MALANG POST – Mengawinkan teknologi kecerdasan buatan dengan warisan budaya, dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan terobosan baru. Ratusan motif batik dapat tercipta hanya dalam hitungan detik.
Inovasi ini bukan sekadar eksperimen akademik. Tetapi upaya serius mendorong batik tradisional, khususnya motif Nitik, agar kembali hidup dan kompetitif di tengah gempuran desain kontemporer.
Dr. Ir. Agus Eko Minarno, M.Kom., IPM., mengembangkan teknologi berbasis Artificial Intelligence menggunakan pendekatan Generative Adversarial Network (GANs).
Melalui metode ini, komputer dilatih mengenali pola-pola batik yang sudah ada. Lalu mengombinasikannya menjadi motif baru yang segar tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Teknologi tersebut mampu menghasilkan desain batik secara otomatis berdasarkan data yang dipelajari sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa inovasi batik berbasis AI ini berawal dari riset doktoralnya. Ia menggandeng Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad untuk mengumpulkan data motif sebagai bahan pelatihan sistem.
Kolaborasi tersebut menghasilkan kumpulan dataset batik Nitik yang terdiri dari puluhan pola berbeda, yang kemudian digunakan untuk melatih model generatif dalam menciptakan motif baru.
Dataset Batik Nitik yang dikembangkan bahkan mencapai 60 kategori dengan total 960 citra, sehingga memungkinkan pengembangan model AI untuk klasifikasi sekaligus generasi motif baru.
Menurut Agus, pemilihan motif Nitik bukan tanpa alasan. Pola geometrisnya dinilai lebih mudah dipelajari oleh algoritma generatif sekaligus memiliki karakter visual yang kuat.

Selain itu, perkembangan batik Nitik relatif lebih lambat dibandingkan batik kontemporer, sehingga membutuhkan inovasi agar tetap relevan di pasar.
“Saya melihat potensi besar untuk mengembangkan motif Nitik menjadi lebih variatif tanpa meninggalkan pakem tradisional,” ujarnya.
Dengan teknologi ini, komputer tidak hanya meniru motif lama, tetapi menciptakan kombinasi baru yang unik. Hal ini menjadi jawaban atas stagnasi motif yang selama ini terjadi di dunia batik, di mana desain yang beredar cenderung berulang.
Pemanfaatan GAN memungkinkan penggabungan berbagai motif. Sehingga menghasilkan desain baru dengan karakter berbeda namun tetap autentik.
Lebih jauh, Agus berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM batik. Motif-motif baru yang dihasilkan AI dapat menjadi sumber inspirasi desain bagi pengrajin.
Sekaligus membuka peluang produk yang lebih kompetitif di pasar. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat kreatif, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi bagi industri batik lokal.
“Inovasi ini diharapkan dapat membantu UMKM mengembangkan dan memasarkan batik dengan motif Nitik yang baru. Jika motif berkembang, maka nilai jual meningkat dan pertumbuhan ekonomi pengrajin juga terdorong,” pungkasnya.
Melalui perpaduan budaya dan teknologi, Agus menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya milik industri modern. Tetapi juga mampu menjadi penjaga sekaligus penggerak warisan tradisi Indonesia. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




