MALANG POST – Kebakaran hutan dan lahan hanguskan dua hektare vegetasi di Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Batu, Kota Batu, dua hari berturut-turut hingga Senin (21/9/2026), akibat bara sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan warga tanpa pengawasan.
Bara sisa pembakaran serasah kembali menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Batu. Dalam dua hari berturut-turut, api membakar vegetasi hutan produksi di wilayah Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Batu.
Dua kejadian tersebut sama-sama diduga berawal dari sisa pembakaran daun dan ranting kering yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Bara yang belum sepenuhnya padam kemudian kembali menyala dan merambat ke vegetasi hutan di sekitarnya.
Karhutla pertama terjadi pada Minggu (20/9/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Api muncul di kawasan hutan produksi Petak 26 Rencana Pengaturan Hutan (RPH) Punten, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Berdasarkan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, vegetasi yang terbakar mencapai sekitar satu hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, mengatakan bahwa sumber api diduga berasal dari sisa aktivitas pembakaran serasah. Pembakaran tersebut diduga ditinggalkan sebelum bara benar-benar padam.

PEMADAMAN: Petugas BPBD Kota Batu bersama personel gabungan saat berjibaku memadamkan karhutla yang diduga berasal dari sis pembakaran serasah. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Bara api yang belum benar-benar padam kemudian kembali menyala dan merambat ke area vegetasi hutan produksi di sekitarnya,” kata Suwoko, Senin (21/9/2026).
Petugas gabungan langsung melakukan pemadaman secara manual. Penanganan melibatkan BPBD, Perhutani, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), perangkat Desa Punten, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Batu Makmur, perlindungan masyarakat (linmas), Corre Indonesia, serta warga setempat.
Setelah api berhasil dilokalisasi, petugas melakukan pendinginan dan penyisiran di sekitar lokasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala.
Belum selesai persoalan karhutla pertama, kejadian serupa kembali terjadi sehari berselang. Pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 10.30 WIB, api muncul di Petak 228A RPH Oro-Oro Ombo Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pujon, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu.
Kali ini, vegetasi pohon pinus seluas sekitar satu hektare hangus terbakar. Berdasarkan kaji cepat BPBD, kebakaran juga diduga dipicu oleh sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan begitu saja.
“Sumbernya diduga berasal dari sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan tanpa pengawasan,” ujar Suwoko.
Bara api kemudian membesar dan merambat ke kawasan hutan produksi. Petugas gabungan bergerak melakukan pemadaman secara manual serta membuat sekat bakar untuk menghentikan pergerakan api.

Setelah kobaran berhasil dipadamkan, petugas kembali melakukan penyisiran dan pendinginan di area terdampak. Langkah itu sekaligus untuk memastikan tidak ada titik api tersisa yang dapat kembali memicu kebakaran, terutama ketika tertiup angin kencang.
Dua kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Api juga berhasil dikendalikan sebelum menjalar lebih luas ke kawasan hutan lainnya.
Berulangnya karhutla dalam dua hari terakhir membuat BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pembakaran serasah, terutama di sekitar kawasan hutan.
Suwoko meminta masyarakat untuk memastikan api dan bara benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Aktivitas pembakaran juga sebaiknya dihindari ketika kondisi cuaca kering disertai angin kencang.
“Pastikan api benar-benar padam dan tidak menyisakan bara sebelum ditinggalkan. Jika menemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani sebelum meluas,” tegasnya. (Ananto Wibowo)




