Mall Manager Malang Town Square, Agus Saputra. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Malang Town Square (Matos), memiliki sejarah panjang sejak beroperasi pada 2005 lalu. Tepatnya saat Kota Malang masih di bawah kepemimpinan Wali Kota Peni Suparto. Hingga kini terus eksis bahkan semakin berkembang, karena selalu bisa memenuhi keinginan pasar.
Mengambil segmentasi mahasiswa dan dewasa muda, Matos bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan simbol pergeseran gaya hidup modern di Kota Malang, sejak awal milenium.
Bahkan hingga saat ini, Matos terus beradaptasi di tengah persaingan ketat dengan mal baru atau mal lainnya di Kota Malang.
“Kami memang terus melakukan pembaruan besar-besaran pada bauran penyewa (tenant mix). Banyak gerai kuliner kekinian dan self-photo studio, yang kini mendominasi lantai dasar dan area lobi,” ujar Mall Manager Malang Town Square, Agus Saputra, Kamis (26/2/2026) malam.
Tak heran jika saat ini, manajemen di bawah kepemimpinan Direksi Fifi Trisjanti, berani mematok target pertumbuhan omzet yang signifikan, seiring dengan pulihnya sektor pariwisata Malang yang menembus angka 3,4 juta wisatawan per tahun.
“Anda bisa melihat sendiri, mungkin kami masih menjad satu-satunya mal yang pengunjungnya tetap stabil. Meski ada yang sempat menulis Matos sekarang sepi, itu karena mereka tidak melihat lebih jeli dan teliti,” tegasnya.
Disebutkan, di Matos banyak tenant atau resto yang memiliki luasan cukup lebar. Seperti Hypermart dan Matahari Department Store, dengan luasan ribuan meter persegi. Bahkan mencakup hampir satu sayap bangunan di lantai tertentu.
Untuk restoran dan kafe (casual dining) bermerek nasional saja, memiliki luasan hingga 300 meter persegi. Agar bisa menampung area dapur dan seating area. Bahkan gerai gaya hidup besar seperti Oh!Some, yang baru buka gerai awal 2025, luasannya mencapai 1.042 meter persegi.
“Pengunjung mal banyak yang berada di dalam resto, department store, bioskop atau tenant-tenant lain yang memang bisa menampung banyak orang. Jadi di sepanjang jalan seperti tidak terlihat ramai yang lalu lalang. Padahal ribuan pengunjung bisa menumpuk pada salah satu tempat tersebut,” tegas Agus Saputra.
Karena itulah, tegasnya, banyak tenant-tenant besar yang masih bertahan mulai awal Matos beroperasi, hingga saat ini. Sementara di mal lainnya, justru banyak yang ditutup. Seperti contohnya hypermart dan Matahari, yang sudah ada di Matos sejak 2005 lalu.

FASILITAS UTAMA: Toilet anak dan ruang laktasi yang disiapkan khusus Matos, untuk pengunjungnya yang memang sesuai segmen mal di bawah manajemen Lippo Mall ini. (Foto: Istimewa)
Yang menarik lagi, sejak 2023 lalu, Matos secara resmi dinobatkan sebagai satu-satunya pusat perbelanjaan di Kota Malang, yang menerima predikat ‘Mal Ramah Anak’ dari DP3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana).
Predikat itu cukup wajar, karena di mal yang mulai beroperasi pada 2 Juli 2005 itu, memiliki fasilitas yang tidak hanya ada, tetapi juga terawat dan mudah diakses. Seperti ruang laktasi (nursery room), yang tersedia di beberapa titik dengan standar kenyamanan yang baik (sofa, wastafel, dan area privasi).
Disiapkan juga toilet khusus anak. Lengkap dengan wastafel dan urinoir dengan ketinggian yang disesuaikan untuk anak-anak, sehingga mereka bisa belajar mandiri.
Selain tempat bermain berbayar (seperti Timezone), Matos sering menyediakan area duduk atau space terbuka yang aman bagi anak-anak untuk sekadar bergerak.
“Kami juga sering membuat even atau aktivitas yang menyasar anak-anak. Seperti lomba mewarnai dan menggambar tingkat TK/SD. Pertunjukan seni sekolah dan edukasi literasi. Serta even musiman bertema anak-anak, seperti Meet & Greet karakter kartun,” jelas Agus.
Bahkan untuk mempertegas posisinya sebagai Mal Ramah Anak, Matos memiliki standar prosedur (SOP) yang jelas untuk perlindungan anak. Misal, adanya peringatan visual dan petugas yang sigap mengawasi area berisiko bagi anak-anak. Juga staf keamanan memiliki prosedur cepat, jika ada laporan anak terpisah dari orang tuanya di area mal.
“Kami juga menerapkan kawasan tanpa rokok yang sangat ketat di dalam gedung. Udara yang bersih di dalam area mal, menjadi poin krusial bagi kesehatan pernapasan anak-anak. Karena hal ini menjadi salah satu syarat utama penilaian Mal Ramah Anak,” tandasnya.
Karena itulah, meski banyak mal baru bermunculan, Matos tetap memiliki banyak keunggulan. Diantaranya dalam hal aksesibilitas transportasi umum (angkot) dan kedekatannya dengan gerbang masuk kampus, yang menjamin aliran pengunjung tetap stabil sepanjang tahun. (Ra Indrata)




