MALANG POST – Tim relawan Universitas Muhammadiyah Malang menerjunkan 11 personel ke Desa Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, hingga 26 September 2026, guna memasang alat filtrasi air bersih WTP, serta memberikan bantuan psikososial dan logistik medis bagi penyintas gempa Flores.
Di tengah keterbatasan akses air bersih pascagempa Flores, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir membawa solusi. Selain memberikan dukungan psikososial dan bantuan logistik, UMM memasang alat filtrasi Water Treatment Purification (WTP) untuk memenuhi kebutuhan air bersih penyintas di Reo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah ini selaras dengan amanah UMM sebagai Chair on Sustainable Water Ecosystem oleh UNESCO dalam merawat pengelolaan air berkelanjutan. Kegiatan tersebut didukung dan didanai melalui program pengabdian internal Kampus Putih.
Tim UMM ditempatkan di Desa Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT. Rombongan yang berangkat pada 26 Agustus 2026 dan dijadwalkan bertugas hingga 26 September 2026 tersebut terdiri atas 11 orang, yakni delapan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana UMM), dua dosen, dan satu anggota Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program UMM Berbagi untuk Negeri dan dilaksanakan melalui kolaborasi bersama MDMC PWM Jawa Timur. Dosen UMM yang turut dalam kegiatan tersebut, Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menjelaskan bahwa perjalanan menuju lokasi dilakukan melalui jalur laut dan darat. Tim berangkat menggunakan kapal pada 26 Agustus dan tiba di wilayah Flores pada 28 Agustus. Setelah melanjutkan perjalanan darat sekitar 12 jam, rombongan tiba di lokasi penugasan pada 29 Agustus malam.

“Dua hari kami di kapal, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sekitar 12 jam. Sampai di tempat penugasan di Reo pada 29 Agustus malam,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, tim melakukan asesmen untuk memetakan kebutuhan penyintas. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah keterbatasan akses air bersih akibat kerusakan instalasi perpipaan pascagempa.
Sebagai respons, UMM membawa dan memasang alat filtrasi air atau Water Treatment Purification (WTP) di Pos Layanan Muhammadiyah Reok yang berada di Pondok Pesantren Pancasila. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi penyintas, relawan, dan santri pondok pesantren. Alat filtrasi itu juga dihibahkan sehingga dapat digunakan secara berkelanjutan.
“Gempa merusak banyak instalasi pipa air sehingga sebagian masyarakat tidak mendapatkan air bersih. Alat yang kami bawa digunakan untuk memurnikan air keruh,” jelas Iis.
Selain pemasangan filtrasi air, bantuan yang disalurkan meliputi obat-obatan, logistik dapur umum, perlengkapan keluarga (family kit), popok dewasa, alas tidur, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. Bantuan medis disalurkan melalui tim Emergency Medical Team (EMT) di rumah sakit sementara, mengingat Kampus Putih juga mengirimkan dukungan tim medis melalui Rumah Sakit UMM.
Di bidang pemulihan psikologis, mahasiswa UMM memberikan layanan dukungan psikososial kepada penyintas di sejumlah titik. Kegiatan tersebut dilakukan di Kampung Nunang, Desa Reo, MIN 2 Manggarai, serta Dusun Nanganae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat.

Mahasiswa juga terlibat dalam pengelolaan dapur umum di Kampung Nunang. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menangani kebutuhan air bersih, layanan psikososial, dan dukungan logistik masyarakat.
“Adik-adik mahasiswa saat ini terbagi dalam beberapa kelompok. Ada yang memasang WTP, ada yang ke Desa Nunang, dan ada yang menuju Kampung Nelayan di Reok Barat,” tuturnya.
Sebanyak empat mahasiswa dalam tim tersebut juga menjalankan KKN Kebencanaan. Program ini menjadi bagian dari upaya UMM mengintegrasikan pembelajaran mahasiswa dengan pengabdian langsung di wilayah terdampak bencana.
Keberadaan relawan UMM di Flores diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar penyintas, melainkan juga menjadi bagian dari proses pemulihan pascagempa.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, UMM berkomitmen untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak bencana, sekaligus memastikan bantuan dapat berkelanjutan dan menjangkau kebutuhan penyintas secara lebih luas. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




