KOLASE: Kepedihan markot Arema, Julian Guevara dan Valdeci Moreira, ketika Arema kalah 3-4 dari Bali United, justru di hadapan Aremania yang menyaksikan di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Jumat (6/3/2026) kemarin. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, Super League musim 2025/2026, sudah masuk pekan ke-25. Artinya tinggal menyisakan sembilan laga sebelum paripurna.
Arema FC yang menjadi salah satu kontestan, masih terpaku di peringkat ke-11 dari 24 pertandingan yang sudah dilakoni. Dari hasil delapan kali menang, tujuh kali seri dan sembilan kali kalah.
Padahal di awal putaran kedua, manajemen Singo Edan kembali menegaskan, target tim tidak berubah. Berburu lima besar di klasemen akhir musim 2025/2026.
Untuk merealisasikan target tersebut, perubahan besar dalam formasi tim dilakukan. Terutama di sektor pemain asing. Mendatangkan lima pemain asing baru, setelah sebelumnya mendepak pemain dengan jumlah yang sama.
Termasuk meminjam pemain lokal, dengan label pemain timnas. Seperti Ilham Rio Fahmi, Hansamu Yama Pranata, Gianluca Pandeynuwu dan Leo Guntara.
Nyatanya kondisi di lapangan masih jauh panggang dari api. Peluang untuk berada di posisi lima besar, atau minimal di papan atas, masih sulit dicapai. Bahkan kini posisinya terus melorot, seiring hasil kurang memuaskan dalam tiga laga terakhir.
Di putaran kedua, sudah tujuh laga dilakoni Singo Edan. Hasilnya, tiga kali kalah, sekali seri dan hanya tiga kali menang. Bahkan dari tiga laga terakhir, sembilan gol bersarang ke gawang Arema. Atau rata-rata tiga gol dalam setiap laga.
Total dalam tujuh pertandingan di putaran kedua, Arema mencetak 12 gol dan kebobolan 11 gol. Secara total hingga pekan ke-24, kebobolan 34 gol dan memasukkan 35 gol. Dengan hanya +1 agregat golnya.
Melihat formasi hingga pekan ke-25, untuk mencapai posisi lima besar, Arema masih ‘berhutang’ 10 poin dari Persita Tangerang, yang berada di posisi ke-5. Atau masih punya selisih delapan poin dari Persebaya, yang menghuni peringkat ke-6. Posisi papan atas paling bawah.
Bukan pekerjaan mudah bagi Arema untuk berburu poin, guna mengejar ketertinggalannya dari tim penghuni papan atas. Apalagi jika melihat permainan tim yang berdiri para 1987 ini, dalam tiga laga terakhir.
Yakni saat imbang 2-2 lawan Madura United. Kalah 1-3 kala dijamu Borneo FC di Stadion Segiri, Balikpapan. Serta dikalahkan Bali United, 3-4, justru di Stadion Kanjuruhan.
Masalah yang dihadapi tetap sama. Lini belakang yang keropos, tidak mampu menghadang setiap bola mati, serta sering kalah ketika terkena counter attack.
Problem itu bertambah parah dengan hilangnya pemain-pemain andalan di sektor pertahanan. Seperti di laga terakhir, ketika Wallison Maia absen karena cedera dan Matheus Blade yang tidak boleh tampil lantaran akumulasi kartu kuning.
Tiga dari empat gol yang dibuat Bali United, semuanya karena tidak ada pemutus serangan lawan di sektor tengah, ketika lawan melakukan counter attack. Ditambah lambatnya para defender untuk kembali ke posisi semula, seusai pemain bertahan itu ikut membantu serangan.
Dua gol yang dicetak Teppei Yachida, masing-masing menit ke-22 dan 68, karena kegagalan pemain belakang, dalam menghadapi counter attack. Termasuk gol Diego Campos menit ke-28, dengan problem yang sama.
Padahal dalam pertandingan yang berlangsung Jumat (6/3/2026) malam, penguasaan bola 69:31 untuk tuan rumah. Bali United, juga hanya punya tiga kali tembakan ke gawang. Tapi semuanya bisa menjadi gol. Ditambah satu gol bunuh diri Betinho Filho di menit 90+3.
Sementara Arema FC, punya enam tembakan ke gawang. Tiga diantaranya yang bisa dikonversi menjadi gol. Dua lewat Dalberto Luan Belo, menit ke-64 dan 78. Plus satu gol bunuh diri Kadek Arel, menit 90+4.
Selepas pertandingan, pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves mengakui, gol-gol Bali United ke gawang Arema, adalah dampak permainan terbuka yang diterapkannya. Sejak menit awal, Singo Edan memang berusaha melancarkan serangan dan tim tamu yang memilih menunggu, sambil memanfaatkan serangan balik terbilang lebih efektif.
“Jika kita sudah tertinggal dua gol, untuk mengejar ketertinggalan itu kita harus lebih terbuka dalam menyerang, sehingga lini pertahanan menjadi lebih rentan. Jika gol balasan tidak cepat datang, para pemain akan kelelahan.”
“Akhirnya tim terus menekan, tetapi tidak berhasil mencetak gol dan itu membuat pertandingan semakin sulit.”
“Jadi saya lebih memilih mengatakan, secara kolektif kami tidak menjalani babak pertama yang baik,” sebut pemain asal Brasil ini.
Apalagi kebobolan empat gol dalam satu laga, menjadi yang pertama sekali Arema dibesut pelatih berlisensi Pro Conmebol ini. Sekali pun di laga yang dipimpin wasit Dika Rahmat Hidayat itu, agregatnya ‘hanya’ -1.
“Sudah lama saya tidak merasakan tim saya kebobolan sampai empat gol dalam satu pertandingan. Itu yang membuat saya sangat kecewa kali ini. Saya kecewa dengan sikap yang kami tunjukkan di babak pertama. Kami harus memperbaiki sisi mental tim,” kata Marcos. (Ra Indrata)




