MALANG POST – Pekan ke-24 Super League musim 2025/2026, bakal menjadi laga kandang cukup berat bagi Arema FC. Utamanya ujian untuk lini pertahanan. Setelah beberapa pemain pilar harus absen karena berbagai sebab.
Padahal baru saja pelatih Arema, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, menemukan formasi ampuh di sektor vital tersebut. Setelah dua pemain baru bergabung. Hansamu Yama Pranata dan Walisson Maia.
Minimal dalam lima laga terakhir, Arema bisa menjaga pertahanannya cukup bagus. Kebobolan lima gol dalam dua laga terakhir, tapi juga mencatatkan clean sheet tiga kali berturut-turut. Total kebobolan lima gol, tapi berhasil mencetak sembilan gol.
Kondisi tersebut juga tak lepas dari keberadaan lini kedua bertahanan, para gelandang bertahan dan bek sayap, yang ikut memberikan kontribusi dalam menghentikan serangan, sebelum sempat masuk ke area defender.
Tetapi ‘bulan madu’ itu tampaknya harus berakhir lebih cepat. Pemain-pemain bertahan Arema mulai berguguran. Baik karena faktor cedera, maupun akumulasi kartu. Ditambah menurunnya performance pemain.
Dimulai pekan ke-23, saat Walisson Maia harus ditarik keluar menit ke-62 karena cedera, saat Arema dijamu Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda. Hingga kemudian tim dokter menyebut, bek tengah asal Brasil itu, divonis cedera fraktur fibula. Memaksanya istirahat minimal tiga bulan.
Di laga itu pula, Matheus Blade, yang posisi aslinya gelandang bertahan, mendapat kartu kuning keempatnya. Gelandang Brasil itu pun harus terkena sanksi larangan sekali berlaga di laga selanjutnya.
Padahal pemain 28 tahun itu, biasanya bisa direposisi menjadi bek tengah, dalam kondisi krusial saat Arema perlu kekuatan di lini tersebut.
Situasi itu menjadikan Arema benar-benar kehabisan pemain asing di posisi center defender. Karena sebelum putaran kedua mulai, tiga bek tengah asing harus diputus kontrak dan cedera. Mereka adalah Yann Motta dan Odivan Koerich, yang kontraknya tidak diperpanjang. Ditambah Luiz Gustavo, harus menepi karena cedera dan kontraknya ‘diselesaikan’ terlebih dahulu.
Praktis dalam formasi 4-3-3 yang saat ini mulai rutin digunakan, Arema tinggal berharap pada dua bek tengah lokal. Hansamu Yama Pranata dan Anwar Rifai.
Dalam situasi tersebut, Arema harus menjamu tim yang mematahkan rekor tak terkalahkan di tujuh partai tandang berturutan. Bali United mematahkan rekor itu, setelah di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, sukses mengalahkan Arema dengan skor tipis, 1-0.
Hanya saja, Marcos Santos bisa berkilah. Kembali bertemu Bali United di putaran kedua, jelas berbeda jauh dibanding saat Arema kalah di putaran pertama. Terutama dari formasi yang ada di kubu Singo Edan.
Masuknya banyak pemain baru, menjadikan karakter permainan Arema menjadi semakin berkembang. Pemain 48 tahun itu pun mengaku semakin mudah untuk merancang strategi, saat menghadapi lawan-lawannya.
Hal itu terlihat pada dua laga kandang di putaran kedua, saat Arema belum lagi merasakan kekalahan. Persijap Jepara dan Semen Padang, menjadi dua tim tamu yang tunduk dengan skor 1-0 dan 3-0.
“Kami memang dikalahkan Bali United di putaran pertama. Tapi kondisi saat ini berbeda dibandingkan putaran pertama. Sekarang banyak pemain yang baru gabung. Mereka bisa menambah kekuatan Arema,” katanya dalam sesi prematch press conference, di kandang Singo, Kamis (5/2/2026).
Apalagi dalam masa persiapan menghadapi Bali United, Arema bisa melakukan dengan baik. Sekalipun harus berharap dengan hujan deras yang terus mengguyur Arema saat berlatih. Karena selama Ramadan, skuadra Singo Edan banyak menggelar latihan sore hari.
Justru saat berlatih dalam cuaca ekstrem tersebut, Marcos bisa membuat adaptasi permainan, saat nanti mereka harus menjamu Bali United dalam kondisi hujan deras.
“Persiapan berjalan dengan baik, meskipun hujan sempat mengganggu beberapa sesi latihan. Saat ini hujan memang cukup deras.”
“Pemain tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Bahkan saat hujan deras, mereka tetap berusaha melakukan apa yang diperlukan untuk memperbaiki kesalahan yang kami lakukan pada pertandingan terakhir lawan Borneo FC,” kata pelatih berlisensi Pro Conmebol ini.
Lantaran situasi tersebut, pelatih yang baru memberikan delapan kemenangan dalam 23 laga bersama Arema, tidak lagi khawatir dengan kondisi Stadion Kanjuruhan, venue pekan ke-24 menjamu Borneo FC, sekali pun nanti diguyur hujan deras.
“Kami harus siap menghadapi kondisi tersebut. Dalam latihan kami juga sudah beradaptasi dengan situasi hujan.”
“Kami tahu kualitas lapangan di stadion sangat baik. Bahkan dengan hujan deras sekalipun, kondisi lapangan tetap gak terlalu terganggu. Itu yang paling penting agar pertandingan bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.
Beruntung tim yang bakal dihadapi Jumat (6/3/2026) malam, dengan kick off mulai 20.30 WIB itu, tidak sedang baik-baik saja. Bali United sudah tidak lagi merasakan kemenangan dalam enam laga terakhirnya.
Bahkan dalam lima laga terakhir, anak asuh Johnny Jansen ini hanya bisa dua kali seri dan tiga kali kalah. Termasuk dua kekalahan kandang beruntun yang diterima dari Persija (0-1) dan Persebaya (1-3).
Kondisi tersebut harus bisa dimanfaatkan Arema, agar bisa kembali ke jalur target. Yakni berada di posisi lima besar di akhir kompetisi.
Saat ini, Arema masih tercecer di peringkat ke-10. Setelah sebelumnya sempat naik ke peringkat ke-8. Tapi terus turun lantaran dua laga terakhir belum lagi pernah menang. Seri 2-2 lawan Madura United dan kalah 1-3 dijamu Borneo FC.
Tidak itu saja, jika Arema sampai gagal meraih tiga poin, posisinya berpeluang digeser Bali United. Yang saat ini berada di peringkat ke-11 dengan hanya selisih satu poin.
Kalau sampai kalah atau hanya bermain imbang, sudah pasti Bali United yang akan menempati peringkat ke-10. Karena dari sisi head to head, Arema masih kalah dari Bali United. (Ra Indrata)




