MALANG POST – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk industri pariwisata. Pelaku wisata di Jawa Timur berharap situasi geopolitik tersebut tidak berlangsung lama karena dampaknya mulai terasa pada pergerakan wisatawan mancanegara.
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jatim, Sujai Asmed mengatakan, efek konflik tersebut perlahan mulai dirasakan oleh pelaku pariwisata di daerah. Salah satu indikasinya adalah adanya pembatalan penerbangan menuju Bali dari beberapa maskapai internasional, yang selama ini menjadi pintu masuk utama wisatawan asing sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi di Jawa Timur.
“Kami berharap konflik di Timur Tengah tidak berkepanjangan. Dampaknya sudah mulai terasa di sektor pariwisata, terutama setelah ada pembatalan penerbangan menuju Bali dari maskapai internasional. Padahal biasanya wisatawan tersebut melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur,” ujar Sujai, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, Bali selama ini menjadi gerbang utama kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dari Pulau Dewata tersebut, banyak wisatawan kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di Jawa Timur seperti Gunung Bromo, Kawah Ijen, Malang Raya hingga sejumlah kawasan wisata budaya dan alam lainnya.
Karena itu, ketika penerbangan menuju Bali terganggu, dampaknya ikut dirasakan oleh sektor pariwisata di Jatim, termasuk para pramuwisata yang melayani wisatawan asing.
Sujai mengungkapkan, beberapa anggota HPI Jatim yang selama ini menangani wisatawan asal Eropa mulai menerima pembatalan pesanan perjalanan wisata. Padahal sebelumnya mereka telah memiliki jadwal kunjungan yang cukup padat.
“Sudah ada beberapa pembatalan order dari tamu-tamu Eropa yang sebelumnya dijadwalkan berkunjung. Anggota HPI Jatim yang biasa meng-handle wisatawan tersebut juga mulai merasakan dampaknya,” imbuhnya.
Banyak rute penerbangan dari Eropa menuju Asia melintasi wilayah udara Timur Tengah. Ketika konflik memanas, maskapai penerbangan biasanya akan menghindari wilayah tersebut demi alasan keamanan. Hal ini bisa membuat maskapai harus memutar jalur penerbangan atau bahkan membatalkan beberapa rute.

JEEP OFFROAD: Salah satu wisman dari Korea Selatan saat menikmati Jeep Offroad di Wana Wisata Coban Talun Kota Batu, imbas konflik Timur Tengah sejumlah wisman membatalkan kunjungannya. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Jika jalur penerbangan terganggu, biaya operasional maskapai bisa meningkat karena jarak tempuh menjadi lebih panjang. Pada akhirnya harga tiket pesawat juga bisa ikut naik,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi membuat wisatawan lebih selektif dalam merencanakan perjalanan, bahkan menunda rencana liburan ke luar negeri.
Selain faktor penerbangan, ketidakpastian keamanan global juga menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Negara-negara asal wisatawan seperti Amerika Serikat, Inggris dan Prancis biasanya akan mengeluarkan travel advisory atau peringatan perjalanan kepada warganya ketika situasi geopolitik memanas.
Ketika peringatan tersebut dikeluarkan, tidak sedikit wisatawan yang memilih menunda atau bahkan membatalkan rencana perjalanan mereka ke luar negeri.
“Kalau ada travel advisory dari negara asal wisatawan, biasanya mereka akan lebih berhati-hati. Banyak yang akhirnya memilih menunda perjalanan ke luar negeri. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia,” katanya.
Tidak hanya itu, konflik geopolitik juga berpotensi memicu gejolak ekonomi global. Kenaikan harga minyak, inflasi, hingga ketidakstabilan ekonomi dunia bisa berdampak pada daya beli masyarakat, termasuk untuk pengeluaran wisata.
Meski demikian, Sujai menilai Indonesia masih memiliki peluang di tengah situasi global yang tidak menentu ini. Indonesia dapat memposisikan diri sebagai destinasi wisata yang aman dan stabil bagi wisatawan internasional.
“Indonesia justru memiliki peluang untuk menonjolkan diri sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman. Ini bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang biasanya bepergian ke Timur Tengah atau beberapa kawasan lain yang sedang terdampak konflik,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah bersama pelaku industri pariwisata untuk memperkuat promosi ke pasar wisata yang relatif stabil. Beberapa pasar potensial yang dinilai masih cukup kuat antara lain negara-negara ASEAN, Australia, China, serta kawasan Asia Timur.
Di sisi lain, penguatan wisata domestik juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri pariwisata nasional di tengah ketidakpastian global.
“Promosi wisata domestik perlu terus diperkuat agar sektor pariwisata tidak terlalu bergantung pada wisatawan mancanegara. Dengan begitu, ketika situasi global tidak menentu, industri pariwisata kita tetap bisa bertahan,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




