MALANG POST – Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang mengolah limbah rambut jagung manis dari Desa Sragi, Talun, Blitar, menjadi produk teh artisan anti-stres bermerek Zeazen Herbal Tea di Malang, Senin (21/9/2026), guna meningkatkan perekonomian petani lokal dan mengatasi limbah pertanian.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi melalui inovasi kreatif berbahan dasar alam. Sekelompok mahasiswa berhasil menyulap limbah pertanian berupa rambut jagung manis menjadi teh artisan bernilai jual tinggi melalui terobosan yang memadukan rambut jagung, daun mint, dan bunga melati.
Gagasan penciptaan produk yang diberi nama Zeazen Herbal Tea ini bermula dari kepedulian mahasiswa terhadap banyaknya limbah pertanian yang terbuang sia-sia. Salah satu anggota tim, Zakiy Zamzi, menyatakan bahwa inovasi tersebut berawal dari niat untuk mengurangi sisa panen jagung di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.
”Oleh karena itu, kami mengolah rambut jagung menjadi teh yang dapat merelaksasi konsumen. Dari tahun ke tahun, pelajar dan pekerja pasti memiliki tekanan beban pikiran sehingga mereka membutuhkan relaksasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, teh artisan ini tidak hanya mengandalkan rambut jagung, melainkan dipadukan dengan tanaman herbal lain yang memiliki efek penenang. Ia memaparkan bahwa campuran daun mint dan bunga melati dipilih karena memiliki senyawa fungsional spesifik yang efektif meredakan stres pada kesehatan mental maupun fisik.

“Rambut jagung memiliki kandungan senyawa flavonoid seperti maysin dan luteolin sebagai antioksidan. Daun mint mengandung rosmarinic acid dan mentol yang memberikan sensasi segar, sedangkan bunga melati kaya akan senyawa volatil seperti linalool yang mendukung pengalaman sensoris agar lebih rileks,” paparnya.
Dalam proses pengembangannya yang dimulai sejak April lalu, tim yang berada di bawah bimbingan dosen Teknologi Pangan UMM, Ayu Diawi, S.TP., M.Sc., harus memastikan standar dan kualitas bahan baku. Ia menjelaskan bahwa bahan utama yang digunakan secara spesifik adalah jenis jagung manis yang diolah dengan cara dikeringkan, kemudian dihaluskan secara presisi.
”Kami memperoleh rambut jagung manis dari Blitar dalam kondisi kering, lalu diblender halus tanpa menghilangkan serat kandungannya, kemudian digabungkan sesuai dengan persentase formula ke dalam kantong teh,” tambahnya.
Pemanfaatan limbah ini turut memberikan angin segar bagi para petani di daerah pemasok yang selama ini cenderung mengabaikan sisa hasil panen. Zakiy menyebutkan bahwa sebelum adanya inisiatif inovasi ini, rambut jagung manis di Desa Sragi tidak memiliki nilai ekonomis dan hanya berakhir menjadi sampah di lahan pertanian.
”Rata-rata dari mereka membuang dan membakarnya sehingga tidak termanfaatkan,” jelasnya.
Saat ini, produk teh celup artisan tersebut sudah memasuki tahap komersialisasi awal dengan menawarkan varian kemasan premium yang dibanderol dengan harga Rp75.000 hingga Rp100.000 per kemasan. Selain memberikan efek rileks dan menstabilkan kadar gula darah, konsumen wanita juga melaporkan adanya penurunan rasa nyeri saat siklus menstruasi setelah mengonsumsi teh ini.
Program yang mendapat pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini diharapkan tidak sekadar menjadi produk wirausaha kampus yang lolos pendanaan semata. Through pemanfaatan limbah secara maksimal, langkah taktis ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan yang meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




