MALANG POST – Di tengah dinamika dunia usaha yang semakin kompetitif, nilai spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun etika kerja yang sehat. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Disampaikan saat Safari Ramadhan yang digelar di Rayz UMM Hotel pada Senin 9 Maret 2026. Dalam forum yang dihadiri berbagai unit bisnis UMM tersebut, Tobroni menekankan bahwa dunia kerja bukan sekadar arena persaingan ekonomi. Melainkan juga ruang pembentukan karakter dan tanggung jawab moral.
Menurutnya, kehidupan manusia pada dasarnya merupakan sebuah kompetisi yang tidak hanya berlangsung dalam ranah ekonomi, tetapi juga dalam dimensi moral dan spiritual. Setiap individu, kata Tobroni, berada dalam “perlombaan” untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kehidupan. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak seharusnya hanya dilihat dari keuntungan materi atau capaian ekonomi semata.
“Dalam kehidupan ini kita seperti sedang bertanding, bukan hanya bertanding dengan orang lain tetapi juga dengan diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari materi atau keuntungan ekonomi semata, tetapi dari seberapa besar kontribusi yang kita berikan bagi orang lain dan bagi institusi tempat kita bekerja,” ujarnya.
Tobroni menilai bahwa orientasi kerja yang hanya berfokus pada kepentingan pribadi berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Jika hal tersebut terus terjadi, organisasi akan kehilangan kekuatan kolektif yang seharusnya menjadi fondasi kemajuan lembaga.
Sebaliknya, ketika pekerjaan dipahami sebagai amanah sekaligus bentuk ibadah, setiap individu akan terdorong untuk memberikan kinerja terbaik bagi lembaga dan masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh sistem manajemen atau teknologi yang dimiliki.

Faktor yang lebih menentukan adalah kualitas karakter, integritas, serta budaya kerja yang berkembang di dalam organisasi tersebut. Lembaga yang mampu bertahan lama, menurutnya, biasanya dibangun oleh budaya kerja yang sehat, saling menghargai, dan dilandasi komitmen bersama untuk memajukan organisasi.
Dalam konteks dunia kerja modern, Tobroni menilai bahwa kenyamanan psikologis di tempat kerja menjadi faktor penting yang sering kali diabaikan.
Lingkungan kerja yang penuh tekanan, konflik, dan persaingan yang tidak sehat justru dapat melemahkan semangat kerja serta menghambat perkembangan organisasi dalam jangka panjang.
“Tempat kerja harus menjadi ruang yang membuat orang merasa dihargai dan nyaman secara psikologis. Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan bekerja dengan komitmen yang lebih kuat dan memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi,” jelasnya.
Kegiatan Safari Ramadhan ini dihadiri berbagai unit bisnis UMM, di antaranya Rayz Hotel, Hotel Kapal Garden, Perbengkelan UMM, unit perbankan, PT Hitec, SPBU UMM, PT Taman Rekreasi Sengkaling, NBS, RBC, serta sejumlah unit usaha lainnya di bawah naungan kampus.
Melalui forum tersebut, Tobroni berharap nilai-nilai spiritual yang disampaikan dapat menjadi pengingat bagi seluruh pengelola unit usaha untuk terus menjaga integritas, profesionalisme, serta semangat pengabdian dalam bekerja.
Momentum Ramadan, menurutnya, menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kesadaran bahwa pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Dengan semangat tersebut, ia optimistis ekosistem bisnis di lingkungan UMM dapat terus berkembang secara berkelanjutan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai etika dan kemanusiaan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




