Ilustrasi tamu melakukan reservasi hotel, di momen libur Lebaran ini angka okupansi hotel di Kota Batu tembus 70 persen. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Libur Lebaran 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi pelaku industri perhotelan di Kota Batu untuk mengerek kinerja. Setelah sempat lesu selama Ramadan, tingkat hunian hotel kini mulai merangkak naik dan stabil di angka 70 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengungkapkan, bahwa peningkatan okupansi mulai terasa sejak H+1 Lebaran. Tren tersebut terus bertahan hingga pertengahan pekan ini.
“Mulai H+1 itu langsung naik dan rata-rata di angka 70 persen sampai hari ini,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, sebelum Lebaran, tingkat hunian hotel relatif masih rendah. Bahkan, pada malam takbiran, okupansi hanya berada di kisaran 50 persen. Sementara saat periode mudik, angkanya cenderung lebih rendah lagi. Lonjakan baru terjadi sehari setelah Lebaran, seiring mulai berdatangannya wisatawan ke Kota Batu.
Menariknya, pola pemesanan tahun ini juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya reservasi bisa diprediksi sejak jauh hari, kini banyak wisatawan memilih melakukan pemesanan secara mendadak atau last minute booking.
“Reservasi awal itu sekitar 50 persen, tapi malamnya bisa langsung naik ke 70 persen. Jadi belum tentu jadi tolok ukur,” jelas Sujud.
Secara capaian, angka okupansi tahun ini tidak jauh berbeda dibandingkan Lebaran tahun lalu. Namun, pelaku usaha berharap tren positif ini bisa bertahan lebih lama, setidaknya hingga akhir pekan.
PHRI Kota Batu memprediksi puncak kunjungan wisatawan akan terjadi pada Rabu (25/3) hingga Kamis (26/3), sebelum kemudian tetap stabil hingga Sabtu (28/3) seiring libur panjang yang bersambung dengan akhir pekan.
“Tahun lalu libur Lebaran sekitar enam hari. Tahun ini harapannya bisa sampai delapan hari karena tersambung weekend, minimal sampai Sabtu,” tandasnya.
Tak hanya hotel, sektor vila juga mulai menunjukkan geliat positif. Ketua Indonesia Homestay Association Kota Batu, Natalina mengatakan, kenaikan okupansi mulai terasa sejak hari pertama Lebaran.
Natali menyampaikan, seminggu sebelum Lebaran tingkat hunian vila masih berada di kisaran 30 persen. Namun, secara bertahap angka tersebut naik hingga mendekati 70 persen.
“Naiknya memang pelan. Awalnya masih 30 persen, sekarang mulai bagus. Di tempat saya juga naik bertahap dari 40 ke 50 persen,” ujarnya.
Meski belum merata, beberapa kawasan justru mencatat okupansi penuh, terutama vila dengan segmen harga menengah ke bawah. Di kawasan Vila Mulyono misalnya, hunian dilaporkan sudah penuh sejak 21 hingga 28 Maret. Sementara di kawasan Oro-Oro Ombo, tingkat keterisian relatif stabil di kisaran 60–70 persen.
Namun demikian, Natali mengakui bahwa geliat Lebaran kali ini masih belum mampu menyaingi momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang biasanya lebih tinggi.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi. Salah satunya adalah karakteristik warga Kota Batu yang banyak berasal dari luar daerah. Saat Lebaran, mereka justru mudik ke kampung halaman, sehingga aktivitas menginap di dalam kota tidak setinggi momen libur lainnya.
Selain itu, tren wisata juga mengalami pergeseran. Munculnya destinasi baru seperti Mikotopia menarik minat wisatawan, namun tidak selalu diikuti dengan keputusan untuk menginap. Banyak pengunjung memilih datang dan langsung melanjutkan perjalanan ke daerah lain.
“Kalau dibanding Nataru memang masih kalah. Lebaran ini orang sekalian mudik, jadi tidak banyak yang menginap. Ada juga yang khawatir macet dan akhirnya memilih di rumah,” tuturnya.
Meski begitu, capaian okupansi di kisaran 70 persen tetap menjadi angin segar bagi pelaku usaha vila setelah melewati masa low season selama Ramadan. Harapannya, tren ini bisa bertahan hingga akhir masa libur panjang.
“Minimal angka ini bisa bertahan sampai libur selesai,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




