Dr. dr. Didi Candradikusuma, Sp.PD-KPTI. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Di balik setiap wabah Nipah yang berpotensi meluas, terdapat jaringan kerja yang terintegrasi antara laboratorium, klinisi dan sistem kesehatan secara menyeluruh. Itulah pesan yang menonjol dari Webinar “Ancaman Virus Nipah” yang digelar awal bulan ini oleh Pusat Infeksi Terpadu Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) bekerja sama dengan Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi (PETRI) Cabang Malang.
Dalam sesi kedua, fokus utama adalah bagaimana penanganan Nipah memerlukan pola kolaborasi lintas sektor, mulai dari diagnosa laboratorium hingga kesiapsiagaan sistem kesehatan untuk menghadapi potensi wabah.
Pembicaraan dibuka oleh dr. Firman Arief, Sp.PD, yang menjadi moderator webinar. Menurutnya, kesiapan tenaga kesehatan adalah kunci utama untuk mencegah penularan luas, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Penanganan virus Nipah tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita harus membangun ekosistem yang saling menguatkan antara laboratorium, klinisi, hingga manajemen fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Topik pertama dalam sesi ini memadukan kedalaman teknis dengan urgensi praktik lapangan. Dr. Andrew William Tulle, M.Sc., Sp.MK, membahas Diagnosis Laboratorium Infeksi Virus Nipah: Metode Molekuler, Biosafety, dan Peran Mikrobiologi Klinik.
Ia menjelaskan Nipah sebagai virus zoonosis berbahaya dari genus Henipavirus dengan tingkat kematian yang tinggi, berkisar 40–75 persen, dan telah masuk dalam daftar Priority Pathogen WHO karena potensi wabah besar.

dr. Andrew William Tulle, M.Sc., Sp.MK. (Foto: Istimewa)
Poin kunci yang disampaikan Andrew adalah pentingnya diagnosis laboratorium sejak dini dan akurat sebagai fondasi pengendalian infeksi. Karena gejala Nipah sering tidak spesifik pada tahap awal, konfirmasi laboratorium menjadi langkah mutlak.
Real-Time RT-PCR disebut sebagai standar emas (gold standard) untuk mendeteksi Nipah karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang tinggi. Pengambilan sampel perlu dilakukan dengan standar ketat: swab nasofaring dan orofaring, darah, cairan serebrospinal, urin, serta serum.
Setiap tahap—pengambilan, penyimpanan, hingga pengiriman sampel—harus memenuhi prinsip biosafety dan biosecurity karena Nipah tergolong patogen Risk Group 4. Laboratorium diagnostik rutin hanya boleh menangani sampel yang telah diinaktivasi, dengan pelindung diri lengkap dan prosedur keselamatan tinggi.
Tak hanya RT-PCR, Andrew juga menyoroti peran teknologi lanjutan seperti Next Generation Sequencing (NGS) untuk mengidentifikasi strain virus dan menelusuri rantai penularan.
Peran mikrobiologi klinik dinilai vital karena mereka tidak hanya memberi konsultasi diagnostik, tetapi juga mempercepat keluarnya hasil pemeriksaan dan berkoordinasi dengan tim klinis serta epidemiologi dalam upaya pelacakan kontak serta respons wabah.
Topik berikutnya dipaparkan oleh Dr. Didi Candradikusuma, Sp.PD-KPTI, dengan judul “Tatalaksana Klinis, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, serta Kesiapsiagaan Sistem Kesehatan pada Infeksi Virus Nipah”.
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus spesifik maupun vaksin untuk Nipah, sehingga penanganan pasien sepenuhnya bergantung pada terapi suportif yang optimal.
Dalam tatalaksana klinis, Didi menekankan fokus pada menjaga fungsi vital pasien, mengontrol komplikasi neurologis seperti kejang dan ensefalitis, serta menangani gangguan pernapasan berat hingga ARDS. Pasien dengan kondisi berat sering memerlukan perawatan intensif di ICU, dengan dukungan ventilasi mekanik dan pemantauan neurologis ketat.
Dari sisi pencegahan dan pengendalian infeksi, Didi menegaskan isolasi ketat bagi pasien suspek maupun terkonfirmasi Nipah. Tenaga kesehatan wajib menerapkan standar kewaspadaan—kontak, droplet, dan airborne—serta menggunakan alat pelindung diri (APD) tingkat tinggi, terutama saat melakukan prosedur yang berpotensi menimbulkan aerosol. Langkah ini dianggap krusial untuk mencegah penularan nosokomial dan melindungi tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pencegahan.
Lebih lanjut, Didi menyoroti pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan: penguatan surveilans, skrining di pintu masuk negara, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta sistem pelaporan yang cepat dan terintegrasi. Edukasi publik mengenai faktor risiko penularan, kebersihan pribadi, dan keamanan pangan juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan jangka panjang.
Melalui penyelenggaraan sesi kedua ini, RS UB dan PETRI Cabang Malang berharap tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran diagnosis laboratorium, tatalaksana klinis, serta pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan dalam menghadapi ancaman Nipah. Kolaborasi lintas disiplin dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dinilai esensial untuk mencegah wabah dan melindungi masyarakat secara luas dari penyakit zoonosis berisiko tinggi. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




