MALANG POST – Harapan ratusan warga Kota Batu untuk bisa pulang kampung tanpa biaya pada Lebaran tahun ini dipastikan kandas. Program mudik gratis yang sebelumnya digagas Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Perhubungan (Dishub) resmi ditiadakan pada 2026.
Kepastian itu disampaikan Kepala Dishub Kota Batu, Susetya Herawan. Ia menyebut, kebijakan efisiensi anggaran yang tengah diterapkan di internal pemkot membuat sejumlah program harus dipangkas, termasuk mudik gratis yang sempat menjadi primadona masyarakat.
“Tahun ini memang tidak ada mudik gratis. Hal tersebut dikarenakan adanya imbas dari kebijakan efisiensi anggaran di internal pemerintah,” terang Herawan, Rabu (4/3/2026).
Menurut dia, anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk penyewaan armada bus terpaksa dialihkan guna menjaga keseimbangan keuangan daerah. Pemkot Batu saat ini sedang melakukan penyesuaian belanja agar tetap selaras dengan kemampuan fiskal.
Keputusan tersebut tentu menjadi kabar kurang sedap bagi warga. Apalagi, pada tahun sebelumnya program mudik gratis perdana di Kota Batu terbilang sukses dan mendapat respons tinggi. Dengan syarat cukup menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga (KK), warga bisa menikmati perjalanan aman dan nyaman menuju sejumlah rute favorit seperti Madiun, Ngawi, Jember hingga Banyuwangi.
Saat itu, sekitar 200 kuota penumpang disediakan. Mayoritas peminat berasal dari kalangan pekerja sektor informal dan masyarakat menengah ke bawah yang ingin menekan biaya perjalanan mudik. Tidak sedikit yang mengaku sangat terbantu, terlebih harga tiket angkutan umum biasanya melonjak tajam mendekati Hari Raya Idulfitri.

DITIADAKAN: Program mudik gratis yang pernah digelar tahun sebelumnya pada tahun 2026 ini ditiadakan, imbas dari efisiensi anggaran. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain membantu sisi ekonomi warga, program tersebut juga dinilai efektif menekan penggunaan sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh. Seperti diketahui, mudik dengan sepeda motor masih menjadi salah satu penyumbang angka kecelakaan lalu lintas saat musim Lebaran.
Namun, tahun ini prioritas Dishub beralih. Herawan menjelaskan bahwa pihaknya akan lebih fokus pada pengamanan dan kelancaran arus lalu lintas selama masa angkutan Lebaran. Pemeliharaan fasilitas jalan serta kesiapan personel menjadi perhatian utama.
“Kami akan mengoptimalkan pengamanan jalur dan memastikan fasilitas pendukung dalam kondisi baik. Fokus kami tetap pada keselamatan dan kelancaran arus mudik,” imbuhnya.
Di sisi lain, keputusan tersebut memantik kekecewaan warga. Wiyono, warga Kecamatan Junrejo, mengaku sudah menanti kesempatan mudik gratis setelah tahun lalu gagal berangkat karena kendala jadwal kerja.
“Tahun lalu tidak jadi ikut karena bentrok jadwal. Tahun ini berharap bisa daftar, ternyata malah ditiadakan,” ujarnya.
Wiyono berencana pulang ke Jember bersama keluarganya. Ia mengaku cukup berat jika harus mengeluarkan biaya transportasi secara mandiri, mengingat harga tiket biasanya naik signifikan menjelang Lebaran.
“Program ini sangat membantu. Lumayan bisa menghemat biaya untuk kebutuhan Lebaran di kampung,” keluhnya.
Meski demikian, ia juga memberi catatan terhadap pelaksanaan tahun lalu. Menurutnya, manajemen keberangkatan masih perlu dibenahi. Saat itu, jadwal pelepasan bus sempat mundur sehingga membuat calon penumpang menunggu cukup lama.
“Kalau ke depan ada lagi, semoga lebih tertata dan tepat waktu,” harapnya.
Ditiadakannya mudik gratis tahun ini menjadi potret nyata dampak kebijakan efisiensi anggaran di daerah. Di satu sisi, pemerintah harus menjaga stabilitas fiskal. Namun di sisi lain, masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan harapan pada program sosial tersebut kembali harus menghitung ulang biaya perjalanan mudik mereka. (Ananto Wibowo)




