SUPLAI: BPBD Kabupaten Malang, saat menyalurkan air bersih di Tumpakrejo, Gedangan, untuk menanggulangi krisis air akibat kekeringan. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, menetapkan status tanggap darurat dan menyalurkan total 170 ribu liter air bersih, guna menanggulangi krisis air yang menimpa 7.606 jiwa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Gedangan, akibat dampak El Nino, Selasa (18/8/2026).
Musim kemarau panjang kembali membawa kabar miris. Fenomena El Nino mulai memukul sejumlah kawasan di Jawa Timur.
Di Kabupaten Malang, dampaknya makin nyata. Sumber-sumber air warga mendadak mengering.
Dua kecamatan di wilayah Malang Selatan dilaporkan paling parah. Warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan harian.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, membeberkan wilayah terdampak. Krisis air melanda Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Gedangan.
Tiga desa tercatat mengalami kekeringan cukup parah. Dua desa berada di Sumbermanjing Wetan, yakni Desa Sumberagung dan Desa Sitiarjo. Satu desa lagi berada di Kecamatan Gedangan, yaitu Desa Tumpakrejo.
“Sejak awal Agustus ketiga desa ini mulai kesulitan air. Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih secara berkala,” terang Purwoto, Selasa (18/8/2026).
Penyaluran air dilakukan marathon oleh petugas gabungan. BPBD menerjunkan armada tangki air ke lokasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto. (Foto: Istimewa)
Kecamatan Gedangan menjadi salah satu titik fokus distribusi. Air disalurkan ke Desa Tumpakrejo sejak 12 Agustus 2026.
Hingga Selasa (18/8/2026), total air yang disalurkan ke Tumpakrejo mencapai 75 ribu liter. Pasokan ini melayani 1.257 kepala keluarga atau setara 3.995 jiwa.
Sementara itu, penanganan krisis di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dipusatkan di Desa Sumberagung. Bantuan menyasar 967 kepala keluarga atau 3.611 jiwa.
Distribusi air bersih di Sumberagung dimulai sejak 8 Agustus 2026. Total air yang dikucurkan mencapai 80 ribu liter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengonfirmasi detail angka tersebut. Pasokan air tidak hanya disalurkan ke rumah warga.
BPBD juga menyuplai kebutuhan fasilitas kesehatan vital. Puskesmas Sitiarjo mendapat jatah khusus sebanyak 15 ribu liter air sejak 9 hingga 16 Agustus 2026.
“Secara keseluruhan, distribusi air bersih sejak 8 sampai 18 Agustus sudah mencapai 170 ribu liter,” ujar Sadono, Selasa (18/8/2026).
Total penerima manfaat bantuan air bersih ini mencapai 2.224 KK. Angka tersebut mencakup sekitar 7.606 jiwa warga terdampak.
Aksi tanggap darurat ini tidak dilakukan sendirian. BPBD menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang.
Perangkat desa setempat dan tenaga medis Puskesmas Sitiarjo ikut terjun. Semua elemen bahu-membahu membagikan air kepada warga.
Sadono menegaskan bahwa distribusi air merupakan bagian dari penanganan tanggap darurat. Pemerintah daerah telah menyusun strategi khusus.
Permukiman penduduk menjadi prioritas utama suplai air. Fasilitas kesehatan dan sekolah juga mendapat perhatian serupa.
Penyediaan titik suplai air terus dikoordinasikan. BPBD berkoordinasi dengan dinas terkait hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
BPBD Kabupaten Malang kini meningkatkan kewaspadaan. Pemantauan terhadap wilayah rawan kekeringan terus dilakukan.
Berdasarkan hasil survei kekeringan 2026, beberapa desa lain berpotensi terdampak. Potensi kekeringan mengintai kawasan selatan dan timur.
Desa-desa yang masuk radar potensi rawan antara lain Puturejo, Sumberpetung, dan Sumberoto. Desa Tambaksari, Kedungbanteng, Segaran, dan Gajarejo juga terus dipantau. (Ra Indrata)




