PANEN RAYA: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat memetik buah apel dalam panen raya di Kebun Apel Desa Tulungrejo. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Ikon pertanian Kota Batu, buah apel, didorong agar semakin dekat dengan masyarakat. Salah satunya melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah. Pemkot Batu berharap apel lokal bisa menjadi bagian dari menu yang disajikan dalam program tersebut.
Harapan itu disampaikan Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat menghadiri panen raya apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kamis (9/4/2026).
Menurut Cak Nur, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seharusnya memanfaatkan buah apel lokal sebagai salah satu menu MBG bagi para siswa. Selain bernilai gizi tinggi, langkah tersebut juga akan membantu menjaga keberlanjutan ekonomi petani apel di Kota Batu.
“SPPG seharusnya menggunakan buah apel Kota Batu sebagai salah satu menu MBG di sekolah. Ketersediaannya cukup dan kualitasnya juga bagus,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa panen apel yang dilakukan petani hari ini menjadi bukti bahwa produksi apel di Kota Batu masih eksis dan mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. Karena itu, menurutnya, apel Batu harus terus dipromosikan agar kembali berjaya.
“Kami hadir untuk memberikan dukungan kepada petani apel. Buah apel kita masih eksis. Kalau ada kekurangan, mari kita perbaiki bersama,” kata Cak Nur.

Ia menambahkan, kehadiran pemerintah dalam kegiatan panen raya bukan sekadar seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya membangkitkan kembali semangat petani sekaligus menunjukkan bahwa apel masih menjadi kebanggaan Kota Batu.
“Hari ini bukan sekadar panen raya, tapi juga eksposur bahwa apel Batu masih sangat membanggakan. Di Tulungrejo saja ada sekitar 300 hektare kebun apel yang harus terus kita jaga keberlangsungannya,” ungkapnya.
Meski demikian, upaya menjaga eksistensi apel tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu persoalan utama yang dihadapi petani adalah mahalnya pupuk dan terbatasnya subsidi dari pemerintah pusat.
Cak Nur menilai kebijakan subsidi pupuk yang berlaku saat ini belum sepenuhnya berpihak pada daerah dengan karakter pertanian hortikultura seperti Kota Batu.
Menurut dia, kebijakan subsidi selama ini lebih banyak menyasar sektor pertanian lahan basah atau sawah, sementara pertanian di Kota Batu mayoritas berada di lahan kering atau tegalan.
“Kota Batu ini pertaniannya hortikultura. Maka kebutuhan pupuk juga harus sampai di tegal, bukan hanya di sawah. Kebijakan pusat seharusnya tidak hanya melihat pertanian basah saja,” tegasnya.
Karena itu, ia berencana menyurati kementerian terkait untuk menyampaikan kondisi riil yang dihadapi petani di daerah pegunungan seperti Kota Batu.
Ia juga telah meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu untuk segera menyusun laporan komprehensif sebagai bahan surat resmi kepada pemerintah pusat.
“Supaya pusat tahu bahwa di Kota Batu ini ada komoditas apel dan hortikultura lain yang juga membutuhkan perhatian. Kebijakan harus berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan dipukul rata,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Cak Nur tetap optimistis sektor pertanian Kota Batu mampu bangkit. Jika pada 2025 pertumbuhan sektor pertanian hanya sekitar 1,5 persen, ia berharap pada 2026 angka tersebut bisa meningkat.
Selama ini, keberlanjutan apel Batu masih bertahan berkat kegigihan para petani yang tetap merawat kebunnya secara mandiri. Ketua Kelompok Tani Maju 01, Suherman mengungkapkan, bahwa penghapusan subsidi pupuk untuk lahan kering membuat biaya produksi semakin tinggi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa apel Batu masih ada. Tapi kami berharap pemerintah pusat benar-benar memperhatikan masalah pupuk. Karena Batu ini bukan kawasan pertanian sawah yang mendapatkan subsidi,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan kebijakan sangat dibutuhkan agar petani tetap mampu bertahan dan menjaga keberlanjutan komoditas apel yang telah lama menjadi identitas Kota Batu. (Ananto Wibowo)




