MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) menggagas gebrakan teknologi melalui iSee. Sebuah perangkat bantu mobilitas yang dirancang khusus untuk meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang tunanetra.
Inovasi ini lahir dari kepedulian kampus terhadap kebutuhan nyata penyandang disabilitas. Sekaligus menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kemandirian mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
iSee dikembangkan oleh tim mahasiswa FMIPA melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI). Alat bantu berbasis sensor ini mampu mendeteksi rintangan di sekitar pengguna secara real time.
Informasi mengenai objek atau hambatan yang ada di jalur pergerakan disampaikan dengan cepat, sehingga risiko terjatuh atau menabrak objek bisa diminimalkan.
Ketua tim, Dewi Fatma Wati, menjelaskan bahwa iSee lahir dari kebutuhan alat bantu yang lebih adaptif dibandingkan tongkat konvensional yang selama ini banyak digunakan penyandang tunanetra.
“Kami ingin menghadirkan teknologi yang tidak hanya membantu mendeteksi hambatan, tetapi juga memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri penyandang tunanetra untuk beraktivitas secara mandiri,” ujar Dewi.
iSee dirancang sebagai pelengkap tongkat konvensional dengan dukungan sistem sensor terintegrasi yang mengenali objek di sekitar pengguna.

Informasi yang diterima kemudian disampaikan secara cepat, memungkinkan pengguna menentukan langkah yang lebih aman saat bergerak di ruang publik.
Lebih dari sekadar alat bantu teknis, inovasi ini diharapkan menjadi sarana pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.
Lantaran dengan akses informasi lingkungan yang lebih akurat, tunanetra memiliki peluang lebih besar untuk mengakses fasilitas umum, mengikuti kegiatan pendidikan, hingga menjalankan pekerjaan tanpa ketergantungan penuh pada pendamping.
Keberhasilan iSee juga tertuang dalam prestasi di tingkat nasional. Tim UM meraih medali perunggu kategori poster pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-38 (PIMNAS 38).
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kualitas riset, pengembangan produk, serta kemampuan tim mempresentasikan solusi teknologi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Inisiatif iSee sejalan dengan komitmen global terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduced Inequalities) dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure).
Inovasi ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat menjadi pendorong utama terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan ramah terhadap penyandang disabilitas.
Ke depan, tim mahasiswa UM berkomitmen untuk terus menyempurnakan iSee agar lebih adaptif, mudah digunakan, dan berpotensi diimplementasikan secara luas bagi komunitas tunanetra di Indonesia. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




