MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman memimpin briefing pemantapan di Ruang Kerja Wali Kota pada Selasa (1/9/2026) untuk mempersiapkan presentasi nasional seleksi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027. Kota Batu mengusung konsep “Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy” di hadapan Panitia Seleksi Nasional pada 2 September 2026.
Kota Batu terus mematangkan langkah strategis menuju penobatan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027. Setelah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Tahap I oleh Kementerian Ekonomi Kreatif, kini Kota Batu bersiap menghadapi tahap presentasi nasional dengan mengusung narasi “Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy.”
Pemantapan materi dilakukan melalui briefing strategis yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, di Ruang Kerja Wali Kota Batu pada Selasa (1/9/2026). Pertemuan ini menjadi tahap akhir penyelarasan materi paparan, penguatan narasi dossier, sekaligus konsolidasi lintas perangkat daerah sebelum proposal nominasi dipresentasikan di hadapan Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) pada Rabu (2/9/2026).
Nurochman menyampaikan bahwa kelolosan di tahap awal menjadi modal berharga bagi Kota Batu untuk melanjutkan perjuangan di tingkat nasional.

MATANGKAN: Wali Kota Batu Nurochman saat memimpin briefing strategis menghadapi prestasi nasional menuju UCCN 2027. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Ini menjadi tahapan penting untuk menyampaikan visi, tata kelola, dampak, serta kontribusi Kota Batu sebagai calon anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO,” kata Wali Kota yang akrab disapa Cak Nur tersebut.
Dalam sesi presentasi nasional mendatang, Kota Batu akan diwakili oleh empat tokoh delegasi, yakni Wali Kota Batu Nurochman, Kepala Bappelitbangda Bangun Yulianto, Ketua BPC PHRI Kota Batu Sujud Hariadi, serta Koordinator Tim Dossier UCCN Alan W. Hafiluddin.
Sesuai ketentuan seleksi, tim Kota Batu mendapat durasi waktu 10 menit untuk memaparkan dossier nominasi di hadapan Panselnas. Yang menarik, kekuatan Kota Batu tidak hanya ditawarkan lewat keanekaragaman kuliner belaka, melainkan menempatkan gastronomi sebagai bagian integral dari ekosistem kehidupan masyarakat pegunungan.
Cak Nur menegaskan, keikutsertaan dalam ajang UCCN menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Kota Batu sebagai pusat Agrocreative Gastronomy di Indonesia.
Lima Pilar Utama Ekosistem Living Mountain Gastronomy
Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Muhammad Anwar, menjelaskan bahwa konsep tersebut dirangkum dalam gagasan Living Mountain Gastronomy Ecosystem. Artinya, gastronomi dipandang sebagai warisan budaya yang hidup (living heritage) dan terus berkembang di tengah warga.
“Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy merupakan konsep yang memandang gastronomi sebagai warisan budaya hidup. Identitas ini dibangun dari hubungan antara bentang alam pegunungan, tradisi agraris, petani, UMKM pangan, hingga pengalaman wisata yang berkelanjutan,” jelas Anwar.

Terdapat lima pilar kekuatan utama yang menjadi pembeda unggulan Kota Batu dalam dossier UCCN:
- Mountain Agriculture: Pertanian dataran tinggi yang memproduksi komoditas unggulan seperti apel, jeruk, stroberi, kopi, susu, hingga aneka tanaman hortikultura.
- Living Food Heritage: Tradisi olahan pangan lokal khas seperti Sego Empok, Jenang Suro, Serabi Suro, dan Tempe Beji yang tetap terjaga keberadaannya.
- Community-Based Food System: Ekosistem pangan terpadu yang melibatkan petani, kelompok tani, koperasi, UMKM, pasar rakyat, industri perhotelan, restoran, hingga desa wisata.
- Tourism as a Market: Tingginya arus kunjungan wisatawan yang menjadi pasar potensial penyerapan produk pangan lokal sekaligus wadah edukasi gastronomi.
- Farm-to-Experience: Konsep pengintegrasian lahan pertanian dengan pengalaman berwisata melalui 24 desa wisata, sentra produksi, kebun petik, festival budaya, hingga destinasi kuliner.
Melalui pendekatan ini, gastronomi tidak sekadar ditempatkan sebagai produk jualan wisata semata, melainkan bagian dari strategi makro pembangunan Kota Batu untuk menjawab tantangan regenerasi petani, pencegahan alih fungsi lahan, dampak perubahan iklim, hingga peningkatan daya saing produk lokal.
Konsolidasi nominasi ini turut mengusung pendekatan Hexahelix yang melibatkan kolaborasi lintas sektor. Rapat pemantapan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappelitbangda, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepala Diskumdag, Kepala Diskominfo, Kabag Perekonomian dan SDA, serta perwakilan akademisi, komunitas, dan pegiat industri kreatif.
Jejaring ekosistem ini disokong pula oleh regulasi daerah, jejaring PHRI, 24 desa wisata, perguruan tinggi, serta kemitraan internasional bersama mitra dari Jepang, Belanda, dan sejumlah lembaga global di bidang pertanian berkelanjutan.
“From Mountain Agriculture to Global Gastronomy bukan sekadar slogan. Ini visi Kota Batu untuk menjadikan kekayaan lokal sebagai kontribusi Indonesia bagi jejaring kota kreatif dunia,” tegas Cak Nur. (Ananto Wibowo)




