MALANG POST – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mengungkap potret krisis regenerasi pertanian di mana dari total 20 ribu petani yang terdata, hanya 10 persen atau sekitar 2.000 orang yang masuk kategori petani muda berusia 19 hingga 40 tahun, Senin (21/9/2026).
Mencetak generasi muda agar bersedia turun ke sawah dan mencangkul tanah tidak bisa lagi hanya mengandalkan imbauan moral di atas kertas. Di tengah masifnya alih fungsi lahan dan himpitan ekonomi, pertanian harus ditransformasi menjadi bisnis modern yang menjanjikan masa depan cerah.
Tantangan berat itulah yang kini membelit sektor pertanian di Kota Batu.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hariyadi Agung Setiyana, membeberkan bahwa dari 20 ribu petani yang terdata di wilayahnya, hanya ada dua ribu petani muda berusia 19 hingga 40 tahun.
Rendahnya minat anak muda ini dipicu oleh anggapan bahwa bertani membutuhkan proses kerja panjang, namun hasilnya sering kali tidak sebanding dengan jerih payah.
”Regenerasi petani perlu terus didorong agar sektor pertanian Kota Batu tetap berkelanjutan. Kekompakan petani muda serta penguatan kelompok tani menjadi kuncinya,” ujar Hariyadi dalam talkshow Idjen Talk Radio City Guide FM, Senin (21/9/2026).
Pandangan senada diutarakan Dosen Magister Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya, Dr. Sujarwo.
Sujarwo menegaskan bahwa mengajak anak muda bertani tidak cukup hanya dengan imbauan, melainkan harus dibuktikan bahwa pertanian mampu memberikan prospek kehidupan yang sangat layak.
Teknologi modern dan kelembagaan koperasi wajib diterjunkan untuk menggenjot produksi serta membaca kebutuhan pasar agar petani terlindung dari fluktuasi harga.
”Pertanian jangan cuma berorientasi pada produksi, tetapi harus mampu membaca permintaan pasar dan mengelola risiko,” terang Sujarwo.
Sementara itu, praktisi Petani Muda Kota Batu, Rifki Nur Ardian Firmansyah, menyoroti pentingnya pola pendampingan yang berkelanjutan.
Rifki yang telah bergelut di dunia pertanian sejak 2017 ini menegaskan bahwa pelatihan bagi calon petani tidak boleh berhenti saat acara seremonial usai.
”Pelatihan harus berlanjut dengan pendampingan dari hulu ke hilir sampai petani muda bisa menghasilkan produk, memasarkannya, dan mencetak untung nyata,” tegas Rifki.
Rifki mendorong terbentuknya wadah komunitas petani muda agar profesi ini makin berkelas, menguntungkan, dan diminati generasi penerus. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




