MALANG POST – Alokasi pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian di Kota Batu pada tahun anggaran 2026 mengalami peningkatan cukup signifikan. Pemerintah menambah jatah pupuk sebanyak 188 ton dibanding tahun sebelumnya. Dengan tambahan tersebut, total alokasi pupuk subsidi yang diterima Kota Batu tahun ini mencapai 1.054 ton, naik dari 866 ton pada 2025.
Penambahan ini diharapkan mampu menopang kebutuhan petani di tengah meningkatnya biaya produksi pertanian. Mulai dari harga sarana produksi hingga biaya operasional yang terus merangkak naik dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno mengatakan, alokasi pupuk subsidi tersebut telah dihitung berdasarkan kebutuhan petani di masing-masing wilayah. Pemerintah daerah juga menyesuaikannya dengan luas lahan serta jenis komoditas yang banyak dibudidayakan petani.
“Distribusi sudah dihitung berdasarkan kebutuhan petani di masing-masing kecamatan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Dari total alokasi 1.054 ton pupuk bersubsidi tersebut, komposisi terbesar masih didominasi pupuk NPK dan urea. Pupuk NPK menjadi yang paling banyak dialokasikan dengan total 599 ton. Disusul pupuk urea sebanyak 399 ton.
Selain dua jenis utama tersebut, pemerintah juga mengalokasikan pupuk organik sebanyak 53 ton. Kemudian pupuk NPK formula khusus sebanyak 2 ton, serta pupuk ZA sebanyak 1 ton.
Distribusi pupuk bersubsidi itu tersebar di tiga kecamatan yang menjadi sentra pertanian di Kota Batu, yakni Kecamatan Junrejo, Kecamatan Batu, dan Kecamatan Bumiaji.

PUPUK SUBSIDI: Petani Kota Batu saat melakukan pemupukan tanamnya, tahun ini pupuk subsidi di Kota Batu meningkat jadi 1.054 ton. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kecamatan Junrejo menjadi wilayah penerima alokasi pupuk terbesar tahun ini. Di wilayah tersebut, petani mendapat jatah pupuk urea sebanyak 291 ton dan pupuk NPK sebanyak 304 ton. Selain itu, Junrejo juga memperoleh tambahan pupuk NPK formula khusus sebanyak 2 ton serta pupuk organik sebanyak 1 ton.
Sementara itu, Kecamatan Batu memperoleh alokasi pupuk urea sebanyak 75 ton dan pupuk NPK sebanyak 115 ton. Sedangkan Kecamatan Bumiaji mendapat jatah pupuk urea sebanyak 33 ton dan pupuk NPK sebanyak 180 ton. Wilayah ini juga menerima tambahan pupuk organik dalam jumlah cukup besar, yakni 52 ton, serta pupuk ZA sebanyak 1 ton.
Untuk memastikan distribusi berjalan lancar, penyaluran pupuk dilakukan melalui empat distributor resmi. Masing-masing satu distributor berada di Kecamatan Batu dan Kecamatan Junrejo. Sementara dua distributor lainnya berada di Kecamatan Bumiaji.
“Keberadaan distributor tersebut diharapkan mampu mempercepat distribusi pupuk hingga ke tingkat kios resmi dan kelompok tani. Dengan begitu, kebutuhan pupuk petani dapat terpenuhi tepat waktu, terutama saat memasuki musim tanam,” paparnya.
Meski alokasi pupuk tahun ini meningkat, pemerintah daerah tetap menaruh perhatian pada pengawasan distribusi di lapangan. Hal ini penting untuk memastikan pupuk benar-benar sampai kepada petani yang berhak sesuai data penerima dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
Selain itu, efektivitas penggunaan pupuk juga menjadi perhatian. Tanpa pengelolaan yang tepat, tambahan alokasi pupuk tidak serta-merta berdampak langsung pada peningkatan produksi pertanian.
“Kami berharap peningkatan kuota pupuk bersubsidi ini mampu dimanfaatkan secara optimal oleh para petani. Dengan dukungan sarana produksi yang lebih memadai, produktivitas pertanian di Kota Batu diharapkan tetap terjaga sekaligus mampu menopang ketahanan pangan daerah,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




