dr. Ifa Mufida, MMRS, Kepala Klinik Pratama Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan haus. Dari sudut pandang publik, bulan suci ini juga menjadi pembentuk keseimbangan antara kesehatan fisik dan kedalaman spiritual umat Islam, terutama dalam kualitas tidur.
Menurut pandangan praktisi dan ahli kesehatan, kunci utama puasa adalah bagaimana kita mengelola waktu istirahat dan aktivitas agar tetap produktif tanpa mengganggu kesehatan.
Perubahan pola makan selama 29–30 hari memicu penyesuaian ritme sirkadian. Dua momen utama—sahur dan berbuka—menggantikan pola makan tiga kali sehari.
Sahur yang dilakukan sebelum fajar memaksa banyak orang bangun lebih awal, sehingga durasi tidur malam bisa berkurang. Tanpa manajemen waktu tidur yang bijak, risiko kantuk siang hari bisa meningkat.
Di sisi lain, setelah berbuka, aktivitas ibadah dan sosial—terutama tarawih—memperpanjang waktu terjaga hingga larut malam.
Secara fisiologis, perubahan ini memengaruhi ritme sirkadian, sehingga konsentrasi dan produktivitas bisa turun jika tidak diimbangi.
Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa pola tidur yang teratur selama puasa justru bisa meningkatkan kualitas tidur.
Menghindari makan berlebihan di malam hari membantu tubuh beristirahat lebih nyenyak, karena beban pencernaan berkurang.
Para ahli menekankan potensi manfaat besar jika puasa dijalani dengan disiplin tidur yang lebih terstruktur.
Kebiasaan power nap singkat di siang hari—sekitar 15–20 menit—dianggap solusi realistis untuk mengatasi rasa kantuk tanpa mengganggu tidur malam.
Namun, tidur siang berlebih tidak dianjurkan karena dapat memperlambat metabolisme, meningkatkan dehidrasi dan mengganggu pola tidur malam.
Faktor praktis seperti penggunaan gawai sebelum tidur dan suasana kamar juga mempengaruhi kualitas tidur. Lingkungan yang mendukung dan pembatasan layar efektif membantu tubuh cepat lelap.
Asupan sahur pun penting. Makanan tinggi serat dan protein membantu kenyang lebih lama tanpa gangguan pencernaan.
Sedangkan makanan berlemak dan terlalu manis bisa mengganggu kenyamanan tidur. Hidrasi antara berbuka dan sahur menjadi krusial untuk mencegah sakit kepala dan kelelahan.
Secara luas, Ramadan dinilai sebagai ujian disiplin waktu yang memperkaya rutinitas harian. Bagi sebagian orang, Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki pola tidur yang sebelumnya tidak teratur, dengan tidur lebih awal demi sahur yang segar.
Bagi mereka yang mengalami gangguan tidur akibat perubahan drastis, perencanaan waktu yang konsisten menjadi solusi utama.
Olahraga ringan sebelum atau sesudah berbuka juga dianggap membantu kualitas tidur, asalkan tidak terlalu dekat dengan waktu tidur.
Secara psikologis, ketenangan batin yang datang melalui ibadah dan refleksi diri bisa mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur secara keseluruhan.
Dengan demikian, hubungan antara puasa dan pola tidur adalah simbiosis saling mempengaruhi. Puasa menantang lewat perubahan jadwal, tetapi jika dikelola dengan baik, tubuh bisa beradaptasi secara optimal.
Pesan utama yang perlu disampaikan publik adalah pentingnya perencanaan waktu dan kebiasaan tidur yang sehat selama bulan Ramadan.
Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang membentuk keseimbangan hidup yang lebih harmonis—fisik, mental, dan spiritual.
Mari kita jadikan Ramadan sebagai waktu untuk meningkatkan disiplin pribadi tanpa mengorbankan kesehatan.
Dengan pendekatan tepat dalam pola tidur, asupan sahur, hidrasi, dan aktivitas fisik, kita bisa menjalani puasa dengan tubuh tetap segar dan ketenangan jiwa, serta kembali ke keseharian setelah bulan suci dengan kebiasaan tidur yang lebih baik.
Tips sehat ini disampaikan oleh dr. Ifa Mufida, MMRS (Kepala Klinik Pratama Universitas Negeri Malang) kepada Malang Post. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




