PANEN CABAI: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama TPID, diikuti Kepala Dispangtan, Slamet Husnan, saat meninjau kebun cabai di RW 5 Kelurahan Lesanpuro, Rabu (4/03/2026). (Foto: Iwan Irawan/Malang Post)
MALANG POST – Menjelang Idul Fitri 1447 mendatang, arga bahan pokok penting mulai naik. Seperti daging ayam potong, telur, cabai dan lainnya.
Pemerintah Kota Malang, melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus memonitor dan melakukan evaluasi. Termasuk mendiskusikan lewat High Level Meeting (HLM) dan melakukan sinkronisasi data bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
“Saat ini bersama TPID, kami perlu turun dan tinjau dari hulu ke hilir. Setelah ada diskusi bersama, ada poin-poin yang bisa ditangkap setelah turun ke lapangan, untuk memastikan kebutuhannya,” ungkap Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat saat tinjau kebun cabai di Lesanpuro, Kedungkandang, Rabu (4/03/2026).
Khusus untuk menanggulangi kebutuhan cabai, pihaknya melalui Gapoktan petani cabai telah menanam bibit cabai. Di Kedungkandang ada 40 hektare dan 25 hektare di Merjosari Lowokwaru.
“Sempat hal ini, kami komunikasikan ke Bank Indonesia. Sebenarnya pasokan cabai dan daging ayam potong tidak terlalu kesulitan. Kebun cabai dan ternak ayam potong, sebagaimana kita lihat di kandangnya, saat ini tersedia,” sambungnya.
Alumni ITN Malang ini menuturkan, agar harga dan pasokan terkendali serta terpenuhi, melalui TPID pihaknya mengupayakan intervensi serta menambah pasokan dari luar, sekiranya pasokan dari petani cabai dan peternak ayam potong alami kekurangan.
“Namun demikian, langkah tersebut jangan sampai merugikan petani di sini. Pasokan cabai dari Jawa Tengah dan Banyuwangi, belum cukup untuk mengendalikan harga cabai di Kota Malang. Karena harganya tembus Rp100 ribu,” tutur Wahyu.
Jika pasokan dari luar dan intervensi dari TPID belum cukup untuk mengendalikan harga cabai, pihaknya akan memperkuat dengan Warung Tekan Inflasi (WTI). Guna menentukan langkah selanjutnya.
“Menanggulangi lonjakan harga komoditas tertentu, kita harus membuat skenario untuk disepakati bersama dengan TPID.”
“Mengenai persiapan penguatan WTI, kita sudah menyiapkan biaya tidak terduga (BTT). Agar komoditas yang kita kulak, bisa dijual lagi dengan harga sama. Goal-nya harga yang melambung bisa turun,” ujarnya.

PANGAN: Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, saat diwawancarai wartawan di lokasi. (foto : Iwan Irawan/Malang Post)
Di waktu bersamaan, Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Hariyadi Husnan menginformasikan, panen cabai dari Gapoktan untuk sementara waktu baru dua kali. Tapi nantinya bisa sampai 30 kali masa panen.
Setiap kebun yang digarap oleh Gapoktan, pada luasan hektaran tersebut, dipastikan berbeda-beda masa panennya.
“Kapasitas masa panennya pun dapatnya hanya tiga kuintal. Yang berhasil panen ke 12, 13 dan 14. Juga ada masa panen hanya 80 kilogram.”
“Namun perlu diketahui, panen dengan capaian tiga kuintal itu, dari hasil luasan 4.000 meter persegi dengan 4.500 pohon,” ucap Slamet.
Mantan pejabat di DKP ini menyebutkan, masa panen setahun di Kota Malang bisa mencapai 3.000 sampai 4.000 ton, dengan durasi masa panen 30 kali. Akan tetapi, untuk pemenuhan kebutuhan di masyarakat bersifat fluktuatif.
Salah satu contoh, kembali aktivitas perkuliahan dimulai, dibandingkan saat libur kuliah, tentu kebutuhannya berbeda.
“Soal harga cabai tinggi dan ada keuntungan didapat oleh petani, tapi biaya bahan juga mahal, kita fasilitasi dengan bibit dan bentuk alat lainnya setiap tahun bagi yang membutuhkannya,” bebernya. (Iwan Irawan/Ra Indrata)




