Dr. Fahruddin Faiz saat menghadiri kegiatan Cafe Ramadhan di Masjid Raden Patah UB beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Ub for Malang Post)
MALANG POST – Masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya menyelenggarakan Cafe Ramadhan bertajuk “Cemas itu Manusiawi, Tawakal itu Solusi” yang diisi oleh filsuf muslim dan penulis kajian filsafat Islam, Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., Senin malam, (9/3/2026) di Teras Timur MRP.
Filsuf muslim dan penulis kajian filsafat Islam Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag membagikan tips bagaimana mengelola cemas yang sehat. Lantaran dia menilai banyak generasi saat ini mengalami kelelahan karena kecemasan yang berlebihan (overthinking).
“Jika kelelahan dibiarkan dan berlanjut, akan menjadi depresi, yang tidak gampang meredakannya. Sehingga, pentingnya cemas yang sehat. Salah satunya dengan memegang konsep stoikisme, yakni lakukan yang ada di dalam kuasamu dan sisanya tawakal pada Allah SWT,” jelas Faiz.
Faiz menilai banyak generasi sekarang mengalami kelelahan karena kecemasan berlebihan (overthinking). Ciri-cirinya yakni kecewa luar biasa dengan dirinya sendiri, tapi tidak tahu cara mengatasinya, tidak tahu meluapkan pada siapa, atau menangis tanpa sebab.
Menurut Faiz, terdapat lima lapisan dalam diri manusia yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan akal, hati, dan rasa cemas.
Pertama, jasad. Kebahagiaan dan keseimbangannya terletak pada cukup, yaitu penuhi asupan makan/minum secara cukup, karena kalau kurang atau lebih menjadi masalah.
Kedua, Akal. Kebahagian dan keseimbangannya terletak pada luas. Semakin luas wawasan seseorang, semakin tenang hidupnya, karena akal itu gelisah ketika tidak tahu. Sehingga jangan berhenti belajar.
Ketiga, hati. Ini rajanya, dimana bahagia dan seimbangnya terletak pada bersih. Ketika hati seseorang sombong, maka ilmu yang ada hanya dipakai untuk jalan sombong.
Keempat, nafsu. Wajar manusia punya keinginan, karena jika tidak maka dunia akan berhenti. Tapi, kalau tidak hati-hati, keinginan ini bisa jadi blunder, idealnya tidak terkendali.
Kelima, ruh. Bahagia dan seimbangnya terletak pada dekat dengan Tuhan. Jadi lakukan aktivitas yang mendekatkan diri pada Tuhan.
“Cemas tadi muncul ketika terjadi ketidakseimbangan dari aspek-aspek ini. Mungkin pikiran buntu, hatinya kurang jernih, keinginannya tidak terkendali, dan jauh dari Allah SWT,” tambah Faiz.
Faiz juga menyadari bahwa ketidakpastian jaman di era sekarang dapat memicu cemas berlebih. Ia menyarankan untuk sementara ini, kita sibuk dengan apa yang di dalam kuasa dan untuk sisanya pasrahkan kepada Allah SWT. Namun, tetap didahului dengan ikhtiar.
Dr. H. Fahruddin yang akrab disapa Faiz itu menyampaikan sebagai manusia yang diberi akal budi oleh Allah SWT, cemas adalah manusiawi, sehingga, seseorang akan secara otomatis memikirkan hidupnya.
“Bahkan, di dalam ayat Al-Qur’an disebutkan ‘hendaklah engkau takut dan cemas kalau meninggalkan generasi yang lemah’ dalam konteks ini dianjurkan cemas atau serius memikirkan hidup, jangan tenang-tenang saja. Tapi, jika berlebihan akan menjadi negatif, sebagaimana optimis berlebihan,’ ujar Faiz. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




