MALANG POST – Gejolak efisiensi justru sudah dirasakan cabang olahraga di bawah KONI, sebelum adanya kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah pusat.
Karena selama ini sejumlah cabor sudah berupaya menerapkan sistem efisiensi, imbas minimnya kucuran dana yang diberikan oleh KONI Kota Malang.
Penegasan itu disampaikan Pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Malang, Bagus Prabowo, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Selasa (3/3/2026).
Bahkan dalam sejumlah kejuaran yang membawa nama Kota Malang, jelasnya, juga ditemui masih banyak pengurus cabang olahraga (cabor) maupun wali atlet yang harus patungan, untuk memberikan dana tambahan dana. Selain dana yang diturunkan.
“Info terkait adanya efisiensi pemangkasan anggaran, juga belum ada komunikasi lanjutan dari pihak KONI ke cabor. Sehingga belum ada penyusunan strategi lanjutan untuk menjaga stabilitas para atlet di tengah efisiensi,” katanya.
Berkaitan dengan cabor panjat tebing itu sendiri, Bagus menyebut, hingga saat ini belum ada support pihak swasta dalam cabor yang berada di bawah Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Malang.
“Selain cabor panjat tebing, sejumlah cabor lain di Kota Malang juga belum menggandeng pihak swasta, untuk terlibat dalam pembinaan atlet,”
Bagus lantas membandingkan sejumlah cabor di wilayah Surabaya dan Gresik, justru mendapat full support dari pihak swasta.
Harapannya, Kota Malang juga bisa menggandeng perusahaan-perusahaan yang ada dalam skema CSR, dalam pembinaan para atlet.
Keterlibatan pihak swasta jadi penopang cabor di tengah geliat efisiensi, juga sejalan dengan pemikiran Guru Besar dan Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Winarno, M.Pd.
Pihaknya menyebut, pembinaan dan pengembangan cabang olahraga tidak bisa hanya di support oleh lembaga negara. Bahkan jika targetnya adalah prestasi, maka tidak bisa diberlakukan efisiensi.
“Karena setiap atlet butuh support melalui penyediaan fasilitas latihan yang memadai dan jika tidak diberikan, akan sulit mengejar target prestasi,” tegasnya.
Menurut Prof Winarno, KONI harus bisa mengajak kerjasama perusahaan tertentu melalui sistem CSR, untuk menguatkan target prestasi. Selain melalui keterlibatan pihak pemerintah, masyarakat, wali atlet serta pengurus cabor.
Di sisi lain, Prof Winarno juga mendorong KONI, agar mengajak sejumlah perusahaan di Kota Malang melalui sistem CSR, untuk mendukung pengemberdayaan atlet.
Karena jika setiap cabor memiliki CSR, maka proses pembinaan bisa mendapat support yang baik.
“Para cabor juga harus aktif mempublikasikan kegiatannya di media , sebagai strategi menarik CSR dan menunjukan nilai potensialnya.”
“Sedang KONI, harus mulai melakukan pemetaan cabor prioritas, sebagai pertimbangan penting untuk pembinaan dan dukungan yang lebih optimal,” tandasnya. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




