Balita Hindun saat menjalani imunisasi Campak yang ditinjau Walikota Malang, Wahyu Hidayat. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Di antara anak-anak balita yang mengikuti program imunisasi kejar serentak ( Catch Up Campaign/CUC) Campak di Posyandu RW 03, Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang, Senin (6/4/2026), ada yang kembar tiga. Mereka adalah Al Hasan, Al Husein dan Hindun. Semuanya berusia 4 tahun. Putera dari pasangan suami istri, Indra Maulana dan Ade Irma, warga Bunulrejo.
Al Hasan dan Al Husein mendapat imusasi Campak sebelum program imunisasi ini ditinjau Walikota Malang, Wahyu Hidayat. Al Hasan mendapat imunisasi pertama dan disusul kemudian adiknya Al Husein. Saat mendapat suntikan imunisasi dari petugas, keduanya tak mampu menahan tangis.
Tangis serupa juga dialami Hindun dan Zazkia (14 bulan) serta balita lain, saat pelaksanaan imunisasi ditinjau Walikota Wahyu Hidayat. Menurut Ade Irma, ketiga anaknya sudah mendapat imunisasi lengkap. Ade Irma menyadari bahwa segala imunisasi, termasuk Campak, bagi balita sangat penting.
“Imunisasi ini sangat penting sekali. Apalagi, saat ini banyak anak yang terjangkit Campak. Jadi ikhtiar kami untuk menjaga kesehatan anak dari Campak, ya melalui imunisasi ini,” ujar Ade Irma.
Vira, ibu dari balita Zaskia, juga mengaku bahwa putrinya sudah mendapat imunisasi lengkap, termasuk imunisasi Campak pada Senin (6/4/2026) ini. “Imunisasi ini sangat penting agar anak sehat dan kebal dari penyakit Campak,” kata Vira, warga Jalan Tumenggung Suryo, Kota Malang.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bersyukur bahwa balita yang menjadi target sasaran sudah mengikuti dengan baik. “Namun, masih ada yang perlu pendekatan khusus, karena ada anggapan imunisasi Campak ini tidak berdampak,” ungkapnya.

Al Husein saat menerima imunisasi Campak. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk metode door to door untuk menjangkau masyarakat. Namun, Wahyu mengakui masih ada kendala berupa pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya sesuai dengan harapan. “Kita sudah lakukan pendekatan langsung ke rumah-rumah, tetapi memang masih ada yang belum menerima pemahaman itu. Ini yang terus kita upayakan,” tambahnya.
Wahyu menegaskan pihaknya akan memperkuat kolaborasi dengan tokoh agama, tokoh pendidikan, dan tokoh masyarakat guna meningkatkan edukasi kepada warga terkait pentingnya imunisasi Campak. “Kita tidak akan putus asa. Edukasi akan terus kita tingkatkan bersama para tokoh agar masyarakat semakin sadar, karena dampak Campak ini bisa sangat fatal jika tidak dicegah,” tegasnya.
Pelaksanaan imunisasi kejar serentak ini dijadwalkan berlangsung hingga 7 April 2026 dengan target cakupan minimal 95 persen guna mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dan menekan penyebaran penyakit campak di Kota Malang. “Campak ini menular, dan mobilitas masyarakat sulit dibatasi. Maka yang bisa kita lakukan adalah mempersempit celah penularan dengan capaian imunisasi minimal 95 persen. Ini yang terus kita kejar hingga batas akhir besok,” pungkas Wahyu.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menjelaskan status suspect diberikan berdasarkan gejala klinis seperti ruam kulit khas Campak, yang kemudian dikonfirmasi melalui uji laboratorium. Campak dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan tinggi, terutama pada anak yang belum memiliki kekebalan.
Tanpa imunisasi, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius, bahkan berujung kematian. Hasil verifikasi data 2026 menunjukkan sekitar 1.400 anak di Kota Malang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap dari total 12.000 sasaran.
Kelompok ini menjadi titik rawan penyebaran virus di tengah masyarakat. Sebagai langkah utama, Pemkot Malang menggelar program CUC Campak pada 1–7 April 2026 dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.
Sebelumnya, capaian imunisasi melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) telah menyentuh 95,6 persen—melewati ambang herd immunity. Namun munculnya kasus suspect menunjukkan perlindungan belum merata.
Percepatan imunisasi kejar diharapkan mampu menutup celah anak yang belum tervaksin, mencegah lonjakan kasus dan menjaga kekebalan kelompok tetap optimal.
Husnul Muarif, menargetkan seluruh anak dalam kelompok sasaran segera mendapatkan imunisasi lengkap, sehingga potensi penyebaran Campak bisa ditekan semaksimal mungkin. “Langkah ini penting untuk memperkuat perlindungan anak, sekaligus mencegah kejadian luar biasa (KLB),” tegas Husnul. (Eka Nurcahyo)




