MALANG POST – Kinerja pembangunan Kota Batu kembali menunjukkan tren positif. Hal itu tercermin dari capaian Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang berhasil menembus angka 3,92, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 3,81.
Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata nasional sebesar 3,50 serta sedikit lebih tinggi dari rata-rata Jawa Timur yang tercatat 3,91. Capaian ini menempatkan Kota Batu sebagai salah satu daerah dengan tingkat daya saing yang kuat di tingkat regional maupun nasional.
Data tersebut dipaparkan berdasarkan hasil analisis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kegiatan sosialisasi hasil analisis dan strategi peningkatan daya saing daerah yang digelar di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Balai Kota Among Tani.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Pj Sekretaris Daerah, serta jajaran kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkot Batu.
Cak Nur menegaskan, bahwa peningkatan indeks daya saing daerah menjadi sinyal positif bagi arah pembangunan Kota Batu. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka statistik semata.
Menurutnya, indikator daya saing harus mampu menjadi alat evaluasi untuk memastikan setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
“Indeks daya saing bukan sekadar angka atau ajang perlombaan. Ini menjadi alat kontrol bagi kita untuk memastikan kebijakan dan program pembangunan benar-benar berdampak pada masyarakat,” papar Cak Nur.

LAMPAUI NASIONAL: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat mengikuti sosialisasi dan startegi peningkatan daya saing daerah. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Berdasarkan hasil analisis IDSD 2025, Kota Batu memiliki sejumlah pilar kekuatan utama yang menjadi fondasi daya saing daerah. Salah satunya adalah pilar Pasar Produk yang mencatat skor sempurna 5,00. Angka tersebut mencerminkan aktivitas perdagangan yang dinamis serta peran pelaku UMKM yang cukup kuat dalam menggerakkan perekonomian lokal.
Selain itu, pilar Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga menunjukkan performa sangat baik dengan skor 4,99. Capaian ini menggambarkan bahwa infrastruktur digital di Kota Batu semakin mendukung berbagai aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga pengembangan sektor usaha berbasis teknologi.
Kinerja positif juga terlihat pada pilar Institusi yang memperoleh skor 4,68. Nilai tersebut mencerminkan tata kelola pemerintahan yang relatif baik, transparan, serta adaptif terhadap berbagai tantangan pembangunan ke depan.
Sementara itu, pilar Keterampilan mencatat skor 4,50, menandakan kualitas sumber daya manusia di Kota Batu terus berkembang dan semakin kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi maupun perkembangan teknologi.
Meski sejumlah pilar menunjukkan performa kuat, Pemkot Batu juga menyoroti beberapa sektor yang masih membutuhkan perhatian untuk ditingkatkan. Di antaranya adalah pilar Dinamika Bisnis dengan skor 2,70, Kapabilitas Inovasi yang berada di angka 2,78, serta pilar Infrastruktur dengan skor 3,20.
Menurut Cak Nur, hasil evaluasi tersebut justru menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan strategi pembangunan ke depan. Berbagai langkah perbaikan akan terus didorong, mulai dari percepatan digitalisasi layanan publik dan perizinan usaha, penguatan ekosistem inovasi daerah, hingga peningkatan kualitas infrastruktur penunjang perekonomian.
“Dengan data yang akurat, inovasi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, kita optimistis daya saing Kota Batu akan terus meningkat sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ke depan, Pemkot Batu berharap penguatan berbagai pilar daya saing tersebut mampu menjaga tren positif pembangunan daerah. Sekaligus memperkuat posisi Kota Batu sebagai kota wisata berbasis ekonomi kreatif dan pertanian hortikultura yang memiliki daya saing kuat di tingkat nasional. (Ananto Wibowo)




