka dalam forum konsinyering penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan KLK antara FILKOM UB dan Kelurahan Ketawanggede. Forum berlangsung hangat dan produktif dengan satu fokus utama: merumuskan pola kolaborasi yang sistemik, holistik, dan berkelanjutan.
Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menegaskan bahwa program KLK tidak dirancang untuk jangka pendek semata. Menurutnya, berbagai inisiatif yang telah dan akan dijalankan perlu diletakkan dalam satu kerangka kerja (framework) yang terukur agar asas kemanfaatannya terus berkembang secara konsisten.
“Sangat mungkin model kegiatan di Ketawanggede ini direplikasi ke kelurahan lingkar kampus lainnya tanpa harus memulai dari nol. Harapan utama kita adalah keberlanjutan (sustainability) yang jelas, sehingga program tidak berhenti begitu terjadi pergantian periode kepengurusan,” ujar Tri Astoto, Minggu (27/9/2026).
Bagi FILKOM UB, aspek keberlanjutan merupakan kunci utama. Sebab, pengembangan KLK tidak hanya menyangkut pelaksanaan program teknis di lapangan, melainkan juga bagaimana membangun sistem tata kelola yang dapat diteruskan, dikembangkan, serta direplikasi di wilayah lain secara mandiri.
Tri Astoto menyebutkan bahwa visi besar dari program ini adalah mendorong Kelurahan Ketawanggede bertransformasi menjadi “kampung berkelas”. Untuk mewujudkan hal tersebut, berbagai potensi riset dan pengabdian kampus akan dikonsolidasikan secara terpadu dengan kebutuhan warga lokal.
Hubungan kerja sama ini, tegasnya, bertumpu pada asas kemitraan yang setara. Perguruan tinggi tidak sekadar hadir membawa program instruktif sementara warga menjadi objek penerima manfaat. Sebaliknya, kedua belah pihak memiliki ruang yang seimbang untuk saling belajar, memberi, dan menguatkan.
“Relasi ini bersifat setara. Kedua belah pihak sama-sama saling memberi dan menerima kemanfaatan,” tegasnya.
Gagasan keberlanjutan tersebut mendapat apresiasi positif dari Lurah Ketawanggede, Raden Agung Harjaya Buana, S.E., M.SE. Ia mengonfirmasi bahwa manfaat program KLK telah dirasakan langsung oleh warga. Kendati demikian, ia menilai pelaksanaannya di masa lalu masih cenderung sporadis sehingga membutuhkan payung hukum dan peta jalan (roadmap) yang lebih kokoh.
Menurutnya, kerja sama ini memerlukan komponen penyusun (building block) yang kuat sebagai pijakan strategis setidaknya untuk kurun waktu lima tahun ke depan.
Hal tersebut krusial mengingat rotasi kepemimpinan di tingkat kelurahan dapat terjadi sewaktu-waktu. Dengan fondasi kerja sama formal yang mengikat, keberlanjutan program tidak akan bergantung pada figur lurah yang sedang menjabat.
“Siapa pun lurahnya kelak, fondasinya telah terbangun dan tinggal dilanjutkan. Kami melihat KLK bukan sekadar program sepihak, melainkan kolaborasi yang saling menguatkan. Warga merasakan dampak positifnya, dan kampus mendapatkan ruang nyata untuk mengabdi serta belajar dari dinamika masyarakat,” ungkap Agung.
Dalam konsinyering tersebut, jajaran FILKOM UB dan Kelurahan Ketawanggede membedah sejumlah program prioritas. Salah satu fokus utama yang disepakati adalah sistem pengolahan sampah dan kelestarian lingkungan bantaran sungai yang masih perlu diperkuat.
Sementara itu, digitalisasi tata kelola persuratan di lingkungan kelurahan telah berjalan sukses dan menjadi bukti konkret pemanfaatan teknologi informasi FILKOM UB dalam meningkatkan efisiensi pelayanan publik.
Kolaborasi ini juga menyasar aspek konservasi lingkungan. Sebelumnya, tim KLK FILKOM UB telah melakukan penanaman pohon pisang dan bambu konservasi di sepanjang bantaran Sungai Brantas pada 28 Mei 2026 sebagai langkah mitigasi erosi dan penataan kawasan hijau.
Program KLK FILKOM UB ini merupakan kelanjutan dari pemetaan wilayah (zoning mapping) yang dilakukan tim KLK di Ketawanggede untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan riil warga.
Ketua KLK FILKOM UB, Ir. Edy Santoso, S.Si., M.Kom., bertindak sebagai moderator dalam mengawal penyusunan poin-poin kesepakatan tersebut.
Forum strategis ini turut dihadiri Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya FILKOM UB, Dr. Eng. Gembong Edhi Setyawan, S.T., M.T.; Ketua Smart Green Campus (SGC) FILKOM UB, Dr. Tibyani, S.T., M.T.; serta Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd.
Dari unsur tokoh masyarakat Kelurahan Ketawanggede, hadir drg. Dani Sugeng selaku Ketua RT 04 RW 03 sekaligus Wakil Ketua Karang Taruna, serta Wahyu Kristiyansyah, pegiat pemasar digital (digital marketer) dan Ketua Karang Taruna periode 2021. Keduanya memaparkan rekam jejak program kemasyarakatan yang telah berjalan.
Konsinyering ini diproyeksikan menghasilkan naskah PKS yang tidak hanya legitiem secara administratif, melainkan menjadi peta jalan kolaborasi FILKOM UB dan Kelurahan Ketawanggede dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, KLK bukan sekadar pameran program perguruan tinggi di pemukiman warga, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, teknologi terapan, kelestarian lingkungan, dan kebutuhan riil masyarakat.
Sinergi ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




