MALANG POST – Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, momen Hari Raya Idulfitri memang selalu dinanti. Bagi banyak orang, Lebaran bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang kebersamaan di meja makan.
Menghabiskan waktu dengan keluarga sambil menyantap hidangan khas seperti opor ayam, rendang dan kue kering. Namun, di balik rasa syukur dan kegembiraan itu, ada kondisi yang kerap muncul.
Sebagian orang merasa perlu mengobati rasa lapar saat puasa dengan makan lebih banyak dari biasanya. Fenomena ini sering disebut sebagai “balas dendam” makan Lebaran, dan perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai keluhan kesehatan.
Menurut dr. Syifa Mustika, Sp.PD., K-GEH, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), secara ilmu gizi kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk kompensasi setelah pembatasan makan selama Ramadan.
Saat puasa, jam dan frekuensi makan memang terbatas. Ketika Lebaran tiba dan makanan terasa tersedia melimpah, secara psikologis banyak orang terdorong untuk makan lebih besar. Padahal tubuh sebenarnya tidak membutuhkan kompensasi berlebihan.
“Tubuh kita tidak perlu ‘dibalas’ dengan porsi yang berlebihan. Yang penting tetap makan secukupnya dan seimbang, meskipun sedang merayakan Lebaran,” ujar dokter spesialis penyakit dalam ini.
Perubahan pola yang mendadak bisa memicu keluhan. Secara fisiologis, tubuh memang tidak mengalami “shock” secara harfiah ketika pola makan berubah dari puasa ke makanan tinggi lemak dan gula.
Tetapi, perubahan yang terlalu drastis membuat tubuh perlu beradaptasi kembali. Sehingga keluhan bisa saja muncul. Selama Ramadan, pola makan umumnya lebih teratur dengan dua kali makan utama.
Saat Lebaran, frekuensi makan cenderung meningkat, porsi menjadi lebih besar, dan pilihan makanan sering didominasi santan, lemak, serta gula. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu keluhan seperti begah, kembung, gangguan pencernaan, hingga kenaikan kadar gula darah dan trigliserida.
Dr. Syifa juga mengingatkan agar transisi pola makan dilakukan perlahan, tidak langsung dengan porsi yang terlalu berlebihan.
Hidangan khas Lebaran tetap boleh—asal wajar. Hidangan seperti opor dan rendang tentu istimewa. Namun, kandungan santan dan daging membuat makanan tersebut memiliki lemak jenuh, sedangkan kue kering umumnya tinggi gula. Yang menjadi masalah biasanya bukan pada makanannya semata, melainkan berapa banyak dan seberapa sering dikonsumsi.
“Kalau dimakan dalam jumlah wajar, itu tidak masalah. Tapi risikonya meningkat ketika frekuensi dan porsinya tidak terkontrol, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko,” jelasnya.
Pada individu dengan kondisi tertentu, konsumsi berlebihan selama beberapa hari dapat memicu kenaikan berat badan, peningkatan kolesterol, hingga lonjakan gula darah—terutama pada penderita diabetes.
Keluhan pasca-Lebaran sering terkait perubahan mendadak. Dalam praktik klinis, dokter sering menemui keluhan setelah Lebaran, seperti asam lambung, kembung hingga diare, tekanan darah meningkat, hingga gula darah yang melonjak. Umumnya, hal ini berkaitan dengan pola makan yang berubah drastis serta meningkatnya asupan makanan tinggi lemak dan gula.
Selain itu, ada kebiasaan yang sering terjadi setelah Ramadan: makan terlalu banyak dalam satu waktu, terlalu sering mengonsumsi makanan manis, kurang sayur dan buah, serta minim aktivitas fisik karena kesibukan silaturahmi. Padahal, Ramadan sudah melatih kedisiplinan pola hidup yang bisa menjadi modal untuk tetap sehat setelahnya.
Lebaran bukan ajang makan berlebihan. Anggapan bahwa makan berlebihan cuma setahun sekali juga perlu diluruskan. Memang, momen Lebaran datang hanya setahun sekali, tetapi pola makan berlebihan sering tidak berhenti dalam sehari.
Pada kenyataannya, kebiasaan tersebut bisa berlangsung beberapa hari bahkan lebih dari satu minggu selama masa kunjungan.
“Kalau kebiasaan ini terjadi setiap tahun, risikonya tetap ada—bahkan bisa berdampak jangka panjang terhadap berat badan dan metabolisme tubuh,” tegas dr. Syifa.
Siasat sederhana agar tetap menikmati Lebaran. Agar tetap bisa merayakan dengan bahagia, tanpa mengorbankan kesehatan, masyarakat disarankan menerapkan beberapa langkah yang sederhana namun berdampak:
Kontrol porsi makan, nikmati secukupnya. Seimbangkan dengan sayur dan buah. Batasi makanan dan minuman tinggi gula. Tetap aktif bergerak, misalnya berjalan kaki saat bersilaturahmi. Dengarkan sinyal kenyang tubuh, jangan hanya karena makanan tersedia
“Lebaran adalah momen kebersamaan, bukan ajang untuk makan berlebihan. Keseimbangan tetap menjadi kunci utama,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang lebih lembut dan realistis, kebahagiaan Lebaran tetap bisa dirasakan di tubuh, di hati dan di kesehatan yang terjaga. (M. abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




