MALANG POST – Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di Amerika Serikat (AS) terus mengalami lonjakan tajam. Sejak konflik di Timur Tengah mencuat pada akhir Februari 2026, harga bensin di Negeri Paman Sam sudah naik lebih dari 30 persen.
Berdasarkan data GasBuddy, pada Senin (23/3/2026) pagi, rata-rata harga bensin eceran AS tercatat mencapai 3,92 dolar AS per galon, atau kini tinggal selangkah dari angka 4 dolar AS per galon.
Sementara itu, Ekonom UGM sekaligus Ketua Bidang International Affairs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Muhammad Edhie Purnawan, menilai lonjakan ini merupakan dampak nyata dari ketegangan geopolitik.
Ia menyebut harga minyak mentah dunia bahkan menembus USD 108 per barel, sebuah ancaman serius bagi negara-negara yang masih mengimpor minyak karena berpotensi memicu inflasi.
Namun, di tengah gejolak global tersebut, Indonesia menunjukkan kinerja yang disebutnya “anomali yang impresif”. Salah satu indikatornya adalah Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang stabil di 53,8, serta pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 yang mencapai 5,39 persen.
“Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” ujar Edhie.
Edhie juga menyoroti bahwa penutupan Selat Hormuz berisiko memutus pasokan energi kawasan Asia Pasifik.
Untuk merespons situasi ini, pemerintah menggunakan APBN sebagai penahan benturan melalui subsidi energi demi menjaga daya beli masyarakat.
Di sisi lain, Bank Indonesia menginjeksikan likuiditas lewat kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun, sekaligus menurunkan bunga kredit ke level 8,80 persen agar sektor UMKM dan dunia usaha tetap dapat bergerak meski biaya modal global meningkat.
Edhie memperingatkan bahwa gugurnya tokoh-tokoh penting di Timur Tengah dapat mempercepat risiko proliferasi nuklir.
Sebagai middle power yang disebutnya independen dengan surplus perdagangan konsisten selama 69 bulan, Indonesia dinilai memiliki kredibilitas untuk mendorong penyelesaian konflik melalui negosiasi, bukan retorika yang saling memojokkan.
“Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama. Maka, urgensi saat ini adalah menghentikan seruan peperangan dan memulai meja diskusi,” katanya.
Edhie juga menekankan pentingnya menjaga kestabilan harga serta kelancaran perputaran uang. Ia menyoroti lonjakan transaksi QRIS hingga 131,47 persen sebagai bukti kesiapan masyarakat dalam ekosistem digital.
Meski demikian, transformasi ekonomi menurutnya perlu diperluas, termasuk ke sektor energi, sebagai mitigasi jangka panjang.
“Apabila sinergi antara stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang pro-growth ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan selamat dari resesi global, melainkan juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang modern, mandiri, dan resilien,” tutupnya.
Di akhir, Edhie menegaskan bahwa dalam situasi sulit, Indonesia tidak boleh ragu menentukan sikap karena prinsip kedaulatan dan kemanusiaan adalah pijakan utama.
Menurutnya, Indonesia tidak mencari musuh, namun tetap teguh menjaga perdamaian dunia. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




