TRIO: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi (tengah), diapit dua Deputi KPwBI, Dedy Prasetyo dan Siti Nurfalinda. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG RAYA – Penurunan alokasi dana Transfer ke Daerah (TKD), sebagai dampak kebijakan efisiensi APBN dari pemerintah pusat, diprediksi bakal berdampak secara signifikan pada pertumbuhan ekonomi di daerah. Meski kepastian itu baru bisa dilihat pada laporan Semester 1 2026.
Pada wilayah kerja (wilker) Bank Indonesia Malang, khususnya di Malang Raya, penurunan TKD cukup signifikan. Terbesar terjadi di Kabupaten Malang, dari Rp3,6 triliun pada 2025, turun menjadi Rp2,96 triliun di 2026. Penurunan mencapai Rp664 miliar, atau sekitar 16 persen.
Kota Malang pada 2025 dengan TKD mencapai Rp1,342 triliun, di 2026 turun menjadi Rp1,057 triliun. Turun sekitar Rp284 miliar, atau 21,22 persen.
Sedangkan di Kota Batu, dari Rp765,3 miliar pada 2025, diproyeksikan turun menjadi Rp597,3 miliar di tahun 2026. Penurunan mencapai Rp168 miliar atau sekitar 22 persen.
“Sudah pasti hal itu akan berdampak pada penurunan perekonomian di daerah. Hanya saja, bagaimana angka pastinya, baru akan terlihat dalam laporan semester pertama 2026 nanti,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, saat Bisma (Bincang Santai Bersama Media) 2026, kemarin.
Hanya saja, tambahnya, kondisi tersebut masih bisa diimbangi dengan gelontoran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang suplai dananya langsung ke setiap daerah. Termasuk belanja barang kebutuhan untuk pemenuhan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), juga dilakukan di masing-masing daerah.
Dengan begitu, sekali pun ada penurunan TKD yang dirasakan pemerintah daerah, Indra tetap melihat untuk masyarakat secara langsung, masih mendapat tambahan pemasukan dari beroperasinya SPPG di Malang Raya.

BARU: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Di sisi yang lain, pertumbuhan ekonomi di wilker Bank Indonesia Malang, juga disebabkan hal-hal khusus yang terjadi pada masing-masing wilayah. Contohnya Kota Batu, dimana pertumbuhan ekonominya sangat dipengaruhi penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung.
Sebagai gambaran, pada momen Libur Nataru 2025/2026 kemarin, kunjungan wisata tercatat hanya sekitar 674.195 orang, atau hanya 61 persen dari target awal yang dipatok, sebesar 1,1 juta kunjungan.
Penurunan ini terlihat jelas pada rata-rata kunjungan harian, yang biasanya mencapai 20.000 orang, kini turun menjadi kisaran 6.000 orang per hari.
“Kalo temen-temen mengikuti, angka pertumbuhan ekonomi di Malang Raya, hingga awal Maret 2026, rata-rata pertumbuhannya sudah di atas nasional. Hanya di Kota Batu, yang pertumbuhannya sedikit di bawah nasional,” tambahnya.
Rilis data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), dan laporan ekonomi per awal Maret 2026, pertumbuhan ekonomi di Kota Malang mencapai 5,92 persen. Kabupaten Malang pada angka 5,92 persen. Sedangkan Kota Batu, menyentuh angka 5,5 persen.
Khusus untuk Kota Batu, meskipun sektor pariwisata lesu, pertumbuhannya masih ditopang lewat kontribusi UMKM dan sektor saja lainnya.
“Karena jika dilihat dari struktur ekonomi di wilayah kerja, masih didominasi konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata Indra.
Tetapi melihat perkembangan ekonomi secara global, yang mulai dirasakan ada perlambatan, karena beberapa penyebab. Diantaranya adalah masih terpengaruh pada geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Bank Indonesia Malang.
Itulah sebabnya, fokus utama Bank Indonesia Malang, yang membawahi wilayah Malang Raya, Kota dan Kabupaten Pasuruan, serta Kota dan Kabupaten Probolinggo, adalah stabilitas harga dalam kaitannya dengan inflasi.
“Karena biasanya menjelang HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional), yang terjadi adalah peningkatan-peningkatan. Terutama pada produk yang berbasis pangan.”
“Saat ini juga, dibarengi dengan meningkatnya harga emas, karena tidak bisa dikendalikan secara langsung. Tetapi justru memberikan dampak terhadap tekanan inflasi.”
“Kami siap membantu dan berkontribusi melalui kekuatan di area UMKM, area Syariah dan area digitalisasi dan lainnya. Agar perekonomian di wilayah kerja Bank Indonesia Malang, akan tetap tumbuh dengan baik dan memberikan kontribusi yang positif,” demikian Indra Kuspriyadi. (Ra Indrata)




