MALANG POST – Ratusan civitas akademika, terdiri dari pengurus yayasan, dosen pengajar, karyawan beserta para mitra Universitas Islam Malang (UNISMA), menghadiri halal bi halal dan kick off luxtrum ke IX Unisma yang digelar di Gedung Bundar Unisma, Selasa (31/3/2026).
Halal halal bi halal ini merupakan agenda rutin setiap tahun, yang dilakukan Unisma. Para tamu bersalaman. Mengucap Selamat Idul Fitri 1447 H. Meminta maaf atas kesalahan yang pernah mereka perbuat.
“Halal bi halal tidak hanya menjadi momen saling memaafkan. Juga ajang silaturahmi bersama.”
“Tentu harapannya, semua pihak yang berafiliasi tetap menjaga kekompakan. Terus menjalin kerja sama antar lini. Serta meningkatkan sinergi dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaan di lingkungan kampus,” urai Rektor Unisma Prof. Drs. Junaidi Mistar, PhD.
Didasari dengan wahdatul wujud, yakni atas dasar akidah yang kokoh, setelah puasa Ramadan. Setelah itu, Rektor Prof Junaidi juga menjelaskan.
Bahwa, momen ini adalah upaya membangun kebersamaan yang solid dan kuat untuk melangkah maju bersama menuju kemajuan kampus Unisma.

Tak sampai disitu, Prof. Drs. Junaidi Mistar, PhD menegaskan bahwa penggabungan dua momentum tersebut, merupakan langkah strategis untuk memperkuat makna refleksi sekaligus arah pengembangan institusi.
Menurutnya, usia 45 tahun atau Lustrum ke-9 menjadi titik penting untuk melihat kembali fondasi awal berdirinya kampus, yang berangkat dari cita-cita menghadirkan perguruan tinggi mandiri dan berkualitas.
Dari refleksi tersebut, Unisma kini menegaskan langkahnya menuju target besar sebagai World Class University. Ia memaparkan, posisi Unisma saat ini telah menunjukkan tren positif.
Pada 2026, Unisma menempati peringkat 173 di kawasan Asia Tenggara. Sementara berdasarkan pemeringkatan Scimago, Unisma berada di posisi ke-51 di tingkat perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
Untuk mempercepat pencapaian tersebut, penguatan riset dan publikasi ilmiah menjadi fokus utama. Pusat-pusat studi didorong aktif melakukan penelitian sekaligus mempublikasikan hasilnya di jurnal internasional bereputasi.
Ia juga menambahkan bahwa setiap fakultas kini memiliki pusat studi unggulan sebagai basis pengembangan keilmuan.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Unisma Malang, Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.P., M.P menyoroti pentingnya halalbihalal sebagai ruang rekonsiliasi di tengah dinamika internal kampus. Ia menyebut tradisi ini memiliki peran strategis dalam membangun keharmonisan.
Menurutnya, dalam perjalanan panjang sebuah institusi, perbedaan dan gesekan antarindividu tidak bisa dihindari. Karena itu, momentum seperti ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat budaya saling menghormati.
Ia juga mengingatkan bahwa tradisi halalbihalal memiliki akar kuat dalam sejarah Indonesia, sekaligus nilai-nilai keislaman yang telah lama hidup di masyarakat.
Melalui perpaduan refleksi perjalanan institusi, penguatan budaya, serta strategi akademik berbasis riset, Unisma menjadikan momentum usia ke-45 sebagai pijakan untuk mempercepat langkah menuju panggung pendidikan tinggi dunia.
Kesempatan halalbihalal ini, satu per satu dari semua undangan pun memanfaatkan momen tersebut, untuk bersalaman sebagai simbol saling memaafkan.
Sembari menikmati hidangan, mereka saling mengobrol dan menjalin keakraban. (M. Abd. Rahman Rozzi-Januar Triwahyudi)




