BAKAL DIRESMIKAN: Monumen Tragedi Kanjuruhan yang menjadi background foto bersama tersebut, bakal segera diresmikan, sebagai penanda tragedi yang menewaskan 135 Aremania. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Membahas kelanjutan rencana peresmian Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan, Bupati Malang, HM Sanusi, menerima Kapolres Malang kota, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Putu Kholis Aryana.
Pertemuan bersama dengan Forkopimda Kabupaten Malang, serta perwakilan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Pintu (Gate) 13 Stadion Kanjuruhan Kota Kepanjen, berlangsung pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Abah Sanusi, sapaan akrab Bupati Malang, berharap khusus untuk Museum Tragedi Kanjuruhan, diharapkan dapat memberi manfaat yang besar kepada masyarakat umum, terutama juga keluarga korban.
Bupati Malang bersama Kombes Putu Kholis dan Kapolres Malang, serta sejumlah keluarga korban yang hadir, juga meninjau lokasi food court yang akan menjadi tempat salah satu unit usaha UMKM bagi keluarga korban tragedi.
”Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya bersyukur atas dukungan dari keluarga korban. Mulai sejak terselenggaranya renovasi Stadion Kanjuruhan, hingga dihadirkannya Museum dan Monumen Tragedi Kanjuruhan.”
“Di area Gate 13 ini, khusus untuk museum dan sekaligus bisa tempat untuk berdoa bagi keluarga korban. Namun karena di area ini tidak boleh ada aktivitas jual beli, maka kami sediakan tempat untuk usaha buat keluarga korban di food court,” jelas Bupati Malang usai kegiatan yang diakhiri doa bersama bersama-sama keluarga korban.

ASLI: Inilah Pintu 13 di Stadion Kanjuruhan, yang tetap dipertahankan kondisi aslinya seperti saat Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 2022 lalu. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Terpisah, Kombes Putu Kholis yang sebelumnya pernah menjabat Kapolres Malang ini menyampaikan, Museum Tragedi Kanjuruhan di Gate 13, sesuai proposal yang disusun Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan, sedianya bakal segera diisi dengan beragam jenis barang milik korban, lengkap dengan identitas korbannya.
Termasuk foto dari para korban yang akan didisplay di salah satu tembok bagian dalam museum.
Tujuannya, agar dapat menjadi tempat pengingat tragedi sepakbola dan diharapkan tidak sampai terulang kembali ke depan.
Diakuinya, pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari pertemuan dirinya dan Bupati Malang bersama keluarga korban, sekitar 1 tahun 9 bulan yang lalu. Tepatnya pada tanggal 28 Mei 2024 di Aula Mapolres Malang, silam.
”Namun saat itu masih belum ada kesepakatan, terkait bagaimana nantinya museum tersebut baik pada pengelolaannya maupun pengisian barang yang punya sejarah, yang nantinya bakal ditempatkan pada museum.”
“Waktu pertemuan itu, ada kesepakatan, nantinya akan ada monumen dan museum saat dilakukan renovasi, tujuannya adalah keluarga korban saat lakukan doa ada tempat. Biar keluarga korban punya simbol sendiri, yaitu monumen dan museum yang ada di gate 13.”
“Pada pertemuan itu sudah ada kesiapan keluarga korban, akan mengisi museum dengan foto foto korban dan barang barang milik korban yang ada dilokasi kejadian,” kata Kombes Putu Kholis.
Museum Tragedi Kanjuruhan sendiri, terletak di Gate 13 (Pintu 13) Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Merupakan ruang memorial yang didedikasikan untuk mengenang 135 korban jiwa dalam tragedi memilukan pada 1 Oktober 2022.
Pintu ini sengaja dipertahankan bentuk aslinya dan tidak diubah secara drastis selama proses renovasi stadion untuk menjaga nilai sejarah dan sakralnya.
Gate 13 dipilih sebagai lokasi museum, karena area ini menjadi titik paling kritis dan saksi bisu di mana banyak penonton terjepit dan kehilangan nyawa saat mencoba menyelamatkan diri dari gas air mata.
Museum itu sendiri dibangun atas permintaan keluarga korban dan Aremania sebagai pengingat agar tragedi serupa tidak pernah terulang lagi dalam sejarah sepak bola.
Nantinya, pengelolaannya dilakukan secara bertahap bersama Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan. Museum ini dirancang untuk berisi foto-foto para korban, sepatu, syal (syal Arema), jersey, dan barang-barang pribadi lainnya yang ditemukan di lokasi kejadian.
Juga ada nama-nama ke-135 korban terpampang di dinding sebagai bentuk penghormatan abadi.
Beberapa sudut menampilkan ornamen dan coretan dinding (mural) seperti tulisan “Usut Tuntas” dan “Selamat Jalan Saudaraku” yang dibuat oleh para suporter pasca-kejadian. Termasuk ada ruang doa, yang akan menjadi tempat bagi keluarga korban dan peziarah untuk memanjatkan doa, terutama menjelang peringatan tahunan tragedi tersebut. (PKP/Ra Indrata)




