MALANG POST – Di tengah suasana Ramadan yang kian hangat, Kepala Pusat Pembinaan Kepribadian (PKM) Universitas Brawijaya, Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.S., M.Si, mengajak sivitas akademika untuk tidak hanya menjalankan ibadah puasa secara formal, tetapi juga membangun kualitas batin yang tahan lama.
Ajakan itu ia sampaikan dalam ceramah di Masjid Fatahillah Lantai 5 Rektorat Universitas Brawijaya pada Kamis (26/2/2026).
Dalam tausiyahnya, Muwafik menegaskan bahwa puasa seharusnya meninggalkan bekas yang berarti dalam diri seorang Muslim.
“Kalau sesuatu dilakukan berulang-ulang, itu harusnya meninggalkan jejak dan membekas. Dari kemantapan hati itulah lahir pencerahan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ramadan, menurutnya, adalah mekanisme luar biasa yang Allah berikan sebagai proses pembiasaan menuju kebaikan. Umat Islam diajak menahan lapar dan dahaga, menghidupkan malam dengan tarawih, serta memperbanyak bacaan Al-Qur’an.
Namun, ia mempertanyakan sejauh mana daya tahan hasil habituasi tersebut bertahan setelah bulan suci berakhir.
“Persoalannya, apakah hasil habituasi ini bertahan cukup lama atau hanya bertahan di bulan Ramadan?,” katanya mengutip renungan yang cukup relevan di era digital.
Mengacu pada pandangan Imam Al-Ghazali, Muwafik menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa awam, puasa khawas, dan puasa khawasil khawas. Puasa awam, atau yang ia sebut sebagai “puasa perut,” adalah menahan makan dan minum.
“Kalau puasa kita masih sebatas menahan makan dan minum, itu puasanya perut. Harusnya kita sudah naik level,” tegasnya.

Tingkatan kedua adalah puasa khawas, yaitu menjaga lisan dari keburukan. Ia mengambil contoh kisah Maryam yang bernazar untuk tidak berbicara saat menghadapi fitnah (Surah Maryam ayat 26).
Dalam konteks modern, puasa lisan berarti menahan diri dari komentar negatif dan ujaran kebencian, termasuk di media sosial.
“Keburukan kita sendiri itu banyak, hanya kita sembunyikan. Mengapa masih sempat membicarakan keburukan orang lain?” ujarnya mengingatkan.
Sedangkan tingkatan tertinggi adalah puasa khawasil khawas, yakni menjaga hati dari lintasan kebencian, iri, dengki, dan prasangka buruk.
Ia mengisahkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang seorang sahabat yang tampak biasa-biasa saja tetapi ternyata memiliki keutamaan karena kebersihan hatinya.
“Saya tidak pernah menyimpan rasa benci dan tidak pernah ingin melihat keburukan orang lain,” demikian inti jawaban sahabat tersebut, kisah yang kembali ia sampaikan untuk menginsafkan hadirin.
Muwafik juga menekankan pentingnya menjaga hati dengan merujuk firman Allah dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 88–89, bahwa pada hari kiamat harta dan anak tidak lagi memberi manfaat selain bagi mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.
“Level tertinggi puasa sejatinya adalah menjaga hati. Tidak ada rasa benci sedikit pun terhadap orang lain. Itulah yang disebut takwa,” katanya.
Meneladani Rasulullah SAW, lanjutnya, menjadi kunci untuk mencapai level tertinggi tersebut.
Ia menyinggung kisah seorang perempuan tua yang sering melontarkan cercaan kepada Nabi Muhammad, namun tetap dirawat Nabi dengan kelembutan tanpa balasan kebencian.
“Kita kadang dijelek-jelekkan sedikit saja sudah ingin membalas. Rasulullah memberikan teladan kebersihan hati yang luar biasa,” ujarnya.
Di akhir ceramah, Kyai Dr. Muwafik mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk naik kelas dalam berpuasa.
“Boleh jadi kita sudah puluhan tahun berpuasa, tetapi masih di level pertama. Mari kita naikkan hingga level tertinggi, yaitu hati yang bersih,” tuturnya.
Ia berharap Ramadan mendatang benar-benar menjadi sarana pembentukan pribadi yang lebih matang secara spiritual dan sosial, serta melahirkan ketakwaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




