MALANG POST – Lima gunungan berisi hasil bumi berjajar dalam tradisi ruwatan dan bersih Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Bukan sekadar menjadi simbol kemeriahan, gunungan tersebut menjadi ungkapan syukur warga sekaligus penanda bahwa tradisi Jawa masih dirawat di tengah kehidupan masyarakat.
Tradisi Jawa masih hidup di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Setiap tahun, Pemerintah Desa Malangsuko bersama masyarakat menggelar ruwatan dan bersih desa yang dikemas dalam tradisi sedekah bumi.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga untuk berkumpul, menjaga kerukunan, sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh selama setahun.
Ruwatan dan bersih desa tahun ini digelar Minggu (20/9/2026). Sejumlah tokoh hadir menyaksikan prosesi tersebut. Di antaranya Camat Tumpang Hendra Tritjahjono, S.Sos., M.Si., tujuh mantan Camat Tumpang, tokoh masyarakat, ulama, serta berbagai unsur masyarakat.
Kepala Desa Malangsuko Soleh mengatakan, ruwatan dan sedekah bumi tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan kerukunan masyarakat.
“Rasa kenyamanan ketika proses pelaksanaan semakin melekat, dan tradisi ruwatan itu semakin terasa dengan ditampilkannya ugo rampe gunungan hasil bumi dari sejumlah dusun. Ada lima gunungan yang berisi hasil panen masyarakat setempat,” ungkap Soleh, Senin (21/9/2026).
Lima gunungan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam prosesi sedekah bumi. Hasil pertanian yang dikumpulkan dalam bentuk gunungan sekaligus menggambarkan potensi pertanian yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Malangsuko.

Berlangsungnya Kegiatan Ruwatan dan Bersih Desa Malangsuko Kec.Tumpang Kab.Malang. (Foto: Nino Wiwantara/Malang Post)
Simbol Syukur dan Harapan
Bagi masyarakat Malangsuko, hasil bumi bukan sekadar komoditas pertanian. Hasil panen menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghidupan warga.
Karena itu, sedekah bumi menjadi cara masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas hasil yang diperoleh. Tradisi tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan harapan agar kehidupan masyarakat dan pertanian di desa semakin baik.
“Saya berharap semoga dengan digelarnya acara ruwatan dan bersih desa ini akan menambah kerukunan antarwarga dan bisa menjadikan Desa Malangsuko semakin maju dan berkembang serta tidak lupa agar terhindar dari bencana,” papar Soleh.
Ia juga berharap ketulusan warga dalam menjalankan tradisi tersebut membawa keberkahan bagi sektor pertanian dan kehidupan masyarakat.
“Saya sangat berterima kasih dengan adanya keikhlasan warga dalam melakukan sedekah bumi ini. Semoga hasil pertanian di desa semakin subur, rezekinya juga melimpah ruah,” harapnya.
Soleh berharap Desa Malangsuko ke depan dapat menjadi desa yang gemah ripah loh jinawi. Hasil pertanian melimpah, sementara kehidupan masyarakat berlangsung makmur, tenteram dan sejahtera.
“Alhamdulillah, akhirnya Desa Malangsuko menjadi desa yang gemah ripah loh jinawi, melimpah hasil panennya, makmur, tenteram dan sejahtera masyarakatnya,” tambahnya.
Menjaga Jati Diri
Ketua panitia kegiatan bersih desa, Jailani, mengatakan tradisi ruwatan dan bersih desa perlu terus dilestarikan. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Pelaksanaan ruwatan dan bersih yang dilakukan di Desa Malangsuko adalah bentuk untuk mewujudkan jati diri kita sebagai orang Jawa dan kita tidak boleh melupakan sejarah,” tandas Jailani.
Menurut dia, keberadaan tradisi lokal tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai gotong royong, kerukunan dan rasa syukur menjadi bagian yang terlihat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi itu pun menjadi ruang pertemuan antara budaya, kehidupan sosial dan pertanian masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, warga Malangsuko memilih tetap merawat tradisi tersebut. Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan yang tumbuh dari budaya masyarakat setempat. (Nino Wiwantara)




