MALANG POST – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui startup Capunglam Agrinovasi Indonesia berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Kota Malang menyelenggarakan Workshop Pengolahan Limbah dan Integrated Farming untuk Ketahanan Pangan bagi UMKM di Masa Krisis.
Kegiatan yang diikuti oleh 10 UMKM binaan KRKP ini berlangsung di lahan Capunglam Farm, Gang Kahuripan, Candirenggo, Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (1/3/2026).
Founder sekaligus Ketua Tim Capunglam, Cahyo Ilham Firmansyah Subagio, mahasiswa fast track S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB angkatan 2022, menjelaskan. Bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep green entrepreneurship sekaligus memperkuat ketahanan pangan skala komunitas di tengah berbagai ketidakpastian global.
“Sebagai mahasiswa sekaligus pelaku usaha di bidang green entrepreneurship, saya melihat bahwa tantangan krisis ekonomi dan krisis pangan ke depan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu ikut terlibat menjadi bagian dari solusi melalui inovasi di sektor pangan,” ujarnya.
Cahyo menambahkan bahwa melalui program ini, Capunglam ingin mendorong lahirnya model usaha pangan berkelanjutan yang dapat diterapkan pada skala rumah tangga maupun komunitas.
“Kami ingin memperkenalkan praktik sederhana seperti urban farming, pengolahan limbah organik, hingga integrasi pertanian yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Harapannya mahasiswa dapat menjadi agent of change yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemaparan mengenai konsep integrated farming dan pengolahan limbah organik sebagai bagian dari sistem ekonomi sirkular.
Materi ini menekankan bahwa limbah rumah tangga maupun usaha dapat diolah kembali menjadi sumber pakan atau pupuk sehingga menciptakan sistem produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tur lahan Capunglam Farm untuk melihat secara langsung implementasi sistem pertanian terpadu yang dikembangkan.

Cahyo Ilham Menjelaskan proses siklus integrated farming. (Foto: Istimewa)
Di lahan tersebut, peserta diperkenalkan pada siklus produksi yang saling terhubung. Mulai dari budidaya lele dan ayam, pengolahan limbah organik menggunakan maggot, hingga penanaman sayuran seperti cabai dan sawi sebagai bagian dari ekosistem pangan terpadu.
PIC KRKP Kota Malang, Reza, menjelaskan. Bahwa penguatan ketahanan pangan skala komunitas menjadi penting bagi Kota Malang yang masih memiliki ketergantungan pasokan pangan dari wilayah sekitar.
Menurutnya, model ekonomi sirkular seperti yang diperkenalkan dalam workshop ini dapat menjadi alternatif solusi bagi masyarakat dan pelaku UMKM.
“Kota Malang memiliki ketergantungan cukup besar terhadap pasokan pangan dari daerah sekitar. Ketika terjadi gangguan distribusi atau krisis, kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah dan UMKM skala kecil akan menjadi yang paling rentan. Karena itu, penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas menjadi sangat penting,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa tingginya angka food waste di Kota Malang menjadi alasan lain pentingnya pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
“Sisa makanan di Kota Malang bisa mencapai ratusan ton per hari dan sebagian besar belum terolah dengan baik. Melalui pendekatan seperti maggot dan eco enzyme, limbah tersebut sebenarnya bisa memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan,” tambahnya.
Sebagai penutup kegiatan, Capunglam memberikan starter kit Magobox, yaitu alat pengolahan limbah organik sederhana berbasis budidaya maggot, kepada sepuluh UMKM peserta sebagai langkah awal penerapan sistem pengelolaan limbah di lingkungan usaha mereka.
Workshop ini merupakan kelanjutan dari program Bootcamp Green Entrepreneurship yang sebelumnya diselenggarakan oleh KRKP bagi pelaku UMKM di Kota Malang. Dalam program tersebut, Capunglam menjadi salah satu startup percontohan binaan KRKP, sehingga dilibatkan untuk berbagi praktik baik mengenai model usaha pangan berkelanjutan berbasis pengelolaan limbah dan sistem pertanian terpadu.
Salah satu peserta workshop, Farida, pemilik UMKM Getas Lumer Malang, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia menilai workshop ini membuka perspektif pelaku usaha kecil mengenai pentingnya memperhatikan dampak lingkungan dari aktivitas usaha.
“Terima kasih untuk KRKP dan Capunglam. Dari kegiatan ini kami belajar bahwa menjalankan usaha tidak hanya soal produksi dan penjualan, tetapi juga bagaimana usaha kita berdampak terhadap lingkungan. Kami belajar bagaimana mengambil dari alam sekaligus mengembalikannya dengan manfaat yang lebih baik,” ujarnya.
Capunglam Agrinovasi Indonesia sendiri merupakan perusahaan sosial yang digagas mahasiswa Universitas Brawijaya yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, green entrepreneurship, serta ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah organik dan sistem integrated farming.
Sementara itu, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) merupakan jaringan masyarakat yang berdiri sejak 2003 dan berkomitmen memperjuangkan kedaulatan pangan dengan mendorong sistem pangan berbasis sumber daya lokal serta penguatan peran komunitas dalam pembangunan sistem pangan berkelanjutan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




