Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Peringatan Nuzulul Qur’an di bulan Ramadhan tidak sekadar seremoni, melainkan ajakan bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Demikian disampaikan Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM).
“Nilai-nilai Qur’ani berpotensi transformatif, membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” tegas Fatoni.
Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sementara Al-Qur’an berasal dari qara’a yang berarti “bacaan”.
Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril menandai dimulainya risalah kenabian.
Mayoritas ulama tafsir menempatkan Nuzulul Qur’an pada malam 17 Ramadhan, sekitar 13 tahun sebelum Hijrah, saat Nabi berusia 40 tahun di Gua Hira, Makkah.
Turunnya wahyu secara bertahap memiliki hikmah, memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad dan memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual dengan kondisi sosial pada masa itu.
“Proses turunnya wahyu bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” kata Fatoni.
Fatoni mengajak umat Islam menjadikan momen Nuzulul Qur’an sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir, serta mengamalkan nilai-nilai Qur’ani dalam keseharian.
Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya menjadi peristiwa historis dalam dakwah Nabi, melainkan pengingat untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah tantangan kehidupan modern.
Peringatan ini adalah panggilan untuk menggemakan pedoman Al-Qur’an. Tidak hanya lewat seremonial, tetapi melalui ibadah yang lebih bermakna, tilawah yang lebih tekun dan tindakan nyata yang berkeadaban. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




